Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian
“Ayah, tolong jangan terima lamaran pria perokok”

Sejak jaman dahulu kala (elah, berlebihan banget) maksudnya sejak saya dulu sering pergi ke warung untuk membelikan rokok ayah saya, kurang lebih 12 tahun yang lalu, sepanjang perjalanan menuju rumah dengan memegang sekotak rokok yang masih utuh, saya selalu berkata dalam hati bahwa sejarah tidak akan saya ulang kembali. Cukup satu pria perokok yang saya cintai, yaitu ayah saya. Waktu itu saya tidak terlalu paham tentang kandungan ataupun bahaya dari merokok. Saya hanya melihat bahwa kesehatan ayah saya semakin hari kian memburuk dan saya berprasangka itu semua pengaruh dari begitu aktifnya aktivitas merokok yang ayah saya lakoni. Sejak saat itu, rokok masuk dalam list yang sebisa mungkin akan saya hindari. Apa saya membenci perokok? Tidak. Saya hanya tidak suka maka semampu yang saya bisa untuk menjauhi. Bukankah teori suka memang seperti itu? Ketika suka pada sesuatu, kita akan tergerak untuk terus mendekat, dan ketika kita tidak suka, kita berusaha keras untuk menjauhi. Sesuatu yang kita suka ataupun tidak kita sukai itu, toh memang akan selalu ada di dunia ini, maka benar adanya jika kita harus memutuskan untuk memilih. Tapi, terlepas dari kebebasan dalam memilih yang dimiliki setiap orang, maaf, saya tetap bukan simpatisan perokok bagaimanapun alasannya.
 
Saya lupa kapan tepatnya ayah saya akhirnya memutuskan untuk berhenti merokok, yang saya ingat, hari-hari menuju hidup sehat tanpa rokok adalah pemandangan yang memilukan. Terkadang wajah tersiksa ayah saya untuk melewati satu hari tanpa sebatang rokok beberapa tahun silam itu, masih terlihat jelas dalam bayangan. Tidak tega rasanya, tapi berkat dari kemauan dan kerja keras seisi rumah terutama mama saya, hingga detik ini Alhamdulillah ayah saya sehat wal afiat. Saya tidak menyatakan bahwa kesehatan hanya semata didapatkan ketika seseorang tidak merokok, tidak, tapi waktu itu setidaknya saya tau bahwa merokok adalah salah satu cara mengundang penyakit. Tahun berganti tahun, saya semakin mengenal dunia luas. Pergi dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan orang-orang yang tidak terduga, hingga harus menerima kenyataan bahwa dimanapun saya berpijak perokok aktif sudah kian merajalela. Anak-anak muda begitu percaya diri memperlihatkan kekerenannya dengan batangan rokok diantara ruas jarinya. Katanya sih merokok itu keren, katanya. Saya juga tidak terlalu mencari tau, tapi saya selalu percaya bahwa setiap orang memiliki alasan tersendiri dalam menjalani sesuatu hal. Hanya saja, ada alasan yang cukup dimengerti oleh diri sendiri tanpa bisa diterima oleh orang lain, dan ada alasan yang bisa dimaklumi semua orang namun tetaplah bukan jaminan bahwa sesuatu itu adalah hal yang baik. Hidup ini memang milik kita, tapi kehidupan adalah hak setiap orang.
 
