Penonton atau pelakon?

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 30 Juli 2016
Penonton atau pelakon?

Pernah suatu waktu saya menonton video inspirasi yang dipelopori oleh bapak Anies Baswedan. Iya, sang menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru saja di reshuffle. Yang menghadirkan banyak tanya kenapa kah gerangan sosok seperti beliau tidak dipertahankan. Saya selalu ingat pesan yang disampaikan dari video itu, bahwa “kejahatan terjadi bukan karna banyaknya orang jahat, tapi karna banyaknya orang baik yang diam dan mendiamkan” dimana saat itu dalam sebuah bus ada seorang penumpang yang di palak oleh preman. Diperlihatkan berbagai reaksi dari penumpang lain yang melihat kejadian tersebut. Ada yang ketakutan, ada yang pura-pura tidak lihat, ada yang yah intinya tidak peduli karna bukan dia yang mengalami. Hingga seseorang dengan penuh keyakinan berdiri dengan tatapan tajam kearah preman. Lalu disusul yang lain, lalu disusul lagi, lagi, lagi sampai si preman ketakutan lalu turun dari bus tanpa mendapatkan apa-apa. Yah, kurang lebih seperti itu. Bahwa dengan satu keberanian, kita bisa membunuh niat tidak baik yang berujung kejahatan.
 
Pernah kah kita berada dalam suatu situasi dimana ketika kita berkumpul dengan teman-teman, ada satu orang yang menguap lalu secara spontan kita pun membuka mulut dan menghembuskan udara keluar persis seperti yang teman kita lakukan? Yah, entah darimana teorinya tapi saya yakin kita semua pernah mengalami. Saya tidak ingin membahas tentang menguap lebih jauh. Hanya saja ada satu poin yang menarik bagi saya, yaitu Ketularan spontan. Ini adalah cerita tentang kebaikan, dimana saya melihat dengan mata saya sendiri betapa kebaikan sekecil apapun itu akan menyentuh hati siapa saja yang melihatnya. Namun, yang akan melahirkan kebaikan-kebaikan lain adalah kemauan dari diri kita.
 
Suatu malam saya pergi untuk membeli makanan. Sesampainya di tempat tujuan saya mendapati tiga orang lelaki yang sudah lebih dulu memesan. Dua orang yang setelah saya cermati adalah dua lelaki tunanetra dan seorang lelaki yang sedang asik dengan gadgetnya. Setelah memesan saya duduk di kursi yang telah disediakan. Tidak lama kemudian, lelaki yang asik dengan gadget nya tadi menghampiri sang penjual lalu berkata “pak, saya aja yang bayar punya bapak itu” ucapnya sembari menunjuk dua lelaki tunanetra. Belum selesai ketakjuban saya, saya kembali disuguhi pemandangan yang menampar hati saya ketika pesanan telah siap. Adalah ketika lelaki yang tadinya asik dengan gadgetnya membayar makanan tersebut, dimana satu porsinya dihargai Rp.15.000. Jadi, jika dia membayar pesanan dua lelaki tunanetra tadi maka semuanya terhitung Rp.30.000 dengan pesanan miliknya. “berapa bu?” tanyanya. “30.000 mas” jawab sang penjual. “sudah sama punya bapak itu?” ucapnya meyakinkan kembali dengan menunjuk dua lelaki tunanetra. “iya, sudah mas. Punya bapak itu 10.000 aja, sama punya mas 15.000. Jadinya 25.000” ujar sang penjual dengan memberikan uang kembalian.
 
See, adakah pemandangan yang lebih indah dari orang-orang yang saling berlomba dalam kebaikan. Saya terpaku dan merasa malu. Tapi, semoga suatu hari saya ataupun siapa saja yang tidak sengaja membaca tulisan ini menjadi terinspirasi untuk menjadi pelakon kebaikan bukan hanya sebagai penonton. Kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun, dan sekecil apapun. Lalu, apa hubungannya dengan video inspirasi bapak Anies Baswedan dan poin ketularan spontan dari menguap? Bahwa “kebaikan tidak terjadi bukan karna sedikitnya orang baik, tapi karna banyaknya orang baik yang tidak berani memulai”. Adalah penumpang bus yang memberanikan diri untuk menghentikan niat jahat preman dengan niat baik lelaki yang membayari pesanan orang lain dalam cerita tadi menjadi gambaran betapa kebaikan belum mati di dunia ini. Kita hanya perlu untuk memulai. Dan adalah para penumpang yang bersatu untuk memerangi preman hingga sang preman gagal melakukan niat jahatnya dengan sang penjual yang mengurangi harga dagangannya menjadi gambaran manisnya kebaikan yang tulus dapat menularkan kebaikan-kebaikan lain. Kita punya pilihan untuk menjadi penonton atau pelakon dan siap ketularan spontan dalam sekecil apapun kebaikan hehe selamat berjuang sebagai pelakon kebaikan.
 
Banjarbaru, 31 Juli 2016
Salam,
Gadis jingga di ujung senja

  • view 203