Kita bukan hakim kan?

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Mei 2016
Kita bukan hakim kan?

Dari dulu saya percaya bahwa tidak ada orang yang ingin disalahkan atas pilihan nya meskipun pilihan itu jelas salah nya. Saya percaya bahwa tidak ada orang yang ingin dihakimi atas pilihan nya, tidak ada orang yang terima ditatap sinis atas pilihan hidupnya, dan saya percaya setiap kita punya alasan masing-masing kenapa berlaku sedemikian, entah sedemikian baik atau sedemikian buruk. Saya terus mencoba mempercayai bahwa sebenarnya tidak ada yang benar-benar serius memulai langkah kurang benar baik di mata orang banyak atau ketetapan tentang baik dan buruk dalam kebiasaan hidup kita di masyarakat. Itulah kenapa, meski sulit saya selalu berusaha terlihat biasa saja ketika berhadapan dengan pernyataan-pernyataan yang mengejutkan.
 
Siang itu, saya ada janji di kampus dengan seorang teman untuk membicarakan kegiatan yayasan tempat dimana saya bergabung menjadi salah satu relawan. Saya datang lebih awal dan menunggu di salah satu sudut taman kampus. Tidak berapa lama salah satu teman cowok seangkatan saya di perkuliahan menghampiri. Mulai lah basa-basi diantara dua teman yang sudah jarang bertemu karna jadwal kuliah yang tak lagi sama karna tlah memasuki semester akhir “ngapain?” tanya nya. “ lagi nungguin Y (inisial teman yang saya tunggu) habis kuliah?” saya balik bertanya. “iya, tadi habis kuliah. UTS A dan B (inisial mata kuliah yang diambilnya)” ah kalah banar aku hari ini, ku kira UTS nya essay (ah aku salah perkiraan, aku kira UTS nya essay) Aku kan gak suka teori-teori jadi aku belajar tu ya inti-intinya aja. Mana angkatan kemarin mata kuliah ini kalo UTS essay terus, kirain essay juga yang ini, ternyata pilihan ganda” Tuturnya lancar. Saya hanya manggut-manggut sambil memperbaiki posisi duduk dengan tidak lepas tersenyum, menunjukkan bahwa saya tertarik dengan pembicaraan nya. Awalnya saya tidak berpikir dia akan bercerita serius meski dari raut wajah dan intonasi suara sejak pertama kali dia duduk di depan saya, saya melihat ada benang-benang kusut yang menghambat jahitan perjalanan hidupnya.
 
Sesekali saya bersuara namun lebih banyak (berusaha) mendengarkan hingga sampai pada kalimat “kata mereka aku minum”. Saya masih biasa saja dan berusaha untuk tidak menduga macam-macam. Meski dari penampilan dan kesehariannya saya setuju dengan pernyataan itu. Siapa yang tidak menduga macam-macam kalau yang ditampilkan nya ‘seperti itu’. Teman sata ini memang dikenal semrawut. Kuliah sering bolos, penampilannya? Ah saya yakin jika kalian melihatnya kalian juga akan meng ‘iya’ kan. Mulai dari kostum kuliah yang nggak ‘mahasiswa’ banget, potongan rambut ala anak punk, sampai wajah kusut tanpa semangat dengan kantung mata tidak normal nya. Sudahlah, fix. Iya, fix kalo kita hanya melihat dan menilai dari satu sudut pandang saja. Jika itu benar, dia salah. “ tapi, kenyataan nya nggak kan?” saya balik bertanya. “ya nggak lah. Aku tu banyak ketinggalan mata kuliah, semester ini aku ambil banyak SKS jadi tiap malam  aku nyiapkan bahan kuliah untuk besok, ya nggak belajar-belajar banget juga sih cuman karna itu aku jadi kurang tidur” jawabnya. Saya berusaha mempercayai meski sulit dipercaya. “yaudah, gausah dipikirin apa kata orang yang penting kan gak bener juga” ucap saya sekena nya. “tapi, aku jadi susah berurusan dengan gedung depan” keluhnya. Saya diam. Bingung harus berkata apa hingga cerita itu kembali meluncur bebas dari mulutnya. “aku jujur aja sama kamu, sebenarnya tiap hari aku memang minum”. Ujar nya. Saya kaget. Tapi saya berusaha untuk tidak menunjukkan. Pikiran saya sudah kemana-mana. Berarti di awal tadi dia bohong, berarti dia...berarti dia...ah sebisa yang saya mampu mengembalikan fokus saya. “aku tu orangnya gak percaya diri. Sebenernya minum itu ya supaya tenang aja, supaya percaya diri, terus kalo gak minum badan ku sakit. Kepala ku kayak di tusuk-tusuk makanya setiap hari aku harus minum” sambungnya. “perbedaan nya kerasa pas minum sama nggak?” tanya saya (masih) berusaha untuk biasa saja. “kerasa. Aku jadi tenang. Terus mikir tu juga enak, kayak tadi UTS aku lancar ngerjainnya. Di kelas juga aku jadi aktif nanya atau jawab pertanyaan nggak takut-takut lagi. Mikir jadi enak. Coba kalo gak minum. Huh boro-boro”. “ohh gituuu..iyasih pasti susah buat berhenti, tapi coba aja pelan-pelan dikurangin” tanggap saya hati-hati. “pasti. Pasti itu. Aku gak mau juga kayagini terus. Sudah ku kurangin juga” jawabnya. Saya semakin tertarik dengan pembicaraan ini, tapi terpaksa harus disudahi meski ada banyak pertanyaan yang menggerayang di kepala saya karena teman yang saya tunggu sudah datang. Seketika obrolan saya dengannya selesai begitu saja.
 
