KETIKA MERASA SEPERTI SERPIHAN RENGGINANG DI KALENG KHONG GUAN

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 14 Mei 2016
KETIKA MERASA SEPERTI SERPIHAN RENGGINANG DI KALENG KHONG GUAN

Entah sejak kapan istilah “aku mah apa atuh” jadi nge trend terutama di kalangan anak muda, yang anak muda pasti familiar banget sama istilah ini. Kalimat aku mah apa atuh menggambarkan seseorang yang sedang merendah diri yang kemudian disusul dengan kalimat yang terkesan konyol. Terutama sih di kampus. Kalimat ‘merendah’ yang kalau dilontarkan biasanya akan membuat suasana menjadi lebih cair. “aku mah apa atuh, cuman butiran debu” istilah lengkap yang pertama kali nge hits menjadi kalimat pamungkas ketika pembicaraan mulai meninggi. Istilah ini menjadi lengkap sejak grup band rumor merilis lagu dengan judul butiran debu yang sempat populer di 2011 an kali ya dan terus berkembang dengan imbuhan-imbuhan lainnya. “Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam, aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, aku tanpamu butiran debu” lirik lagu rumor di bagian ini diduga menjadi tersangka utama maraknya penggunaaan istilah aku mah apa atuh. Halah. Lebay!wkwk tapi setelah dipikir-pikir emang perih banget loh kalo dianggap butiran debu. Coba bayangin deh, bayangin ya, debu itu menurut wikipedia ialah nama umum untuk sejumlah partikel padat kecil dengan diameter kurang dari 500 mikrometer. Sederhana nya deh, kalian pasti pernah ke pantai kan? Terus genggam2 pasirnya kayak di sinetron2 itu pernah juga kan? Habis itu kalian buka ruas-ruas jari kalian hingga pasir itu jatuh terlepas dari genggaman tangan, pasti ujung-ujung nya kayagitu kan? Bayangin, satu butir pasir bray. Elah. Keblinger ngeliatinnya. Begitu dah, gimana gak perih kalo dianggap butiran debuw. Huw, jahat!haha kenapa jadi baper?*abaikan*
 
Semakin banyaknya orang yang tertarik memakai istilah aku mah apa atuh, membuat para pecinta kreativitas bergerak cepat. Mulai dari bermunculannya meme-meme, lagu dengan judul yang sama menjadi laris manis, hingga kini sampailah pada bahasa sunda yang sesungguhnya, “da aku mah apa atuh” yang berarti "saya ini siapa, apalah saya ini" ya pokoknya apalah-apalah itu. Honestly, saya pribadi suka reflek tertawa ketika ada selingan istilah ini dalam pembicaraan. Kreatif banget dah ni orang-orang. “da aku mah apa atuh, cuman angka nol dibelakang koma”, “da aku mah apa tuh, bawa mobil juga hasil rental”, “da aku mah apa atuh, bisa liat kamu dari kejauhan aja udah alhamdulillah *janganbaper*”, hingga “da aku mah apa atuh, cuman serpihan rengginang di kaleng khong guan” hahaha ini nih menurut saya yang gokil banget. Coba kalo kita telaah lebih dalam. Nih kan rengginang nih ya *lihatrengginangditangansaya*, ini kaleng khong guan *ambilkalengdirumahmasing2*. Ya pikirin aja dah, udah serpihannya rengginang, terus keberadaannya bukan di tempat yang bener pula. Menyedihkan! Btw, panjang banget ya basa-basi saya?hehe intinya itu saya mau cerita ketika saya merasakan aku mah apa atuh sesungguhnya. Eaaaa. Tapi, sebelumnya saya mau tanya, apa sih yang dirasain ketika mengatakan aku mah apa atuh?tetot...waktu habis :D
 
Saya adalah mahasiswi rantau yang tinggal terpisah dari keluarga, mau jadi hitam atau putih di kota orang ini, sepenuhnya di tangan saya. Meski selengean dan kata orang-orang menjadi pendiam adalah mimpi yang tak akan terwujud, sejatinya saya berpotensi besar untuk menjadi kalem dan anggun wkwk percaya gak percaya, udah banyak yang beranggapan ketika jumpa pertama dengan saya, saya adalah wanita kalem nan pendiam. Itu sudah menunjukkan betapa berpotensi nya saya. haha Tapi, sayang sungguh sayang ketika berteman lebih jauh, mereka harus kecewa karna mendapati saya yang bawel dan ceplas ceplos. Aaaaak. Afika sedih!:( sebagai seorang wanita yang bercita-cita menjadi anggun dan pendiam, saya terus berusaha mencoba-coba hal baik. ngerik. salah satunya mendengarkan kebaikan.
 
