Kopi dan kehidupan

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Mei 2016
Kopi dan kehidupan

Kau pernah membayangkan jika banyak gula yang kau campurkan ketika menyeduh kopi?
Apa kau juga pernah bertanya kenapa kopi yang identik dengan rasa pahit itu banyak penikmat nya?
Pun pernahkah kau mencari tau kenapa kedai2 kopi semakin melanglang buana?

Jika semua jawaban mu tidak, kita sejawaban. Nyatanya kopi yang jelas2 pahit itu tetap ingin dihirup oleh para penikmat. Tidak peduli seberapa pahitnya. Malah, jika tidak pahit katanya sensasinya kurang, justru disitu keunikannya. Justru itu yang membuat jatuh cinta.

Mari kita ber analogi...
Jika secangkir kopi itu adalah kehidupan, rasa manis dari sedikit gula dan dominansi pahit yang merajalela, apa kita tetap bisa jatuh cinta? Seperti jatuhnya orang2 yang menyukai kopi tanpa meminta lebih banyak gula?
Jatuh cinta yang berarti perfect or imperfection tidaklah menjadi sebuah dilema. Selama cinta bukankah semua nya menjadi baik2 saja?

Bagi penikmat kopi, justru itulah daya tarik nya. Namun, di mata unlikers aroma nya saja sudah sungguh membuat sakit kepala. Begitulah..dalam hidup ini, suka tidak suka, cinta tidak cinta bukan hanya sekedar tanya, lebih dari itu adalah bagaimana kita melabelkan makna. Yg tertawa belum tentu bahagia, dan yang menitikkan air mata tidaklah selalu sedang berduka.

Mencintai kehidupan adalah tugas yang tidak mengenal kenapa kita diberi ujian seperti ini, kenapa kita mendapat ini, kenapa kenapa dan kenapa. Karna hidup bukan pertanyaan tapi perjalanan~

  • view 265