Pengamen Berpuisi

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Pengamen Berpuisi

 

Setapak langkah berderap kaku membuat segala aroma pagi tak lagi segar seperti biasa. Secerca cairan merah membasahi warna tubuh yang entah harus terlihat putih atau malah pucat pasih. Degup jantungnya semakin cepat menggiringi segala pelarian yang ia lakukan untuk kesekian kali. Ia ketakutan, sebagian pandangannya sudah buram oleh cairan yang terus mengalir tiap inchi wajahnya.

            Di ujung yang lain tiga anak seusianya terus berlari mengikuti jejak darah yang membekas dipinggiran aspal. Jelas ini adalah petunjuk yang memudahkan mereka untuk menangkap mangsanya dengan segera.

            “Mati pokoknya! Gue bakalan mati, kalau tuh bocah nggak ketemu juga.” Lelaki berbaju cokelat kelabu itu terus mengupat dengan pandangan yang terus awas dengan lingkungan sekitar.

            Sedang yang lain tidak peduli dengan umpatannya, meskipun dihati masing-masing disibukan dengan perasaan khawatir bersimbah rasa geram untuk menemukan seseorang yang mereka sebut ladang ilalang pembawa uang.

            Ria terus berlari tanpa memperdulikan rasa nyeri didahi. Pandangan orang-orang menjadi tidak penting karena jelas sekali mereka tidak peduli. Lalu Ria memilih belok di sebuah gang kecil menuju pasar. Aroma anyir buangan air ikan, tumpukan hasil laut yang siap jual, genangan sisa hujan yang tak mau surut, juga darah yang tak kunjung kering. Ria berlari satu langkah, dua kali dan ia ulangi lagi hingga terseok-seok melewati segerombolan ibu-ibu yang hendak memilih barang belajaan. Diantara perbatasan lapak tukang penjual ikan dan tukang sayur, Ria berhasil bersembunyi disebuah meja tak berpenghuni.

            Diatur ritme napasnya untuk menjaga jantungya tetap berdetak dengan normal. Ia bersandar menahan nyeri disekujur tubuh. Sapu tangan berwarna biru langit makin terlihat buluk saat tangannya menengadah pada tetesan air diujung atap lapak. Kemudian ditempelkannya pada luka, ia meringis perih, menggigit kerah bajunya, dan menutup mata dengan memaksa.

            Semuanya memang bukan pilihan yang terbaik. Namun, rasanya tak ada pilihan lain bagi anak yang hidup sebatang kara seperti dirinya. Sejak ditinggal mati ibunya, Ria memilih beralih profesi dari tukang bantu potong ayam jadi pengamen modal kertas lusuh demi mendapatkan perlindungan. Profesi awalnya tak dapat menjamin apakah ia mampu bernapas dengan baik tanpa ada seorang pun yang membelanya didepan preman pasar. Alhasil, Bang Jo menjadi sandaran meskipun Ria sangat mengerti sudah banyak anak seusianya berubah cacat sana-sini akibat berusaha kabur setelah mengetahui susahnya mengikuti aturan penguasa penjahat pasar.

            Dan hari ini dia merasakan kepedihan itu. Bukan karena lelah di eksploitasi berlebihan. Itu bukan alasan tepat, dia sudah terbiasa bekerja melewati batas kemampuan anak seusiaya. Apalagi masalah pembagian uang. Hatinya tak memperdulikan itu meskipun kenyataanya teramat mengerikan. Jatahnya hanya dua puluh persen dari total penghasilan tiap hari. Bisa dibayangkan isi perut Ria hanya mampu terisi bungkul singkong goreng yang tak laku jual. Dan semuanya bukanlah alasan mendasar tragedi minggu ini.

            Pilihan melarikan diri terilhami dari hari yang lalu, saat dia lari terbirit-birit mengejar bus kota tanpa alas kaki. Kakinya melepuh dan hampir saja bosok bersimpuh darah sebelum mendapati sandal biru tua dibawah kemudi sopir. Hari itu hati sopir sedang berlapang dada selain memberi ruang untuk mendebatkan isi hati Ria dengan kehidupan tragisnya. Melawan cuaca, berderu menyaingi suara knalpot yang mulai alot, juga setumpuk kertas yang ia kantongi dengan tas kresek berwarna biru garis hitam. Berbeda dengan jenis pengamen lainnya. Ria mejual ide—sebut sopir berbadan tambun dengan senyuman khas orang Jawa Tengahan itu.

