Ada senja diantara kita

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Juni 2016
Ada senja diantara kita

14 tahun yang lalu. Saat duduk di kelas 3 sekolah dasar. Dimana hal paling menjengkelkan adalah ketika senja datang. Semua permainan harus selesai. Kita harus saling melambaikan tangan, berlari menuju arah berlawanan, ke rumah masing-masing, sambil berteriak "besok main lagi yaaaa". Kemudian besok datang kembali. Saat itu, aku tidak pernah memikirkan tentang ketiadaan hari esok. Hari esok selalu menjadi milik kita. Begitu terus..hingga aku merasakan pagi terburuk di hidupku. 3 tahun setelah begitu banyak permainan yang kita coba dan mainkan bersama, aku sekeluarga pindah rumah. Saat itu aku benar-benar merasa kehilangan dunia ku. Tapi, aku terpaksa hanya membisu. Aku tidak memiliki daya upaya untuk  membantah meski aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak ingin meninggalkan gang kita. Aku tidak sempat melambaikan tangan perpisahan. Aku tidak sempat menghafal setiap garis di wajahmu. Aku bahkan, tidak tau nama lengkap mu. Yah, kita hanya bertemu, bermain, lalu pulang. Kurang lebih 1095 hari kita mengulang hari yang sama. Kita. Aku, kamu, dan teman-teman sebaya di gang kita. Saat itu aku tidak merasakan kesedihan lain selain kehilangan teman-teman bermain. Aku kehilangan musuh main kelereng, temen main barbie, main rumah-rumahan, main kartu, wayang, lompat tali, cina boy, petak umpet, atau sekedar lari-lari an di rumah kosong pinggir jalan gang, juga duduk di warung ujung gang kita sambil mencoba snack-snack berhadiah. Kamu masih ingat, waktu itu aku dapat hadiah kalung warna hitam yang terbuat dari benang dengan buah kalung ala-ala an, lalu aku langsung pake didepan kamu juga teman-teman yang ada di tempat? hahaha itu memalukan sekali.

Perlahan tapi pasti, hidupku kembali normal. Yah, di usia ku waktu itu yang ada di pikiranku memang hanya main, main, dan main. Aku dengan mudah mendapatkan teman-teman baru. Kamu tau, aku bahkan pergi ke tempat yang lebih jauh. Tentu, tanpa sepengetahuan orang tuaku. Aku lupa siapa yang pertama kali mengenalkan aku tempat itu. Yang jelas tempatnya indaaah sekali. Kalo saja aku bisa menemui mu lagi, aku pasti akan mengajak mu kesana. Meski aku ragu sih kamu mau ikut atau tidak. Karena, kamu tidak mungkin mau pergi tanpa seijin orang tuamu. Hmmm aku terpaksa harus memaksa mu dan mengatakan bahwa "udahlah..gak papaaaa, kita pasti balik sebelum senja" aku tarik pergelangan tangan mu, lalu kita lari tanpa harus menunggu persetujuan mu. Sepanjang jalan kamu masih berusaha berontak, tapi lidahmu bahkan kelu untuk memberikan penolakan padaku. Jadi, kamu ikut saja sambil membayangkan konsekuensi dibalik ini semua haha mungkin itu kenapa, aku tidak menemukan mu lagi setelah hari kepindahan ku. Tapi, itu tidak lama, karna setahun setelah itu, aku lulus dari sekolah dasar dan melanjutkan sekolah berasrama. Sebenernya aku nggak mau, tapi lagi-lagi aku cuman bisa manut. Kamu tau, aku udah nggak bisa main lagi. Dan parahnya, aku juga udah nggak ingat-ingat kamu lagi. Peraturan dan pemaksaan untuk mandiri di sekolah itu bikin aku menjalani dunia baru, lalu perlahan me museum kan dunia kecil ku. Dunia kanak-kanak yang hampir semuanya dilalui tanpa logika. Pokoknya kalo aku senang, ya aku lakukan. Nggak peduli meski harus dimarahin ber jam-jam.

Meski kurang suka, sebenernya aku nggak pernah macam-macam. Aku termasuk murid yang baik, semua peraturan asrama aku patuhi. tapi, belum genap setahun aku harus pindah sekolah haha bukan karna bikin onar loh ya, hanya sedikit salah teknis. Mungkin karna terlalu lincah, tangga asrama itu membuat aku cedera. Yang jadi masalahnya, perawatan disana bikin kaki ku tambah parah. Kamu tau kan gimana bapak ku, kamu juga ingat kan segimana marahnya beliau waktu aku ajak anak2 gang buat naikin belakang mobilnya, aku yang anak kandung aja kalo buat salah gak bakal ada ampun, apalagi orang lain yang berulah. Ngeliat itu semua beliau jelas marah banget. Tidak perlu waktu lama untuk mengangkut semua barang-barang ku. Rasanya pingin teriak kencang-kencang "aku bebaaasssss". Bener kan aku bilang, sakit itu nggak selalu bikin menderita. Aku pikir pindah dari sekolah itu sama artinya dengan kembali ke rumah.  Tapi, ternyata..cuman sementara. Aku didaftarkan di sekolah berasrama lagi tau nggak sih. Meski jaraknya lebih dekat dengan rumah, tetap aja berasrama. Banyak peraturan nya. Ribet. fiuh! Tapi...yah...seperti biasa. Manut-manut saja.

Di  sekolah baru ku, sakit yang nggak buat menderita gak bisa terulang lagi. Karna asrama nya disini gak pake tangga. Jadi, yaudah. Jadi murid baik-baik aja deh haha aku adaptasi lagi, kenalan sana-sini lagi,  dan menjalani hari-hari penuh peraturan (lagi). Entah kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu. Tanpa ulah sedikitpun, tanpa ada onar-onar an.  3 tahun disana selesai. Aku pulang.  Tapi, rumah baru yang beberapa tahun lalu berhasil aku adaptasi in berubah. Temen-temen ku disini udah pada jarang main tau nggak. Mereka lebih milih buat tidur siang. Payah. Padahal senja masih lama. Tanpa sadar aku juga jadi anak rumahan. Aku kelihatan manis sekali dengan baju bersih tanpa noda-noda tanah. Kelereng ku utuh di dalam toples, wayang ku rapih terikat karet, barbie ku bajunya gak ganti-ganti, semua mainan ku tuh sebenernya udah teriak-teriak minta dimainin tau nggak. Sampai pada masa libur setelah kelulusan sekolah menengah pertama berakhir, pembicaraan tentang sekolah menengah atas pun dimulai. Umurku memasuki tahun ke-15 waktu itu. Meski sebenernya semangat untuk bermain ku gak pernah pudar, aku dipaksa keadaan untuk lebih dewasa. Aku...hmm tanganku tiba-tiba keram karna daritadi bermain diatas keyboard. Jadi, aku lanjutkan nanti ya :D

 

 

 

 

 

 

 

  • view 234