Wanita, kita lah sebaik-baik perhiasan dunia!

Nur Hikmah Safilarial
Karya Nur Hikmah Safilarial Kategori Motivasi
dipublikasikan 14 Mei 2016
Wanita, kita lah sebaik-baik perhiasan dunia!

Saya pernah ada di posisi itu. Posisi dimana jatuh bangun dalam usaha untuk menghargai diri sendiri. Seperti semua hal yang tidak bisa instant dalam hidup ini, berhijab pun butuh proses, perlu kekuatan dan keteguhan hati, melawan ego diri sendiri dan orang lain. Pernah suatu kali saya dibuat tertawa geli saat seorang tukang parkir menyapa saya ibu, 'sudah mau pulang bu?' Lalu bapak itu tiba-tiba meralat kalimatnya dengan cepat setelah saya memalingkan wajah sambil menjawab 'iya'. 'Eh maaf, maksudnya mbak' ralat bapak parkir tsb sambil nyengir dengan wajah merasa tidak enak. Saya hanya tersenyum saja sambil meng Aamiin kan dalam hati, bahwa suatu hari nanti saya memang akan menjadi seorang ibu. Sebelum kejadian ini, dulu saya juga pernah ada di posisi yang sama, bedanya dulu saya akan kesal setiap kali dipanggil ibu karna jilbab panjang yang saya usahakan dan secara spontan langsung menyalahkan jilbab yang saya kenakan, lalu kemudian saya akan memandang lama wajah saya dengan balutan jilbab itu di depan cermin setiap ingin bepergian. Hasilnya, saya sering kalah dengan perasaan sendiri. Harus saya akui, setiap wanita ingin terlihat cantik, tapi dulu saya terlalu dangkal dalam mendefinisikannya. Bukan dalam kurun waktu yang sebentar untuk mengambil sisi positif dari setiap opini orang lain tentang jilbab. Saya ulangi sekali lagi, berhijab butuh keteguhan dan kekuatan hati.

Di era modernisasi seperti sekarang, para wanita semakin cantik dengan trend2 kekinian. Entah sejak kapan penghargaan wanita terhadap dirinya sendiri mengalami penurunan. Tapi, saya tidak ingin membahas tentang betapa merosotnya cara wanita menghargai diri sendiri. Itu terlalu berat, saya pun masih tidak begitu paham ilmunya. Yang saya tau, berhijab itu kewajiban dengan segala ketentuannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al Ahzab ayat 59 :

"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu serta istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh. Yang demikian itu supaya mereka lebih di kenal, karena itu mereka tidak di ganggu"

Tapi, lagi-lagi saya tidak bermaksud mengupas cerita ini dengan teori yang saya sendiri belum memahami benar bagaimana esensinya. Saya hanya ingin menuntaskan keheranan saya saja melalui tulisan ini. Apa hanya ibu2 yang boleh berhijab sesuai syariat islam? Hingga anak muda seperti saya sering gugur di medan perjuangan karna kehilangan kepercayaan diri akibat opini2 seperti penggalan cerita diatas tadi? Apa karna ibu2 itu lebih tua dari kami? Padahal ajal tidak mengenal angka kehidupan. Saya berani mengatakan seperti ini bukan karna hijab saya telah sempurna. Tidak. Bukan sama sekali. Saya hanya ingin menulis, ingin berbagi, ingin saling melemparkan kekuatan.


Kepada setiap wanita di dunia ini, berhijab butuh proses. Kita perlu keteguhan dan kekuatan hati. Teruslah berjuang..karna proses dikatakan proses ketika kita terus berjalan menelusuri. Kita lah sebaik-baik perhiasan dunia. Seperti sabda Rosulullah SAW tentang keutamaan wanita sholihah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim). Dengan berjilbab bukan berarti kita telah sholihah, tapi perempuan yang sholihah sudah pasti berjilbab. Semoga kita segera sampai pada apa yg kita butuhkan dalam hidup ini. Keamanan, ketenangan, kedamaian. Dengan berhijab sesuai ketentuan, In Shaa Allah kita akan mendapatkan semuanya.

  • view 200