Rahasia Gemini

Nurhidaya Anwar
Karya Nurhidaya Anwar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Rahasia Gemini

Seorang cewek dengan rambut sebahu sedang terburu-buru melangkah di koridor sekolah. Gemini Revana atau akrabnya disapa Geni. Menurutnya nama Mini terkesan sangat feminim, sementara ia sendiri sangat jauh dari kategori itu. Dia bakal ngamuk kalo dipanggil mini, nama itu seperti ejekan, saat ada yang nanyain alasan dia benci dipanggil mini.

Ia tetap keliatan cantik walau penampilannya lebih mirip cowok dengan potongan rambut pendek, ia anti rambut panjang karena trauma pengalaman buruk di masa kanak-kanak, dimana rambutnya digunting oleh temannya yang paling bandel saat TK.

Walaupun begitu, anak cowok SMA Axavera tetep gak bisa nutup mata akan pesonanya. tingginya 165 cm, hidung mancung, bibir tipis, kulit putih pucat, serta bola matanya berwarna biru.

Geni juga termasuk salah satu dari murid berprestasi di Axavera. tapi hanya di bidang akademik, dia lemah untuk bidang olahraga. Satu-satunya olahraga favoritnya hanya lari. bidang olahraga lain, dia pilih kabur.

Hobi utamanya membaca, dengan earphone yang selalu terpasang di telinga. Baginya membaca itu seperti candu dalam hidupnya, udah jadi kegiatan wajib yang nggak boleh dilewatkan. lebih senang ngabisin waktu di perpustakaan pribadi miliknya daripada keluyuran di mall cuma buat berburu aksesori serta pakaian model terbaru seperti remaja seusianya. Ia bahkan seratus kali lebih milih diajak ke toko buku untuk melengkapi koleksi bacaannya.

Selain membaca, ia juga hobi main gitar, tapi gak pernah mau alias nolak mentah-mentah Setiap kali diminta untuk nyanyi, ia selalu berkilah bahwa suaranya jelek, dan bisa buat penonton kabur seketika. Bahkan sahabat dekatnya sekalipun gak pernah denger cewek itu nyanyi, memintanya sebagai hadiah ulang tahun, Geni tetap gak menyanggupinya. Alasan sebenarnya tetap jadi rahasianya sendiri.

Geni menghela nafas panjang, hari ini adalah hari pertama ia resmi naik ke kelas XI. Hari pertama untuk belajar di kelas barunya, XI IPA 1. Geni menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Ia tersenyum kecil saat melihat orang yang sejak tadi ia cari.

''Maaf tuan Aries Ricardo, bisakah anda memberi saya tempat duduk?'' tanya Geni pada sahabatnya yang juga make nama depan salah satu zodiak sama seperti dirinya.

Cowok yang akrab dipanggil Ares itu merupakan penyandang predikat juara umum sejak kelas X. Memiliki kualitas wajah ganteng, rambut spike, hidung mancung, bola mata berwarna hitam pekat yang membuat para cewek yang gak kuat iman langsung jatuh hati hanya dengan sekali pandang.tinggi badan 180 cm, tubuh atletis. terkenal ramah, dan nggak pelit dalam bagi-bagi ilmu.

''sialan lo, gue pikir bu Nia.'' ucap Ares yang baru saja terbangun dari tidurnya.

"haha, kalo bu Nia udah lo kasi senyum malaikat, dia pasti lupa mau marahin lo.'' balas Geni dengan senyum geli.

Semenjak kedatangan Ares sebagai murid pindahan saat masih di kelas X, Geni selalu jadi nomer 2 setelah Ares dalam hal prestasi akademik. Padahal saat SMP ia juga gak pernah lepas dari predikat juara umum. Tapi ia sama sekali gak pernah menganggap Ares sebagai musuh, tetap bersaing dengan cara yang fair. Meskipun ia tetep gak bisa juga melampaui Ares.

''ck, senyum malaikat apaan? Emang lo pernah liat malaikat senyum sampe bilang senyum gue kayak senyum malaikat.'' ejek Ares yang membuat Geni cemberut.

"Lo itu emang gak bisa yah terima aja ucapan gue tanpa harus ngajak debat tentang hal-hal yang gak penting.'' sunggut Geni, ia hanya bersikap seperti itu di depan Ares. Kalau orang lain hanya sikap biasa dan cuek yang ia tunjukkan. Ia gak peduli dengan tanggapan beberapa anak cewek yang ngatain ia sombong. Ia muak dengan anak cewek yang sengaja mendekatinya cuma buat ngorek informasi tentang Ares.

