Tampan, mapan, atau yg memperjuangkan bersanding ke pelaminan?

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 14 Mei 2016
Tampan, mapan, atau yg memperjuangkan bersanding ke pelaminan?

Masih teringat jelas pemandangan suami istri yang sering jalan santai sore dibalik jendela asrama ketika saya SMA dulu, yg membuat saya & teman2 memekik iri. Romantis. Umur mereka tak lagi muda, tapi pegangan erat kedua tangan mereka seolah memberitahukan bahwa inilah cinta yang tidak lekang oleh waktu. Saya lupa entah sejak kapan topik ini jadi selalu hangat diperbincangkan. Sejak usia saya 20+ ? Entahlah..seingat saya bahkan jauh sebelum usia 20thn, saya sudah sangat memimpikan moment ini. Bahkan (dulu) saya sudah merancang konsep tentang pernikahan dengan sangat detail, di hari yg kata orang2 adalah moment yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup ini saya ingin seperti ini, seperti ini, & seperti itu. Ah, malu rasanya jika ingat -+ 4 thn lalu betapa dangkalnya saya memahami moment sakral ini. Waktu memang bisa mengikis apa saja. Lambat laun saya belajar & mencoba memahami esensi dibalik kata 'sah' dan seiring berjalan waktu rasanya saya semakin takut dengan impian saya sendiri. Ada banyak potret rumah tangga yg memupuk dan me layu kan keinginan saya. Ya Tuhan, sampai suatu ketika waktu itu datang apa saya pantas berlabel 'istri' ?
 
Saya pernah membaca tulisan dari seorang Kurniawan Gunadi yg isinya kurang lebih seperti ini 'menikah lah ketika ego mu telah habis' penjabarannya melemaskan jari jemari. Bahwa, ketika tlah menikah bagaimanapun caranya kita sudah tidak bisa berbicara tentang diri sendiri lagi. Kalau hari ini kita bebas mau pergi kemana saja, melakukan apa saja, menunda apapun sesuka kita, habiskan hari ini. Karna besok, ketika tlah menikah semua keinginan itu mungkin hanya bisa kita awang2. Dulu, berbagai kriteria terangkum rapih dalam buku kehidupan saya, sampai suatu ketika saya melihat seseorang yg memiliki pasangan tampan tapi sikapnya kasar, saya melihat seseorang yg pasangan nya kaya raya tapi miskin kasih sayang, saya melihat seseorang yg saling mencintai tapi tidak saling mengingatkan dalam perjalanan menuju surga, dan saya memutuskan untuk menghapus seabrek kriteria itu ketika melihat sepasang suami istri yang hidup sederhana tapi mereka tidak pernah kehabisan alasan untuk bahagia. Ada Alquran dalam hati mereka, ada Allah dalam mahligai rumah tangga mereka. Sehingga apapun yang terjadi meski lauk seadanya, tempat tinggal ala kadarnya, kekurangan semakin nampak tiap harinya, tidak masalah bagi mereka karena mereka selalu melibatkan Allah. Karena tujuan mereka adalah ridho Allah. Maka benar saja, pilihlah yang baik agamanya, jika mencintai ia akan memuliakan, jika tidak suka ia tidak akan menghina.
 
Duh, berat banget ya bahasannya hehe udah pingin nikah banget bu? Ya nggak juga sih..cuman suka aja kalo ngomongin ini *etdah sama aja kali* wkwk nggak, sebenernya nggak gitu. Cuman yaaa emang udah tugas perkembangannya kan memikirkan ini? Malah kata dosen saya di psikologi, aneh kalo umur diatas 20 gak kepikiran tentang ini hihi *caripembelaan*. Jadi, kapan mau nikah? Tunggu dilamar. Dilamar sama siapa? Dilamar jodoh haha sama halnya seperti skripsi yg katanya predikat lulus bukanlah suatu perlombaan, menikah juga seperti itu. Ini tentang kesiapan dan takaran kesiapan adalah kuasa Allah. Tugas kita adalah bersiap diri, mana tau besok ada yang bertandang ke rumah *eh ah udah ah makin ngaur dan kode keras kalo bahasa kita jaman sekarang. Padahal yg dikodein sebenernya juga gaada :D eh tapi beneran..mikirin pendamping hidup, bicara tentang pernikahan, dan segala runtutannya bukan hal yg memalukan. Kalo kata orang2 kebelet mah ya biarin aja, yang penting gak melanggar aturan Allah. Sabaaaar kata Afgan ‘jodoh pasti bertemu’. Kalo ketemu karna bersanding di pelaminan Alhamdulillah, ketemu sebagai tamu undangan ya gak apa2 juga. Kan kalo gak sepelaminan berarti bukan jodoh. So simply, kalo gak mendahului takdir Allah semuanya kejutan dan bakal jadi kabar membahagiakan. Kado istimewa. Ih jadi penasaran ntar dipertemukan sama siapa wkwk
 
Saya itu suka nonton film dan baca buku2 romantis, jadi khayalan tentang pertemuan tidak terduga itu udah diluar kepala. Rasanya kayak ada manis2 nya gitu. Belum pernah ketemu sebelumnya eh tau2 udah yakin aja. Hmmm *jitakkepalasendiri* risiko banget hidup di jaman baper gini haha namun seperti yang saya katakan diawal tadi, perlahan tapi pasti ada banyak ketakutan yang menyelimuti impian saya. Saya bahkan tidak menemukan jawaban yang meyakinkan antara apakah saya sudah ‘siap’ atau saya hanya ‘ingin’ ? ini pertanyaan yang jawabannya tinggal pilih, tapi oh Gusti...ini sungguh tidak mudah. Masih ada banyak hal yang ingin saya lakukan dan saya semakin merasa saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Karenanya, sampai waktu itu tiba saya berharap Allah mempertemukan dengan seseorang yang melabuhkan hatinya dan melangkahkan kakinya dalam syariat Allah, sehingga apapun yang terjadi, everythings gonna be okay. Selamat menanti jodoh. Tak penting siapa yang tampan dan siapa yang mapan, yang penting siapa yang memperjuangkan bersanding ke pelaminan hihi ayuks berlomba-lomba dalam jomblo sampe halal. gak apa2 mah jomblo, yg penting pas di pacarin udah ada buku nikah nya hahaha

  • view 191