“Tentang 3 kombinasi yang tidak mudah. Takdir, sabar, dan bersyukur”

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 14 Mei 2016
“Tentang 3 kombinasi yang tidak mudah. Takdir, sabar, dan bersyukur”

Pada suatu pagi saya terhenyak setelah membaca postingan seseorang yang tidak saya kenal dalam sebuah grup sosial media yang saya ikuti. Begitulah, perkembangan teknologi memang bisa mendekatkan yang jauh dan sangat mungkin menjauhkan yang dekat. Itulah kenapa banyak yang mengatakan, smartphone hari ini tergantung si empunya. Apakah ia berfungsi sebagaimana pintarnya atau malah sebaliknya. Be smart users menjadi tonggak dari seberapa bermanfaatnya apa yang kita lakukan. Tapi, saya sedang tidak ingin membahas merebaknya penggunaan sosial media, karena fenomena ini sudah sangat kasat mata sekali. Saya ingin meresapi postingan seseorang yang tidak saya kenal seperti yang saya utarakan di awal tadi, Isi caption nya seperti ini “Wahai sahabat setia ku , kau harus ingat bahwa ,”ketika kita ingin sesuatu,dan kita dapatkan, itulah takdir. Ketika kita ingin sesuatu, namun kita harus menunggu, itulah sabar. Ketika kita ingin sesuatu, namun dapatnya tidak sesuai, itulah dimana kita harus bersyukur. Dan Ketika kita ingin sesuatu,kita telah menunggu, kita telah bersabar, terus mendapat tidak sesuai dengan harapan , itulah hidup . jangan lah berlama lama dalam kesedihan, kegundahan, dan kecemasan tapi bangkitlah untuk hari hari yang Allah takdirkan itu terbaik untuk mu”. Pikiran saya berkelana pada mimpi-mimpi yang berhamburan. Mimpi yang Allah ijinkan untuk terwujud, dan tidak sedikit mimpi yang akhirnya hanya bisa diratapi melayang bersama kenyataan tidak terencana hingga detik ini. Perihal takdir, sabar, dan bersyukur memang ilmu tingkat tinggi sekali, namun, menjadi keharusan yang kita perjuangkan sebagai seorang hamba.
 
Saya teringat pada suatu pagi dimana ayah saya memanggil saya ke ruang makan, raut wajahnya membuat saya bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi hingga sepagi ini harus disampaikan, mengingat ketika itu saya sedang bersiap untuk pergi ke sekolah. Iya, saat itu saya sedang menjalani MOS (masa orientasi siswa) di salah satu sekolah menengah atas berbasis islam di Samarinda hasil diskusi bersama orang tua dan sodara2 saya. Ayah saya bertanya “kalo pindah sekolah mau nggak?” HAH? Jelas, jantung siapa yang tidak berdegup kencang ketika masa orientasi yang dijalani untuk menjadi siswa di satu sekolah yang sah saja belum selesai, sudah ditanya tentang kepindahan sekolah. Saya diam saja, menatap nanar wajah pria yang begitu saya cintai ini. Seolah mengerti kebingungan yang saya gambarkan, ayah saya melanjutkan pembicaraannya. Intinya, saat itu ayah saya menerima kabar panggilan bahwa beasiswa yang pernah diajukan oleh kakak saya untuk saya ke salah satu sekolah favorit di kota saya mendapat balasan yang diharapkan. Iya, saya diterima di salah satu sekolah yang bahkan untuk membayangkan memakai seragam sekolahnya saja saya tak mampu. Waktu itu saya berpikir, bermimpi boleh tapi juga harus sadar diri. Saya sadari kapasitas saya yang tidak mumpuni untuk menjadi salah satu siswa disana, tapi kalo Allah sudah berkehendak, siapa yang bisa bertolak. Singkat cerita saya gagal menjadi siswa di sekolah yang bahkan semua keperluan dari seragam, buku, dsb sudah siap tertata di kamar saya, namun akhirnya saya menjadi siswa dimana semua keperluan sekolah saya siap tersedia. Bukankah ini jauh lebih menakjubkan? Bagaimana takdir berbicara.
 