Memang gak mengherankan, jika mereka begitu antusias mendekati Geni cuma buat dapet info tentang Ares. Saking antusiasnya, mereka sampe ngikutin Geni kemanapun Geni pergi. Mulai dari kelas, kantin, perpustakaan, bahkan ke toilet. Mereka penasaran dengan tipe gadis seperti apa yang disukai Ares. Pasalnya cewek yang paling dekat dengannya saat ini hanyalah Geni, dan itupun hanya sebatas sahabat. Mereka belum mengetahui siapa gadis beruntung yang berhasil mencuri hati cowok itu.

"gue cuma nuntut pertanggung jawaban lo atas ucapan lo. Emang apa yang salah dari pertanyaan gue?'' Geni melirik Ares dengan tatapan kesal. Berdebat dengan sahabatnya itu cuma akan membuat Geni kena hipertensi di usia muda. Akhirnya ia memutuskan untuk mengeluarkan salah satu novel kesayangannya dari tas.

''dasar maniak novel.''

''Emang. Baru tau kalo gue maniak?''

''iya, gue baru tau.''

"Diem, lanjutin tidur lo. Masih ada waktu 20 menit sebelum upacara dimulai.'' kata Geni yang milih buat mengakhiri debat gak penting mereka.

"OK deh, semalem gue nonton bola sampe subuh.'' jelas Ares sebelum memejamkan mata.

**********
Jam tujuh tepat, bel pertanda upacara akan dimulai. Geni dan teman-teman sekelasnya sibuk membentuk barisan. Cewek-cewek berbaris di bagian depan, sementara siswa cowok di bagian belakang.

Ares yang berdiri di barisan paling belakang, menoleh ke belakang saat merasakan ada tangan yang mencolek lengannya. Seketika itu juga, ia tertegun melihat orang yang mencolek lengannya tersebut. Seorang cewek manis dengan rambut sepinggang, bola matanya berwarna coklat, hidung mancung, serta bibir tipis berwarna merah. Tinggi badannya kira-kira sekitar 170 cm. Kulitnya juga putih.

"hei.'' gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ares.

''eh, iya. Kenapa?'' Ares merutuki dirinya yang keliatan bodoh di depan cewek itu.

"bisa minggir gak? Gue pengen baris juga.'' balasnya kemudian tersenyum manis.

Deg..deg..Jantung Ares mendadak berdetak dengan cepat hanya karena melihat senyumnya. Ia pun memberi jalan pada cewek itu.

"thanks''

''you're welcome.''

***********
Selesai upacara, Geni memandang Ares dengan kening berkerut. Karena dia mendadak jadi murah senyum, mirip penghuni rumah sakit jiwa yang selalu senyum tanpa alasan jelas.

"Kenapa lo Res? pasti lagi mikirin hal-hal mesum kan?'' celetuk Tina salah satu anak XI IPA 1.

''Tina bobo.. Oh.. Tina bobo.. Kalo gak bobo.. Pasti makan..'' balas Ares yang malah nyanyi lagu 'nina bobo' versi tina dengan sedikit perubahan di bagian akhirnya.

''hahaha, bales Tina bobo, lo gak boleh kalah.'' timpal Geni.

''Ares ngeres.. Oh.. Ares ngeres.. Kalo gak ngeres ya bukan Ares..'' balas Tina yang juga menyanyikan lagu andalannya. candaan mereka berdua membuat tawa anak sekelas pecah.

''Eh, gue perhatiin lo senyam-senyum mulu dari tadi. Lo menang lotre yah?'' bisik Geni.

''sepertinya gue jatuh cinta'' balas Ares santai.Deg Ada perasaan aneh yang menyelimuti hati Geni saat denger pengakuan Ares.

''Siapa sih? Lo tega yah gak bilang-bilang sama gue.''

''bentar lagi lo pasti tau orangnya, dan gue pengen minta tolong sama lo.'' Geni berusaha menepis perasaan aneh yang hinggap di hatinya.

''bantuin gue buat jadian sama dia.'' detik itu juga Geni merasa ada sedikit rasa sesak yang menyusup ke hatinya. 'Ada apa ini?' batin Geni risau.

 

  • view 266