“Selamat menikmati perjalanan bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak dan saudara-saudara sekalian. Saya hanya ingin berpuisi, menyampaikan kata-kata yang muncul di otak saya. Jika Anda sekalian berkenan, taruhlah uang recehan Anda dalam katong plastik saya. Anggap saja Anda sedang membaca puisi di koran tapi disampaikan dengan cara berbeda.” Begitu cara dia bermukadimah sebelum puisinya ia lantunkan dengan saksama.

Tak sedikit penumpang dibuat heran, berkerjap haru, juga iba, namun cukup banyak pula orang yang mengacuhkan—macam pekerjaan pengamen kebanyakan. Namun, tidak untuk bapak sopir ini, sekian kali Ria berhasil mendapatinya berlinang air mata, kemudian mengisi kantong plastiknya dengan dua lembar uang lima ribuan. Mulutnya tak pernah mengucapkan sesuatu, hanya tersenyum kemudian mengisyaratkan Ria jika ia harus melaju lebih jauh. Pernah pada suatu ketika, dia menemui Ria dan mengajak minum es campur diluar terminal. Tak banyak yang mereka obrolkan. Ya, sang sopir hanya mengajukan pertayaan standar pada seorang pengamen kebanyakan, tentang alasan mengamen, dimana ia tinggal, status sebagai siswa atau bukan, tentunya pertanyaan mengapa ia memilih puisi daripada cara mengamen pada umumnya.

Alasannya sederhana. Yang Ria bisa hanya berpuisi, mau menyanyi buta nada, mau nari juga tak mungkin—badannya terlalu kaku untuk berliuk-liuk kesana-sini. Apalagi jadi asongan itu khayalan tingkat tinggi, mana mungkin Bang Jo mau memberi modal pekerjaan macam demikian. Kenyataanya cara seperti itu malah berdampak pada penghasilannya yang lebih banyak dari kawan sekelompoknya.

“Sudah pernah kirim ke koran atau majalah nak?”

“Tidak berani, Pak.” Jawab Ria lesu.

“Kalau begitu tempel saja di majalah dinding perpustakaan daerah.”

“Tidak berani juga, Pak”

“Kalau begitu kasihkan Bapak saja, mungkin bisa menghasilkan uang.”

Ria memasang wajah innocent, tanpa berkomentar apapun. Ia menyerahkan sebandel kertas yang diikat dengan tali kemudian digabungkan dengan kertas-kertas berikutnya hingga menjadi jilidan buku yang tak jelas bentuknya, “nanti saya bisa buat lagi.” Serunya tersenyum antusias.

Setelah dua minggu dari pertemuan itu, akhirnya Ria dapat kembali menemukannya. Masih seperti biasa. Sang sopir tak banyak bicara. Tersenyum sambil melempar sandal didepannya. Ria bingung, tapi bapak itu malah memberinya kantongan kresek hitam dan menyuruh segera turun sambil memakai sandal pemberiannya. Sekarang keadaan berbalik, sopir itu jadi bertelanjang kaki.

Sebungkus nasi campur  membuat Ria tersenyum lembar. Ada amplop coklat berisi uang tiga ratus lima puluh ribu dan selembar majalah yang dilipat kasar. Sel otak didalam kepalanya menyambung begitu cepat, ia segera paham bahwa bapak sopir itu telah mengirimkan puisinya di sebuah redaksi majalah. Juga ada sepucuk surat dengan tulisan khas tangan orang-orang pekerja kasar.

Pergilah ke alamat ini.Rubahlah nasibmu, nak.

Maaf Bapak tidak bisa bantu banyak

Dia berpikir sejenak, sedikit ragu namun penasaran, lalu ia bangkit dengan segera mencari alamat yang tak asing lagi. Tentu harapannya sudah melambung tinggi. Kehidupan yang lebih baik seakan sudah didepan mata. Belum rampung memaksimalkan mimpi, Ria sudah dituduh habis-habisan menghianati kelompok. Dua orang anak buah Bang Jo berhasil membatalkan rencananya ketika sudah mencapai gerbang kantor redaksi. Lalu, ganggang sapu menjadi hadiah di bagian betis kanan dan kiri Ria. Ia tak melawan juga tak membela diri, padahal biasanya dia yang paling berani menjawab omongan Bang Jo meskipun setelah itu ia dicerca habis-habisan.