Saya tidak bermaksud apa-apa menuliskan ini. Saya hanya merasa ada pelajaran berharga yang (mungkin) bermanfaat bukan cuman buat saya, tapi kalian yang (kebetulan) membaca *semoga. Sulit memang untuk bisa memaklumi pilihan-pilihan orang lain, tapi kenyataannya setiap orang punya tantangan berbeda dalam hidupnya. kalau hari ini kita baik-baik saja dengan segala yang kita ingin berjalan sebagaimana mestinya, tidak musti orang lain juga punya kesempatan sehebat kita. Kalau hari ini, kita memiliki problema dengan jalan keluar yang mudah, tidak musti orang lain punya pilihan seberuntung kita. Percayalah...tidak ada orang yang ingin dihakimi. Bahkan, tersangka di pengadilan pun masih terus berusaha mencari pembelaan meski perbuatannya jelas-jelas melanggar hukum. Berapa banyak orang-orang yang punya masalah seperti teman saya ini? Banyak. Tapi, tidak semua memilih untuk mengatasinya dengan melakukan hal seperti itu. Berapa banyak orang yang punya masalah lebih ringan dari teman saua ini? Banyak. Tapi, mereka melakukan hal yang sama. Saya tidak membenarkan juga tidak menyalahkan. Menurut saya, setiap orang selalu ingin yang terbaik untuk hidupnya, namun kenyataan tidak selalu berbanding lurus. Ada pilihan-pilihan yang membawanya menjadi lebih baik atau justru sebaliknya. Ada alasan-alasan yang membawanya ke jalan lurus atau malah membuatnya terjerumus.
 
Tugas kita bukan untuk langsung menghakimi, bahkan profesi hakim pun harus tetap melihat dari berbagai sisi untuk bisa memutuskan suatu perbuatan itu benar atau salah. Lalu kita yang bukan siapa-siapa dan juga masih banyak salahnya kenapa harus bersikap diatas mahkamah? Saya bukan orang yang pandai mendengarkan, karena nya dari kejadian ini yang saya soroti bukan seberapa ‘salah’ nya teman saya, tapi betapa sulitnya menahan mulut untuk bersuara dan melebarkan telinga untuk lebih banyak mendengarkan. Di jaman yang semakin kekinian ini, menurut saya, mendengarkan sudah menjadi hal yang langka. Kita semakin sibuk dengan ke ‘aku’ an kita hingga lupa bahwa kita tidak hidup untuk keegoisan semata. Tanpa diprediksi, tanpa rencana sebelumnya, siang itu saya benar-benar merasa dan semakin percaya bahwa tidak ada yang ingin disalahkan atas pilihan nya meskipun pilihan itu jelas salah nya. Saya semakin percaya bahwa ketertutupan seseorang bukan karna dia pribadi yang tidak terbuka, tapi bisa jadi karna dia merasa tidak ada yang mau mengaktifkan kedua telinga dan memfungsikan kedua matanya ketika dia ajak bicara. Punya dua tapi yang sering dipake cuman satu, sementara mulut yang cuman satu malah digunakan sebaliknya.
 
Mari terus berusaha untuk menahan bicara dan lebih banyak mendengarkan. Karna terkadang seseorang tidak perlu solusi, dia hanya perlu telinga yang bersedia mendengarkan dan tidak serta merta langsung menyalahkan. Dia ingin meski secuil ada orang yang menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya salah dan wajar saja berlaku demikian meski dia sendiri sebenarnya tau apa yang dilakukan nya mutlak salahnya. Mari terus berusaha untuk melihat setiap kejadian dan pilihan orang lain dari berbagai sudut pandang, bahwa level tantangan dan pilihan yang dimiliki setiap kita tidaklah sama, dan mari berusaha untuk memulai memperbaiki tanpa menggurui.

  • view 77