Pesan Bapak

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juli 2016
Pesan Bapak

Bapak yang sedari tadi menonton televisi bersama ku, tiba-tiba bersuara, “Allah tau apa yang kita inginkan, tapi Allah lebih suka kalau kita minta langsung. Salah satu caranya adalah bangun di sepertiga malam”. Bapak menatap ku lekat, seolah ingin menelusuri bongkahan ketakutan-ketakutan yang kian mendera seiring usia ku yang semakin dewasa. Sebagai seorang anak yang memutuskan untuk merantau dan tinggal terpisah dari keluarga, mengeluh menurut ku bukanlah ide yang bagus. Maka sebisa mungkin hanya kabar-kabar bahagia yang ku kirim ke rumah. Bapak bukan tipe lelaki yang pandai mengungkapkan rasa cintanya, berpuluh tahun aku hidup, aku bahkan tidak pernah mendapati kalimat yang menyatakan bahwa dia amat sangat mencintai dan menyayangi ku. Terkadang, aku ingin sekali mendengar kata-kata cinta darinya, tapi kupikir semua bapak memang seperti itu. Meski ada beberapa bapak yang kuketahui begitu mudah melafalkan kata-kata cinta kepada anaknya. Tetap saja aku percaya, bahwa cinta bapak tidak se transparan cinta ibu. Sumur cintanya begitu dalam, hingga kejernihan kasih sayangnya tidak terlihat, namun tidak pernah habis meski setiap waktu airnya diambil dan kita sungguh tau seberapa bening muara cintanya ketika air kasih sayang itu diangkat ke permukaan.
 
Bapak, adalah laki-laki dengan cinta yang tidak bergema. Cintanya melalui tindakan nyata. Mungkin ini yang membuat setiap anak perempuan menjadikan bapak sebagai sosok cinta pertama. Dimana setidaknya dia tidak perlu takut pada pengkhianatan dan yakin bahwa setiap lelaki tidaklah sama. Aku memalingkan wajah dan membalas tatapan bapak sambil mengangguk. Kami bukan dari keluarga yang agamis banget, tapi perubahan yang diperjuangkan bapak hingga aku se dewasa ini bukanlah perubahan yang biasa. Setidaknya menurutku. Kita tidak bisa menentukan untuk terlahir di keluarga seperti apa, tapi kita selalu punya kesempatan untuk menjadi apa di keluarga kita. Bapak pernah bilang, bahwa di setiap doanya beliau selalu meminta Allah untuk segera mengambil kami dari dunia ini. Aku bergidik ngeri ketika mendengar beliau mengucapkan pernyataan itu. Aku tanya kenapa, lalu beliau melanjutkan kalimatnya. Bapak minta Allah segera mengambil kita ketika kita sudah tidak bisa dan tidak mampu lagi menjadi manusia yang bermanfaat. Jadi, kita lihat saja siapa yang lebih dulu menghadap Allah. Bisa jadi karna doa itu dikabulkan. Iiiiiih serem banget siih -_- kalimat itu selalu terngiang setiap aku ingin melakukan sesuatu. bapak, cara mendidiknya sulit untuk ditebak.
 
Pernah suatu kali bapak dan mama menjengukku di kota tempat ku berkuliah. Saat itu aku menjalani semester yang memang lagi serba ribet banget. Satu hari 24 jam itu rasanya kayak gak adil dengan begitu banyaknya tugas yang hadir. Makalah inilah, laporan itulah, kerja kelompok sana, ujian inilah, rapat sana sini, pokoknya kasur itu menjadi tempat yang sangat dirindukan. Lalu, di suatu malam aku terpaksa harus pergi ke rumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok. Meski saat itu rasanya berat sekali meninggalkan mama dan bapak di kost. Tapi, apa boleh buat. Yang menjadi masalahnya adalah aku lupa bahwa setiap kali orang tuaku ada di kost, jam malamku harus lebih pagi. Parahnya lagi waktu itu aku tidak bisa pulang duluan karna ya memang tugasnya belum selesai. Jam 10 malam lewat, bapak menelpon. Aku bilang sebentar lagi pulang. Fatalnya aku tidak juga segera pulang karena tidak bisa meninggalkan tugasku. Ah, pasti mama dan bapak memaklumi. Pikirku waktu itu. Ternyata aku salah. Setelah kerja kelompok ku selesai aku segera pulang dan mendapati bapak dengan kemeja rapinya duduk diatas ranjang menatap pintu kamar dengan tajam. Assalamu’alaikum. Aku terkejut melihat pemandangan di depanku dan langsung menangkap kode kemarahan di wajah bapak. Apalagi ditambah tas yang telah ter packing rapi. Aku salah tingkah. Mulutku seperti diolesi lem perekat. Bingung harus memulai kata darimana. Satu hal yang aku takutkan malam itu adalah, bapak benar2 pulang.
 
Singkat cerita, keesokan harinya bapak dan mama benar2 pulang. Bapak menjelaskan kemarahannya. Eh bukan, lebih tepatnya kekhawatiran. Aku ingat betul kalimat yang bapak sampaikan pagi itu. Bapak berikan kepercayaan 100%, ingin menjadi hitam atau putih itu pilihan kamu. Kami tidak tau apa yang kamu lakukan disini, hanya takut kalo pulang larut seperti tadi malam dan terjadi apa-apa. Yah, aku adalah anak gadis dengan kepercayaan 100%. Yang harus bertanggungjawab sendiri atas setiap langkah yang ku ambil. Bukan berarti bapak dan mama lepas tangan begitu saja. Justru karena mereka merasa bertanggungjawab penuh atas diriku, mereka harus bisa membuat aku bertanggungjawab atas diriku sendiri. Bapak, adalah laki-laki dengan cinta yang tidak bergema. Dan aku suka menjadi anaknya. Pesan-pesannya seperti melodi cinta dalam hidupku, sehingga jika ada pesan yang tidak aku jalankan, musik kehidupanku menjadi tidak sempurna.
 
Banjarbaru, 17 Juli 2016
Salam,
Gadis jingga di ujung senja