Pernah suatu kali saya menghadiri pengajian yang saat itu temanya menarik hati. Jangan ditanya apa temanya, saya lupa. Hehe yang saya ingat adalah, saat itu dimana saya merasa seperti serpihan rengginang di kaleng khong guan. Sejak pertama kali datang ke kota ini hingga sekarang, transformasi cara berpakaian saya bisalah kalo dibilang maju ke depan. Dengan kemajuan ini, langkah saya otomatis menjadi lebih terkontrol. Pernah suatu kali saat saya dan teman-teman pingin karaoke an, saya merasa sangat malu sekali masuk ke tempat itu karna begitu kontras dengan pakaian saya. Meski akhirnya saya tetap masuk juga (namun, percayalah itu terakhir kali dan setelahnya pintu hati saya sudah tertutup) apa?pintu hati kamu sudah tertutup? iya, tertutup untuk orang lain dan hanya terbuka untukmu. eaaaa *yangbacalangsungmaumuntah* hihi mohon maaf, saya tidak bermaksud menunjukkan betapa baiknya saya, saya hanya ingin menyampaikan maksud dari adegan ini bahwa berjilbab atau berpakaian tertutup itu gak melulu ketika kita sudah baik, bisa jadi dengan sok2 baik menjadi langkah awal untuk menyudahi hal-hal kurang baik lainnya lalu menjadi baik beneran. Dan lagi, saya tidak mengatakan tempat karaoke adalah tempat tidak baik, ini hanya contoh kecil yang tidak perlu di besar2kan. Hehe
 
Oke, back to the serpihan rengginang. Singkat cerita ketika saya sampai di tempat pengajian, tepat di depan pintu, saya terkesima melihat seorang ibu dan anaknya yang saya perkirakan berumur 4thn an sedang khusyu melakukan gerakan sholat. Saya rasa mereka sedang sholat dhuha, mengingat waktu itu sekitar jam 9 pagi. Dan hati saya berkata, syahdu. *kemudianbaper*wkwk awalnya saya biasa saja, hingga sampai ke dalam ruangan apa yang saya lihat? Jengjeng...saya bak tanaman putri malu yang melayu karna tersentuh. Kalian bisa bayangkan ketika di SMA semua murid memakai seragam putih abu-abu dan kalian sendiri pake baju olahraga waktu itu?iya, tepat. Tapi, bedanya saya tidak ditatap aneh disini. Karna sudah kepalang basah, saya lanjutkan langkah saya untuk kemudian duduk di barisan kedua. Saya tidak berani terlalu lama mengangkat kepala dimana kanan dan kiri saya baik anak muda maupun ibu-ibunya memakai pakaian, yang ah sudahlah, kalian pasti mengerti bagaimana berkebalikannya dengan penampilan saya. Saya benar-benar merasa seperti serpihan rengginang di kaleng khong guan. Semua rasa berkecamuk. Paling terutama adalah merasa malu. Untungnya level hobi saya memakai baju dengan warna cerah sudah berkurang, dengan baju terusan hitam dan jilbab biru langit, setidaknya saya masih sedikit selamat dari kementerengan. Huhu
 
Setelah kurang lebih dua jam, berakhirlah acara tersebut. Saya memilih untuk tidak langsung pulang dan tiba-tiba seorang ibu menghampiri. “adik kuliah dimana?” tanya ibu tersebut. Berawal dari pertanyaan ini, mengalirlah pembicaraan hangat diantara kami. Keesokan harinya saya pergi ke salah satu masjid hasil dari informasi yang diberikan ibu kemarin, melaksanakan sholat maghrib berjamaah disana dan apa yang saya dapati? Lagi-lagi saya mati gaya. Masih dengan ke sok percayaan diri padahal aslinya saya minder banget, saya masuk lalu duduk di samping salah satu tiang. Kalo kemarin saya terkesima dengan salah satu bentuk ketaatan mereka melalui cara berpakaian, aktivitas mereka yang kalo gak sholat ya ngaji, lalu tertampar dan merasa seperti serpihan rengginang ketika berada diantara mereka, hari ini saya merasa seperti digebukin, ketika iqomat mereka serentak berdiri lalu merapikan shaf sholat daaaan cuman saya yang pake mukena! Bayangin dong betapa bersinarnya saya. Huhu bukankah ini telak menunjukkan bahwa pakaian saya belum masuk definisi takwa? Ah cukup sampai disini saja ya, saya tak sanggup melanjutkannya :(
 
Sekarang, kalo boleh mungkin lebih baik langsung saja kita coba telusuri maksud dibalik kenapa saya merasa seperti serpihan rengginang di kaleng khong guan ya. Coba gabungkan pemaparan makna istilah rengginang dengan cerita saya maka kita akan menemukan hubungan makna dari kedua hal ini hehe udah kayak intruksi teka-teki aje (maaf, sejujurnya ini semata karna saya tlah lelah mengetik saja) intinya..mari kita saling mendoakan semoga kita bisa terus diberi kekuatan untuk menjalankan perintah Allah terutama segala aturan sebagai seorang wanita. Semoga kita diberi kekuatan untuk selalu percaya bahwa segala yang diperintahkan bukan untuk membebani melainkan untuk melindungi dan menghormati diri. Sebagaimana sesuatu dan tempat, maka alangkah indah jika semuanya sesuai. Inti dari agama adalah akhlak, dan kewajiban seorang hamba yang beragama adalah patuh. Da kita mah apa atuh, Cuma seorang hamba yang aib-aib nya tertutupi atas kasih sayang Allah. Wallahu’alam

  • view 1.4 K