Ketika Jalanan Bercerita (Bagian 2)

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 September 2016
Ketika Jalanan Bercerita (Bagian 2)

Sebagus apapun jalanan dibuat tidak ada yang selalu mulus tanpa ada kecacatan sedikitpun, karena Tuhan memberikan kodrat kepada semua aspek kehidupan ini dengan ketidak sempurnaan. Apalagi karya manusia, jelas sekali peluang untuk ‘tidak baik’ itu ada. Perlu dicatat bahwasaannya benar itu selalu berdampingan dengan salah, kurang itu bersanding dengan lebih, manis selalu diiringi dengan pahit, begitu pula dengan sukses selalu ada gagal yang menemani. Hidup itu bagaikan jalanan. Tiada yang selalu lurus, tidak memberikan kepastian untuk mulus, tak jarang juga selalu menemui lika-liku dan goncangan. Kalian tahu kehidupan jalanan itu terlalu keras untuk dihadapi oleh siapapun, sekalipun seorang sopir atau kernet yang menyusuri bangunan beraspal selama berpuluh-puluh tahun. Ada dua modal besar sebelum kita memutuskan melawan angkara jalan raya. Sebuah keberanian dan sepotong keyakinan adalah pedoman untuk memenangkan pertarungan. Berani untuk berkonsentrasi sekian menit dan tak pernah takut untuk dikepul asap oleh kendaraan lain, kedua harus ada keyakinan bahwasaannya kita akan sampai pada tujuan sesuai apa yang ditargetkan serta tak lupa Tuhan akan memberikan keselamatan selama nyawa sedang bertarung dengan puluhan lawan kendaraan.

Hidup tak kalah jauh dengan irama jalan raya, kawan. Kita butuh keberanian untuk memilih sebuah keputusan menjadi orang bahagia atau mati tragis dalam kesengsaraan? Mungkin memilih istimewa atau biasa saja? Jika ingin bahagia kita harus menerima kemungkinan terkepul asap, berani memutuskan menarik pedal gas lebih kencang dari biasanya, dan menerima resiko dari kecepatan yang tertera dalam spidometer. Yah, begitulah. Keteguhan hati itu perlu karena kegagalan siap menghadang siapa saja yang memiliki niat. Berjalan lebih cepat artinya kita bisa mencapai mimpi dengan segera sehingga kita harus berani menerima resiko karena kemungkinan jatuh itu lebih tinggi lagi. Satu hal yang menjadi ambisi manusia yakni hidup itu berbicara tentang posisi. Keburukan motor selalu menyelip sana-sini, saling mendahului entah itu sesama motor ataupun truk gandeng siap ia lawan untuk mendapatkan posisi terdepan. Banyak motif yang melatarbelakangi hal tersebut bisa saja karena si pengendara dikejar waktu atau menunjukkan betapa gagahnya Ia naik diatas motor super keren. Tak jauh dari kehidupan, ada banyak faktor yang membuat kita berambisi menjadi yang nomor satu mungkin saja ingin lebih sampai pada tujuan yaitu cita-cita atau sekedar ketenaran yang menyilaukan nama dihadapan orang lain. Coba tanyakan itu kepada diri Anda.

Modal kedua adalah keyakinan. Dalam perjuangan meraih mimpi keyakinan adalah unsur yang urgent agar diri ini tetap berani melangkah walaupun telah terkapar berkali-kali. Menguatkan diri dengan semua keadaan yang melemahkan jika semuanya hanya sementara dan keadaan akan berpihak pada kebahagian yang hakiki. Cinta dunia itu memang tiada yang abadi tapi sebuah keyakianan yang menciptakan sebuah keikhlasan yang membawa kita pada masa kehidupan terindah yang lebih haq.

Waktunya mengambil keputusan menjadi apa kita satu detik kedepan. Biasa atau luar biasa? Ingat harga hidup sama saja antara orang yang melakukan kerja keras atau mereka yang bekerja ala kadarnya. Setelah itu bungkuslah segumpal keputusan itu dengan keyakinan bahawa Tuhan akan memberikan keajaiban-Nya dengan cara terindahnya. Lets to be better. #iramaJalanan

Banyuwangi, 25 Maret 2015

  • view 163