Bukannya kapok, Ria malah memilih lari dari markas yang berada di reruntuhan ruko berstatus sengketa. Tengah malam makin kelam, sayang langkahnya jauh kalah cepat dengan lelaki jakung yang dikerahkan Bang Jo. Ia tertangkap, dan kembali dipukuli hingga menjelang pagi. Tak puas dengan pernyataan anak buahnya, Bang Jo mengintograsi dengan cara intimidasi yang mencekam. Berbagai pertanyaannya tak kunjung mendapatkan jawaban. Ria memilih diam. Ketika preman berpawakan tinggi besar ini merasa otaknnya dipenuhi rasa jengkel, ia memilih pergi ke atas plavon sambil meneguk minuman beralkohol sampai tak sadarkan diri.

Menyadari diri sudah aman, Ria kembali pergi, namun kembali berhasil dihadang. Didorong tubuh Ria yang kurus, ia limbung kehabisan energi. Kepalanya membentur dinding yang batakonya menganga lebar. Kepalanya bocor, membuatnya semakin pening. Ia bersimpuh sambil menahan kepalanya agar tak jatuh. Trik itu lumayan mempan membuat dua orang ini pergi dan tak memperdulikan Ria yang hampir hilang ingatan.

Ajaibnya setelah membuka mata lebar-lebar, satu kekuatan untuk kembali lari membuatnya mampu kembali berdiri dan akhirnya berhasil mencapai tempat yang ia rasa sudah cukup aman untuk kalangan jenis preman level kacangan yang mengejarnya tadi.

            Sekujur tubuhnya terasa remuk, kepalanya berat luar basa. Bumi serasa berubah tak memiliki efek gravitasi, ia rasa tubuhnya melayang begitu jauh. Sungguh sangat ringan. Kemudian tak ada lagi bayangan yang dia ingat.

***

            Saat hidup adalah sebuah transformasi menyelesaikan satu masalah dengan yang lain, maka Ria sudah masuk dalam kategori sempurna hidup di dunia fana. Ia tersenyum simpul, senyuman yang sudah biasa. Yang ia lihat serasa sempurna, sebuah tempat tinggal yang dihiasi atap bersuasana sejuk. Badannya juga tak merasa menggigil seperti halnya malam-malam sebelumnya. Apa mungkin ini yang disebut surga? Namun, mengapa betisnya masih terasa kaku luar biasa? Lalu luka di dahinya masih terasa perih saat ia sentuh dengan kasar.

            Suara gesekan antara sendok dengan permukaan kaca memecah keheningan dalam otaknya. Ia masih binggung sedang berada difase yang mana? Pada dunia yang mana lagi yang perlu ia lewati? Mungkinkah setelah ia menyadari dan memahami keadaanya dengan tuntas hidupnya akan lebih baik atau malah lebih buruk dari sebelumnya? Entahlah, sampai detik ini ia masih diliputi tanda tanya.

            Mulut Ria terus berdesis melafalkan sesuatu, tidak begiu jelas tetapi cukup memberi kekuatan dalam ketakutan. Bayangan muka Bang Jo yang menyeramkan masih cukup mendominasi. Ia terus bergumam hingga pintu didepannya terbuka dengan sendirinya. Seseorang menatapnya antusias. Baru kali ini Ria merasa dianggap setelah ditinggal ibunya menghadap Tuhan.

            Ria belum berkomentar apapun, seseorang didepannya mengacungkan segelas teh yang ternyata asalanya bukan dari surga. Tapi dari sebuah tangan kasar yang penuh kelembutan. Pemiliknya tersenyum memberikan harapan. Ada setitik cahaya bagi Ria untuk kembali bermimpi, lalu melanjutkan dengan usaha dan doa agar terwujud dengan sempurna.

            “Bapak, tolong jadikan saya anak Bapak.”

            Berlinang air matanya, Bapak bertubuh tambun itu tersenyum penuh iba, memeluk Ria seperti seorang Ayah yang baru menemukan anaknya yang telah lama menghilang.

 

  • view 201