Saat Tim Tak Sejalan

Nurina Maretha Rianti
Karya Nurina Maretha Rianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Agustus 2016
Saat Tim Tak Sejalan

Saat tim tak sejalan,

Semuanya seperti muatan-muatan yang bertabrakan pada suatu sistem, akar permasalahan sulit untuk dipecahkan, aku lebih suka pergi.

Pergi untuk bertapa dan kembali dengan hati yang lebih dingin.

 

Ini yang sebenarnya aku rasakan.

Ditengah keriuhan kota metropolitan dengan segala permasalahannya.

Tidak ada masalah yang menarik untuk kutulis, karena itu permasalahan mereka, bukan permasalahanku.

Permasalahanku sesungguhnya berada di kota lain yang sedang aku tinggalkan, bersama dengan orang-orang kepercayaan yang entah bisa kupercaya lagi atau tidak.

Aku seorang pimpinan,

Senang? Tidak!

Teringat betapa acaknya aku terpilih, walaupun tetap ada prosedur.

Sepenuh hati menginginkan tempat ini tetap hidup, namun terkadang rasanya setengah hati menjalani.

Sejak saat itu hingga kini, aku masih merasa tak memiliki kekuatan untuk mengerahkan mereka semua agar bersama-sama hidup.

Harapan muncul,

Saat kubilang tempat ini tak baik-baik saja, aku tak mau memimpin kalau setiap dari mereka tak mengiringi. Aku tak ingin tempat ini mati di tanganku.

Mereka tersentuh, setidaknya hingga beberapa waktu setelah kalimat itu keluar dari mulutku.

Ya, hanya beberapa waktu setelah pernyataan itu keluar. Masa jenuh itu bukan lagi hantu yang hanya dapat kubayangkan, tapi dia benar-benar datang.

Seorang rekan berkata padaku, “Hanya kamu yang dapat menyebarkan mimpimu. Jangan pendam sendiri apa yang diresahkan, ceritakan pada kita semua.”

Bahkan dia yang bilang seperti itupun kini  pergi memimpin tempat yang lain.

 

Rasanya terkadang seperti berjuang seorang diri.

Namun pada saat seperti itu, bukan mereka yang salah, aku yang salah tak dapat mengoptimalkan kinerja mereka. Tak pernah bisa kembali mempercayakan saat sedikit saja pernah dikecewakan.

Bukan sejahat dendam, hanya tidak percaya saja.

Aku senang berada disini,

Bukan karena jabatan ini membesarkan namaku.

Sungguh, tanyakan pada pimpinan-pimpinan tempat lainnya, apa mereka mengenalku? Kurasa tak banyak yang menjawab ‘iya’, aku tak pernah terlalu vokal dan berkata bahwa aku adalah seorang pimpinan di setiap forum.

Aku senang berada disini, karena kebutuhan pribadiku. Tempat ini mengabadikan namaku sendiri karena aku mulai terbiasa menulis.

 

Kini, aku pergi ke kota lain. Bukan suatu pilihan, tetapi suatu kewajiban.

Kupercayakan beberapa proyek kepada orang-orang yang tinggal.

Inilah seburuk-buruknya hal yang aku lakukan sebagai pimpinan.

Bukan soal rasa kepercayaan lagi.

Tapi karena tak berada dalam sistem dan tak ikut mengerjakan. Hanya dapat mengamati dan bertanya dari jauh, seolah meneror mereka setiap harinya.

Pimpinan-pimpinan lain di tempat ini yang sedang sangat aku butuhkan? Mereka juga pergi sepertiku, untuk memenuhi kewajibannya.

Aku bisa apa? Meninggalkan staf-staf dan penanggungjawab dengan tiga proyek yang berbeda tak dapat diintegrasikan. Yang masing-masingnya membutuhkan perhatian.

Sedangkan aku perlu membagi kasih. Satu proyek menuntut banyak perhatianku karena kekacauannya, proyek lain yang diurus baik juga tetap menuntut perhatian karena masalah eksternal yang tak dapat dikendalikan.

Bodohnya, aku tak sehebat teman-temanku yang memimpin di tempat lain.

Ada seorang mentri yang bisa berada di banyak tempat. Sedang ramai dibicarakan kampus, karena rumitnya sistem yang membelenggunya untuk hanya memilih satu. Kalaupun terdengar mustahil, tapi aku yakin untuk orang seperti dirinya hal itu akan nampak mudah.

Aku juga tak sehebat pimpinan di tempat seharusnya aku berada. Yang selalu bepergian ke seluruh penjuru dunia, namun organisasi dan akademiknya tetap sempurna.

Aku bukan tak bisa seperti mereka, aku sedang belajar namun masih belum ahli.

Kuceritakan seluruhnya pada sahabat sekaligus kakakku. Seorang yang setahun lalu pernah merasakan berada di posisiku.

Pemilik Pengantin Mesin dan penulis sehebat dirinya, ternyata pernah bergerilya seorang diri mengurus organisasi lain.

Dia bilang, “Kamu pemimpin, kelak akan terus menjadi pemimpin. Melepas satu amanah, menjemput amanah yang lain. Kalau ditengah jalan sudah menyerah, bagaimana dengan kader-kadermu?”

Bukan menyerah, aku hanya terpaku. Menyerah artinya berhenti, dan aku ingin terus melanjutkan, bahkan pada saat orang-orang sekitarku memperingatkan untuk cepat turun.

 

Saat tim tak sejalan,

Aku ingin segera kembali, kembali ke bumi manusiaku yang sesungguhnya. Merindukan segala permasalahannya yang harus segera dirampungkan.

Jakarta, 2016

  • view 271