Perempuan dibalik emansipasi #latepost

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Mei 2016
Perempuan dibalik emansipasi #latepost

Hari ini sejarah terkenang kembali, peringatan hari kelahiran sosok perempuan hebat yang namanya begitu harum. Kartini. Iya, Raden Ajeng Kartini yang lebih luwes kita sebut ibu Kartini. Berpuluh tahun silam, raganya pergi meninggalkan dunia, tapi hingga detik ini perjuangannya terus merasuk didalam jiwa. Semangat dan tekadnya terus menyuntikkan cairan2 kebanggaan betapa karena pengorbanannya, perempuan hari ini sudah lebih dari merdeka. Tidak akan mampu membayangkan jika dulu sosok wanita ini tidak bergerak dan hanya bespasrah diri dengan keadaan, dimana pada waktu itu perempuan-perempuan pribumi begitu dibatasi. Mungkin tidak ada dosen cantik di Universitas, tidak ada manager perusahaan yang anggun, tidak ada tenaga kesehatan yang ramah dan pengertian, tidak ada bisnis women, tidak ada pejabat negara yang sekaligus menjabat ibu rumah tangga, dan posisi-posisi lainnya di negeri ini. Bukan karena perempuan lebih hebat dari laki-laki, itu tidak perlu ditekankan lagi. Wanita tidak akan pernah bisa membelakangi laki-laki, bahkan dalam proses penciptaannya pun, wanita hanyalah bagian dari tulang rusuk lelaki. Itu sudah cukup memberitakan bahwa bagaimanapun, laki-laki akan lebih unggul.
 
Sejarah ini berbicara tentang bagaimana seharusnya wanita memposisikan dirinya, menuntut hak-hak hidupnya. Bahwa perempuan berhak mendapatkan perlakuan dan pendidikan yang layak. Seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum. Berawal dari ketertarikan Kartini pada pola pikir perempuan eropa yang kala itu ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku, membuat beliau memiliki pengetahuan yang cukup luas soal ilmu pengetahuan dan kebudayaan, hingga akhirnya Kartini memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita karena melihat perbandingan antara wanita eropa dan wanita pribumi. Ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi. Seperti yang kita pahami bahwa cita-cita luhur Kartini adalah ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Iya, sepengetahuan saya, hal utama yang diperjuangkan oleh kartini adalah pendidikan. Seiring perkembangan jaman, wanita dengan pemikiran yang semakin maju terus melaju menembus berbagai sektor dalam kehidupan ini. Sebagaimana pemandangan yang kita lihat hingga hari ini. Perempuan begitu mengagumkan bukan? Dibalik rasa kasih sayang dan kelemahlembutannya, wanita adalah sosok yang begitu kuat dan hebat.
 
Hari ini, ingatan terputar kembali tentang perjuangan perempuan yang pada tanggal 2 Mei 1964, ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional hingga di setiap hari lahirnya, yakni 21 April, para perempuan dengan bangga mengucapkan “selamat hari kartini”. Perempuan hari ini sudah tidak lagi diidentikkan dengan slogan ‘dapur, sumur, kasur’ yang dulu begitu melekat. Suatu kebanggaan memang, tapi melihat pergerakan perempuan yang semakin kehilangan kontrol, dalih emansipasi rasa-rasanya justru menjadi hal yang menakutkan.
 
Entah karena pemahaman yang begitu general atau karena justru tidak memahami esensi luar biasa dari emansipasi wanita, banyak perempuan hari ini yang tidak sadar telah dijajah setelah dimerdekakan. Dijajah oleh modernisasi, westernisasi, hingga alayisasi yang justru menurunkan harkat martabatnya. Memang benar, perjuangan Kartini dulu dilatar belakangi kehidupan para wanita pada zamannya yang pada umumnya hanya menjalankan kehidupan sebagai ibu rumah tangga yang terbatas pada tugas menjalankan fungsi sebagai istri, mengasuh anak, mengurus dapur, dan pekerjaan rumah tangga lainnya saja. Kartini melihat para wanita pada waktu itu tidak memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan kaum lelaki untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dalam kondisi seperti itu Kartini juga melihat adanya kesenjangan intelektual di antara suami istri dalam hal pendidikan. Padahal untuk bisa membentuk keluarga yang baik, terutama dalam mendidik anak, selain diperlukan seorang ayah yang berpendidikan tinggi, juga diperlukan seorang ibu yang berpendidikan tinggi. Jadi bila disimpulkan arti emansipasi dan apa yang dimaksudkan oleh Kartini adalah agar wanita mendapatkan hak pendidikan seluas-luasnya, setinggi-tingginya, agar wanita juga di akui kecerdasannya dan diberi kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya serta agar wanita tidak merendahkan dan di rendahkan derajatnya di mata pria.
 
Dari latar belakang sejarah perjuangan Kartini sudah jelaslah bahwa arah perjuangan Kartini adalah memajukan kaum wanita yang dimulai dari pendidikan. Kartini tidak pernah menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang lebih rendah daripada pekerjaan yang dilakukan oleh kaum lelaki. Lalu, kenapa perempuan hari ini seolah alergi jika hanya menduduki posisi ibu rumah tangga? Kenapa masih ada pemikiran bahwa sekolah tinggi akan merugi jika akhirnya hanya berbakti pada suami? Padahal walaupun istri memiliki posisi tinggi di pemerintahan atau perusahaan, memiliki jabatan penting di instansi tempatnya bekerja, namun di rumah ia tetap menjadi istri yang memiliki kewajiban dalam melayani suami. Pelayanan istri kepada suami tidak terkait dengan jaman, apakah seorang istri berada di jaman kuno atau jaman modern. Jangan sampai karena semangat dibalik emansipasi wanita, kita kehilangan pintu-pintu menuju surga karena disibukkan dengan karir dan pencapaian. Terjebak dalam slogan modernitas yang mengajak kita meninggalkan rumah, melupakan kodrat sebagai seorang wanita yang sesungguhnya, yaitu ketika menjadi anak bisa menghantarkan orangtua ke depan pintu surga, menjadi istri yang wajib berbakti pada suami, menjadi ibu sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya. I R O N I S, ironis! Jika perjuangan dan pengorbanan emansipasi wanita justru membuat kita tidak menjadi wanita yang sesungguhnya. Selamat hari kartini. Mari memahami emansipasi wanita tidak hanya dari satu sisi kemajuan, tapi juga bagaimana ketetapan sebagai seorang perempuan dalam peraturan yang telah Allah tetapkan.
 
Ibu kita Kartini
 
Putri sejati
 
Putri Indonesia
 
Harum namanya
Ibu kita Kartini
 
Pendekar bangsa
 
Pendekar kaumnya
 
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
 
Putri yang mulia
 
Sungguh besar cita-citanya
 
Bagi Indonesia
 
Kebanggaan menjadi seorang perempuan, adalah perasaan yang tidak dapat dielakkan. Sekali lagi, Selamat hari kartini. Teruslah bergerak para wanita di sudut manapun negeri ini.

 

  • view 101