Saya juga menjadi teringat pada beberapa malam dimana saya mencari-cari keputusan. Pasalnya, saat itu saya sedang mengikuti karantina salah satu lomba tingkat provinsi di salah satu asrama. Lawan saya saat itu berasal dari pulau jawa. Yang membuat saya galau adalah juri perlombaan itu adalah kakak ipar saya sendiri yang beberapa hari kemudian saya mendengar desas-desus perihal keberadaan saya hingga sampai pada tahap ini karena jurinya adalah kakak ipar saya sendiri. Sebagai seorang peserta tentu saya sangat geram sekali. Tapi, saya yang saat itu duduk di kelas 2 SMP bisa apa? Ngontrol emosi juga belum lihai, apalagi menyikapi segala sesuatu dengan positive thinking, boro-boro. Singkat cerita, karena terlanjur kesel sama tanggapan orang-orang itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri saja setelah beberapa hari tak sadarkan diri, eh maksudnya setelah beberapa malam galau nangis sesenggukan wkwk (hedeh, alay) meski keluarga saya menguatkan bahwa saya bisa membuktikan perkataan mereka tidak benar dengan sungguh-sungguh berlatih hingga hari H. Oh nooo, saya tidak ingin terlalu banyak risiko. Ada banyak yang saya pertimbangkan saat itu. Sedih sih, tapi yasudahlah kita katakan saja ini salah satu bentuk kecil dari sabar ya.
 
Saya juga kemudian menjadi teringat kembali kurang lebih 4 tahun berlalu dimana saya merasakan berada pada titik terendah dalam hidup ini. I’m down! Sebagai seorang siswa yang baru lulus dari sekolah menengah atas, impian tentang universitas favorit atau terkemuka atau setidaknya yang kita angan-angankan pastilah menjadi pencapaian yang sangat diperjuangkan. Hingga pada pengumuman demi pengumuman yang mendebarkan jiwa membuat kita bahkan tak keruan untuk sekedar menyuap sesendok nasi (nah kan kambuh lagi lebay nya wkwk) singkat cerita setelah melewati beberapa tahap saya sampai pada penentuan kemahasiswian di salah satu universitas kota metropolitan yang sudah saya acc banget waktu itu. Tapi apa yang terjadi?jreng...jreng...kembali saya harus menelan kekecewaan karena beberapa hal semua terbatalkan. Saya sempat merutuki takdir waktu itu, mendekap di dalam kamar dengan mata yang terus sembab, menolak makanan-makanan enak yang padahal kalo lagi gak kenapa-napa makanan gak enak juga saya embat aja #apasih haha berkat kekuatan cinta dan cahaya, elah. Maksudnya karna saat itu gamau nyesel juga akibat berlama-lama menelan kepiluan, saya putuskan terbang ke Kalimantan Selatan seorang diri untuk mendaftar di salah satu universitas negeri buah dari informasi yang kakak saya berikan. Saya pergi seorang diri karna saya...ah bagian yang ini di skip aja ya, ntar ketahuan kenapa saya jadi marah dengan keadaan*eh. 15 hari hingga akhirnya saya dinyatakan lulus menjadi salah satu mahasiswi di universitas ini, Alhamdulillah sekarang udah semester akhir. See, apa yang terjadi setelah kejadian gagalnya saya kuliah di universitas yang saya inginkan lalu menjadi mahasiswi di universitas yang tidak saya elu-elukan sebelumnya? Tidak akan habis kalimat syukur yang saya ucapkan untuk menyatakan bahwa betapa jika saya diberi pilihan untuk kuliah di universitas impian saya pun, saya tetap akan memilih ber almamater kan kuning seperti saat ini. Inikah hadiah dibalik tetap bersyukur meski dalam keadaan tersungkur? Entahlah..tapi anggap saja seperti itu.
 
Kalimat terakhir dari caption postingan seseorang yang saya tidak kenal jika dimaknai lebih dalam juga sungguh menggetarkan jiwa “Dan Ketika kita ingin sesuatu,kita telah menunggu, kita telah bersabar, terus mendapat tidak sesuai dengan harapan , itulah hidup . jangan lah berlama lama dalam kesedihan, kegundahan, dan kecemasan tapi bangkitlah untuk hari hari yang Allah takdirkan itu terbaik untuk mu”. Sekali lagi, takdir, sabar, dan bersyukur adalah tiga kombinasi yang tidak mudah untuk kita aplikasikan. Tapi, semoga apapun yang Allah takdirkan dalam hidup kita bisa kita sertai dengan sabar dan bersyukur. Selamat menemukan makna dibalik perjalanan yang melambung dan menghempaskan, selamat menggali kesabaran dari setiap hadiah yang diberikan Allah yang tidak selalu berbungkus kertas kado rapi nan indah, dan selamat! Selamat atas penghambaan diri yang selalu bersyukur meski sekalipun dalam keadaan tersungkur.

  • view 158