Berjalan di Perantauan

Nurina Maretha Rianti
Karya Nurina Maretha Rianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Juni 2016
Berjalan di Perantauan

Hari ini hari ke dua puluh tiga di bulan Ramadhan.

Aku mengeceknya dari tulisan yang rutin dikeluarkan Kurniawan Gunadi di tumblr pribadinya sejak hari pertama kita berpuasa di bulan suci ini. Entahlah, sebenarnya aku tak pernah menghitung hari-hari di bulan Ramadhan, baik untuk menanti hari Raya ataupun menghitung seberapa banyak amalan yang telah aku lakukan. 

Hari ini hari ke dua puluh tiga di bulan Ramadhan.

Seminggu lagi kita akan ditinggalkan. Dan aku masih berada di tanah rantau. Rindu pulang sebenarnya, siapa sih yang tak ingin menghabiskan suasana Ramadhan bersama Bapak, Ibu, dan Adik? Tapi apadaya, masih banyak urusan yang perlu diselesaikan disini. 

Sebenarnya, rasanya sama saja. Awal-awal aku masih merasa suasana Ramadhan ini tak beda dengan hari-hari lainnya, dengan segala rutinitasnya. Bahkan disini tak kalah seru. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu mulai Ashar hingga usai taraweh di Salman. Kadang sendiri kadang bersama teman, teman-teman yang berbeda setiap harinya. Kadang direncanakan bertemu, kadang sebertemunya saja. Sendiri pun tak pernah merasa benar-benar sendiri. Berkah Ramadhan, banyak orang berkumpul di Salman, mendengarkan siraman rohani, berbuka bersama, hingga sholat berjamaah. Disana keteduhan hati terasa, ternyata kita ini masih makhluk sosial, ternyata gadjet-gadjet itu bisa sejenak ditinggalkan. 

Saat aku sendiri disini, mengamati mereka saja cukup bagiku. Tak perlu lagi berpura-pura sibuk dengan gadjet , karena mereka pun tak begitu.

Hari ini hari ke dua puluh tiga di bulan Ramadhan.

Aku kembali lagi ke Salman. Suasananya sudah berbeda, koridor nampak sepi. Tapi, mungkin karena aku datang lebih awal, mungkin taraweh nanti masih sama ramainya. Atau mungkin urusan mereka di tanah rantau ini sudah bisa sejenak ditinggalkan? Untuk kembali bersilaturahim dengan keluarga besar, mempersiapkan hari Raya. Entahlah.

Untungnya, aku masih mendengar satu dua orang melantunkan ayat suci kitabku. Segera aku ambil posisi di pinggiran koridor, ikut mengeluarkan kitabku. Tapi kemudian, aku masukkan lagi ke dalam tas. Sebentar saja, aku ingin menulis, ingin kembali sibuk dengan gadjetku.

Hari ini hari ke dua puluh tiga di bulan Ramadhan.

Dan ternyata sudah tiga kali Ramadhan aku sibukkan diriku di tanah rantau ini. Meninggalkan Bapak dan Ibu, untuk katanya meraih cita. Aku memang tak benar-benar meninggalkan mereka, aku masih sangat sering berkunjung. Dan hingga kini, rasanya masih sama, aku belum benar-benar mandiri. 

Abi pernah bilang, "Pantas saja kamu merasa belum mandiri, kamu itu tidak benar-benar merantau. Purwakarta Bandung dekat, satu jam perjalanan juga sudah sampai. Kamu masih bisa sering pulang kalau merasa ada masalah."

Iya, Abi benar. Aku masih sering pulang saat ada masalah. Berjuang di tanah rantau ini tak mudah bagiku, kawan. Banyak kerikil, bahkan mungkin ada ranjau yang tak terlihat saat aku menapaki jalannya. Aku pulang, bukan bermaksud untuk lari dari masalah. Tapi aku ingin sejenak saja lupa. 

Bukan sekali dua kali aku menolak telepon saat aku sedang di rumah. Bukan sekali dua kali juga kadang aku tiba-tiba menangis di rumah. Ibu selalu berkata, "Kenapa sih, kamu sama Bapak itu nggak pernah mau terima telepon kalau lagi di rumah?" Ya, Bapakku juga merantau, bekerja di Jakarta, yang juga sesekali pulang sepertiku mengunjungi Ibu dan Adik. "Kenapa nangis? Kalau kamu di rumah, kamu nggak boleh nangis karena urusan yang disana," sesekali Ibu juga bicara seperti itu.

Ibu, pulang saja cukup bagiku, masalahku lebih kompleks daripada bertengkar dengan Adik setiap aku pulang ke rumah. Kalau aku tak ingin mengangkat telepon, artinya aku ingin lupa sejenak, bukan lari dari masalah, tapi biar mereka yang menunggu hingga aku siap kembali. Lalu jika aku tiba-tiba menangis, aku belum berhasil untuk sejenak lupa dengan masalahku. Tapi, jangan buat aku bercerita, itu akan membuatku semakin ingat. Pulang saja cukup bagiku, tak perlu bercerita. Mengganti suasana suram menjadi sedikit berwarna.

Tapi ya Bu, aku tak menyesal memutuskan untuk merantau tiga tahun yang lalu, tentu saja. Tanah rantau ini menempaku begitu keras, hingga aku perlahan-lahan menjadi tahan banting. Seperti sedang membentuk sistem imun, aku memang perlu sakit dan terinfeksi bakteri terlebih dahulu agar jika suatu hari bakteri itu datang lagi, tubuhku sudah siap untuk melawan.

Kau yang takut untuk merantau, sungguh orang yang merugi.

Mungkin dulu Ibu tidak mengizinkan aku merantau terlalu jauh, karena takut, khawatir, tidak percaya, dan segala macam perasaan negatif. Tapi aku yakin, setelah lulus dari ujian di tanah rantau yang satu ini, mungkin setahun atau dua tahun ke depan, Ibu akan lebih percaya untuk mengizinkanku merantau lebih jauh, perlahan melepaskanku.

Lagipula, bukankah semua tempat hanyalah tempat singgah? Tidak ada rumah kita, tidak ada tanah air beta, tidak ada yang kita miliki. Kita akan selalu singgah di segala tempat milik Tuhan kita, menapaki seluruh dimensi bumi ini untuk menjadi pribadi yang semakin terlatih.

Bandung, 2016