Kembali Lagi

Kembali Lagi

Nurina Maretha Rianti
Karya Nurina Maretha Rianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Juni 2016
Kembali Lagi

"Kau punya seseorang yang sangat menginspirasimu?" tanyaku tanpa basa-basi bertanya kabar sekembalinya dari perantauan.

"Tidak," jawabnya singkat.

Kecewa mendengarnya, bukan itu jawaban yang kuharapkan, "Maksudku, kau juga kan menulis. Buku-buku bacaanmu itu karangan siapa? Sedikit banyak pasti tulisanmu memiliki gaya yang sama dengannya kan?"

Dia hanya tersenyum, dan selalu tahu kalau setiap mengobrol denganku, aku akan mulai dengan ketersiratan. Selalu tak paham arah pembicaranku. Kami tak saling kesal. Tentu saja, aku sadar, aku memang bukan orang yang biasa bicara langsung pada intinya. Bukankah basa basi itu membuka segala persepsi? Walau sesekali ingin mendoktrin mereka, menginginkan mereka memiliki sikap yang sama sepertiku, tapi aku tetap suka dengan indahnya beragam sudut pandang.

Tapi tak apa katanya. Katanya, caraku ini cantik. Menulis dan berceritalah dengan tersirat, karena pembaca dan pendengar tak ingin dianggap tak cerdas. Mungkin aku memang sering gelisah karena mutu masyarakat di bidang literasi sekarang sedang menurun, berbarengan dengan turunnya mutu jurnalisme. Bukan hanya jurnalisme dari orang-orang profesional, tapi mereka semua yang sekarang bisa menjadi jurnalis, lewat akun-akun media sosial pribadinya. Tapi tak apa, katanya lagi. Masih ada orang-orang bermutu yang ingin membaca tulisan-tulisan bermutu. Seperti dirinya.

Dia juga tahu, saat aku kembali dari perantauan, berarti sedang ada masalah yang hinggap pada diriku. Mendengar pertanyaan pertamaku saat kita bertemu lagi, dia juga tahu kalau aku ingin bercerita, bukan sedang ingin lari sejenak dari permasalahan. Tentunya dia juga tahu, aku ingin persepsi kebenaranku diperjuangkan minimal di hadapannya.

Kembali lagi, dengan pertanyaanku.

Dia suka membaca buku-buku Pram, Kang Abik, Agatha Christie, dan Ilana Tan. Apa penulis-penulis itu satu genre tulisan? Oh sangat jauh berbeda. Karenanya, dia begitu kaya dengan sudut pandang.

"Andai masyarakat kita itu sepertimu," ujarku.

"Lah kenapa?" tanyanya tertawa, dan aku rasa dia cukup tersanjung mendengar pernyataanku barusan.

Dia membuka segala ruang otaknya, menjadi pembaca dan pendengar yang baik. Tidak mentah-mentah menerima sudut pandangku dengan sesekali mendebat. Karena itu, dia bukan orang yang mudah terprovokasi seperti komentator-komentator dunia maya.

Masyarakat kita itu terlalu sensitif mendengar beberapa kata-kata yang kemudian dianggap tabu.  Hingga tak jadi mempelajari beberapa hal itu, dan pandangan kita menjadi sempit. Karena sensitif dan kekhawatiran itu, beberapa film kebangsaan dilarang pemutarannya, banyak buku diberangus. Apa ini suatu penghargaan terhadap karya anak bangsa? Makanya jangan heran, orang-orang yang merantau dari bangsa ini banyak yang tak ingin kembali. Biarkan saja dia tinggal di tempat yang lebih menghargainya. Sesederhana itu.

Lalu soal plagiarisme,

"Kau tahu. Aku baru saja menunjukkan tulisanku pada seorang teman. Belum satu menit kertasku digenggam, dia sudah mengembalikan. Hanya bilang satu kata, plagiat, kemudian pergi. Aku rasa dia hanya baca judulnya, bahkan membaca scanning pun belum. Judulnya memang sama dengan satu novel tanpa aku sadari. Tapi isinya kan berbeda. Apa ini suatu penghargaan? Aku tak butuh penghargaan, tapi aku merasa dipukul sanksi sosial olehnya."

"Jadi ini masalahnya?" tanyanya masih tertawa.

Katanya, aku masih terlalu peduli dengan omongan orang. Saat aku bilang aku tak butuh penghargaan, itu berarti sebaliknya. Biarkan saja apa kata mereka. Jangan jadi penulis sosialita, penulis yang besar karena namanya bukan karyanya. Nama mereka memang besar, dengan seribu like, komentar yang positif, tapi mungkin karya sebenarnya sangat buruk. Jadilah penulis yang abadi karena karyamu, katanya teringat kata-kata Pram.

"Tahu Pram dengan karya-karyanya? Semangatnya menulis di dalam tahanan, di Pulau Buru. Setelah itu buku-bukunya malah diberangus. Tapi ternyata bukunya sudah diterjemahkan ke beragam bahasa. Kini, buku-bukunya menghiasi etalase toko buku besar. Padahal  sebelumnya, aku mencari di toko loak pun susah," katanya.

Dia juga berkata, kembali saja pada rencana awalku. Aku pernah bilang padanya, saat ada tanda-tanda karyaku mulai dipandang banyak orang, aku akan mengganti dan menghilangkan identitasku. Mengganti nama dan tak membiarkan privasiku terungkap, hanya karya-karyaku yang akan konsisten dikeluarkan. Aku tak akan mendapatkan sanksi sosial apapun, baik popularitas hingga hujatan-hujatan.

Soal plagiarisme,

Apa memang ada tulisan-tulisan yang orisinil? Kita berbincang-bincang dengan banyak orang, kita juga membaca banyak karangan penulis-penulis. Sadarkah kita kalau kita juga pencuri? Mengambil sedikit ujar mereka, sedikit gaya mereka, sedikit kisah dalam tulisannya. Menyusun, menggabung-gabungkan dan menyulamnya menjadi suatu karya kita sendiri yang kita anggap orisinil.

"Kau tahu gambar-gambar kolase? Itu bukti kalau kita semua ini mencuri-curi sebagian karya setiap orang untuk menghasilkan karya kita sendiri, kalau kita tak ingin dikatakan sebagai plagiat. Tak ada inovasi yang benar-benar baru, semua inovasi juga berasal dari analisis kondisi.  Kondisi yang sudah ada dalam sejarah. Kita memang kaya diksi, tapi kita hanya punya dua puluh enam huruf, kan? Mau dirangkai menjadi berjuta-juta kata pun, miliyaran dan triliunan kata itu tetap bisa dihitung, terbatas. Jumlah manusia dan karyanya juga sangat banyak dan terbatas, apa semua karyanya terjamah oleh kita untuk menjamin karya kita plagiat atau tidak? Begini saja, aku punya paham kalau plagiat itu mengkopi seluruh karya orang hingga tanda bacanya sama, kau setuju?"

Aku hanya mengangguk dan kembali tersenyum. Inilah alasanku kembali. Tak ada orang sepertinya di perantauan. Oh bukan, mungkin hanya karena aku belum membuka sudut pandangku seluas dirinya.