Pertengkaran Otak dan Hati

Nurina Maretha Rianti
Karya Nurina Maretha Rianti Kategori Renungan
dipublikasikan 07 Juli 2016
Pertengkaran Otak dan Hati

Terasing di tengah keramaian hari raya. Hatiku memang ingin disini, dia senang melihat sanak saudara bersenda gurau. Tapi otakku rasanya ingin membawa pikiranku berkelana jauh. Hatiku menangis, dia sebenarnya tak menginginkan pertengkaran ini, dia lelah berdebat dengan otak. Selalu seperti itu. Hati ini, terkadang apa yang diinginkannya hampir selalu baik. Tapi dia yang lebih sering kalah atau mengalah kepada otak. 

Hati dan otakku, seperti sepasang suami istri. Hati adalah wanitanya, otak adalah lelakinya. Hati ini tak konsisten, terlalu banyak pertimbangan dalam memutuskan, terlalu banyak toleransi terhadap kesalahan. Sedangkan otak ini, dia keras, teguh, diktator, dan pengatur. Seorang sahabat pernah bilang padaku, cinta itu tidak buta, tetapi melumpuhkan logika.  Tentu saja, apa yang dilihat terkadang turun ke hati yang tak dapat memutuskan, tetapi apa yang kita lihat itu merangsang otak kita untuk bertindak. Terang saja otak ini selalu menang, dia yang mengatur, dia yang memiliki reseptor dan neorotransmitter untuk setiap rangsangan sehingga dapat memberikan keputusan. Terkadang berkhayal tak wajar saat terlalu banyak dopamin yang dikeluarkan. Kalau otak ini lamban memberi keputusan, semuanya karena hati yang terlalu banyak memberi pertimbangan. Sungguh, seperti seorang suami yang mempertimbangkan perkataan istrinya untuk membuat keputusan.

Terkadang hati memberi pertimbangan yang buruk, terkadang hati memberi pertimbangan yang baik. Terkadang  otak menuruti,  terkadang otak juga membangkang. Tak ada yang benar dan salah antara otak dan hatiku, yang ada hanya buruk dan baik.

Mereka sering bertengkar saat aku diberi amanah jabatan. Hati ini berpikir keras mencari alasan mengapa aku harus menerima jabatan ini. Jangan sampai otak begitu cepat memutuskan hanya karena nafsu akan jabatan. Aku pernah diajak menjadi politisi, aku pernah terlena saat aku menjadi mata-mata untuk memperoleh kebenaran  yang ingin kutulis untuk pers tempatku bekerja.  Otakku berpikir keras mempertimbangkan apa-apa yang dikatakan hati. Hati memberikan lima alasan untuk menolak ajakan itu. Intinya, aku masih ingin menulis sebebas-bebasnya, tanpa dipengaruhi politik tempat aku menjabat nantinya. Menjabat di pers, batasan pun masih memberiku ruang untuk menentukan sikap secara tersirat. Disini, aku berada di udara, tidak setegak langit, dan tidak setunduk bumi. Di udara aku bisa bepergian ke langit, aku juga bisa bepergian ke bumi.

Mereka sering bertengkar saat aku sedang menulis. Apalagi saat aku menulis untuk pers tempatku bekerja. Hati ini sangat ingin memihak kaumku. Beberapa berita yang kutulis sungguh mengusik hatiku untuk ikut memberi sikap. Tapi sayangnya otak ini tak mengizinkan. Otak tak mengindahkan keinginan hatiku, dia hanya peduli agar citraku dan citra pers ini tetap baik. Seseorang pernah bilang, apa yang kita tulis dari hati, maka akan sampai kepada hati pembaca. Tapi pujian atas tulisanku itu hanya sebatas kata di bibir, bibir yang diperintahkan otak untuk berkata, tidak benar-benar menyentuh bahkan mengetuk pintu hati pun tidak. Jika tulisan itu mendapat banyak pujian dari masayarakat, sungguh sebenarnya hati ini rapuh karena kelakuan sang otak.

Mereka juga sering bertengkar saat aku dikecewakan. Hati ini sungguh ingin berbesar hati, menerima dan memaafkan mereka yang mengecewakan. Tapi otak ini memberikan respon marah dan kesal, agar aku tak terlihat seperti pribadi yang lemah. Kali ini hatiku ikut marah kepada otak. Amarahku berlipat ganda karena keduanya saling bersinergi untuk berbuat buruk.

Entah, entah apa yang bisa menahan meraka. Bukan diriku lagi yang dapat melerai mereka. Berhenti sudah pertapaan dan meditasi ini. Sudah selesai keterasingan ini. Aku kembali ke keramaian, diam-diam mencari orang yang dapat menahan redaman amarah hati dan otak ini. Di tengah perjalanan menuju keramaian, seorang mengingatkanku pada sebuah pesan dari Ali bin Abi Thalib, "Aku pernah merasakan kepahitan hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia."

Aku menangis. Entah, tak tahu lagi, otak ini memerintahkan keluarnya airmata atas pertimbangan dari hati atau kehendaknya sendiri. Entah, mereka sudah bersinergi untuk berbuat baik atau belum. Sejak berada di perantauan, banyak yang tak dapat kulakukan seorang diri, karenanya aku banyak berharap pada orang lain. Tak seperti dulu, semuanya dapat kukerjakan sendiri, tanpa mengharap imbalan atau sekedar pujian apapun dari yang lain.  Apa usahaku tak maksimal sejak di perantauan? Pada akhirnya, aku menyalahkan diriku. Tapi apa bedanya kecewa terhadap diriku sendiri dengan kecewa pada orang-orang di sekitarku yang dulu aku percaya? Keduanya sama-sama membuat hati dan otak ini marah. 

Seseorang mengingatkan lagi, saat aku kecewa, berarti aku tak menerima hasil yang telah Allah berikan. Itulah yang membuatku merasa hatiku ini seperti membusuk. Bagaimanapun, hati ini yang merasakan kecewa, otak hanya menentukan sikap. Hati, labilmu itu seperti bumerang, kau sendiri yang akhirnya merasa sakit. Otak, ambilan keputusan dengan bijak, aku tak ingin kau tak sehat bahkan lumpuh seperti kata temanku.

Banyak teman bilang, wajar tegas  saat memimpin, kamu memang perlu tegas. Tapi, saat aku marah pada orang-orang di sekelilingku, orang-orang yang aku sayangi, orang-orang yang aku percayai, orang-orang yang sebenarnya banyak membantuku, seolah nila setitik rusak susu sebelanga. Sebenernya diriku sendirilah yang ada berada dalam masalah, bukan mereka yang benar-benar bersalah. Hati dan otak ini sedang bertengkar untuk menentukan sikap, bukankah benar adanya kalau pertempuran sebenarnya dalam hidup kita adalah pada saat hati dan otak ini bertengkar?

Jakarta, 2016

  • view 822