Sampai suatu ketika saya menemukan artikel yang berjudul “ukhty, jangan terima lamaran pria perokok ya!” jujur, saya memang tidak pernah tertarik dengan pria perokok, bagaimanapun kelebihannya tertangkap mata, boro-boro cinta, sebelum suka saja semua rasa sudah lenyap seketika. Awalnya saya masih berniat mentolerir, kalo suatu hari ternyata jodoh saya adalah perokok, saya akan ikhlas menerima. Kata teman saya “hati-hati, biasanya cewek yang anti perokok dapat suami perokok” saya selalu bergidik ngeri setiap mengingat apa yang diucapkan teman saya itu. Kalau memang benar...hmmm...sampai suatu ketika saya menemukan artikel yang berjudul “ukhty, jangan terima lamaran pria perokok ya!” dalam artikel itu ada seorang wanita yang bertanya “Jika ada pria perokok yang melamar, apakah boleh diterima. Terus terang, hampir semua wanita keberatan punya suami perokok. Tapi… sementara ini, dia yang serius maju. Apa ada pertimbangan lain? Paragraf awal jawaban dari pertanyaan wanita ini adalah “Sebagaimana lelaki disarankan untuk memilih calon istri yang solihah, wanita juga disarankan untuk memilih calon suami yang solih. Karena predikat ini menyangkut kebahagiaannya di masa mendatang, selama dia mengarungi bahtera rumah tangga.
 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan, orang yang asal-asalan dalam memilih jodoh, adalah orang yang celaka.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
???????? ??????????? ????????? ?????????? ????????????? ???????????? ???????????? ? ????????? ??????? ???????? ???????? ???????
“Umumnya wanita itu dinikahi karena 4 pertimbangan: hartanya, nasabnya, parasnya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, jika tidak kamu celaka.” (HR. Bukhari 5090, Muslim 3708, dan yang lainnya).
Ada pelajaran menarik yang disampaikan an-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini,
??? ??? ?????? ???? ??? ?????? ??? ????? ?? ?? ??? ??? ?????? ?????? ?? ??????? ??????? ???? ??????? ????? ??????? ?? ?????
Dalam hadis ini, terdapat anjuran untuk memilih teman hidup yang agamanya baik dan semua perilakunya. Karena yang menjadi pendampingnya akan mendapatkan manfaat dari akhlaknya yang baik, keberkahannya, dan perilakunya yang indah. Serta minimal, dia bisa merasa aman dari kerusakan yang ditimbulkan temannya. (Syarh Shahih Muslim, 10/52)
Ketika kita menikah, berapa lama kita akan bersama pasangan? Tentu semua berharap, pernikahan bisa langgeng sampai akhir hayat. Sehingga suami, maupun istri diharapkan bisa menjadi teman hidup abadi di dunia. Apa yang bisa kita bayangkan, ketika selama perjalanan yang tanpa batas itu, kita ditemani manusia yang sangat tidak kita sukai karakternya? Memiliki kebiasaan yang sangat mengganggu diri kita. Saya sadari, saya tidak suka dengan pria perokok, oleh karenanya saya selalu berdoa semoga Allah tidak membersamakan saya dengan pria perokok, melenyapkan perasaan saya sebelum berbuah indah.
 
Saya pernah mendengar tausiyah ustadzah Oki yang intinya bahwa pernikahan bukanlah perjalanan tanpa tantangan, justru akan banyak ujian karena saat itu kita sudah tidak lagi melewati nya sendirian. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum terlanjur menjalaninya. Gausah nambah-nambahin PR dalam rumah tangga seperti menghabiskan waktu untuk bisa berhenti merokok. Kalo ada yang agamanya baik dan dia tidak merokok, kenapa harus pilih si tampan yang mapan tapi bajunya bau tembakau dan mulutnya nikotinan :D dalam artikel yang saya baca diatas tidak membahas dari sudut pandang hukum rokok. Karena tidak ada perokok yang bersedia ketika disebut bahwa rokok itu haram. Mungkin, memang semuanya tergantung persepsi. Kata teman saya, ya gak apa2 lah kalo dilamar sama pria perokok, nanti kan kita bisa bantu buat berhenti. Helloooo..saya harus bilang kalo saya sepakat memilah-milih PR sebelum berumah tangga itu adalah pilihan yang menenangkan. Jadi, bagi saya cukup satu pria (yang pernah) merokok yang saya cintai sepanjang hidup saya. Sampai waktu dimana ayah saya menanyakan tentang pendamping hidup, saya akan mantap mengatakan “ayah, tolong jangan terima lamaran pria perokok” hehe

Karya : Nur Hikmah Safilarial