Didikan Hebat Itu Dari Keluarga

Nurhidayah Tanjung
Karya Nurhidayah Tanjung Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2016
Didikan Hebat Itu Dari Keluarga

Ketika semua orang sibuk membicarakan hal-hal baru pada sahabatnya. Aku masih disini, sibuk berbagi tawa bersama keluarga. Aku tak perlu malu, tak seperti kebanyakan orang. Menghabiskan banyak waktunya mencari sensasi baru bersama kawan. Tapi keluarga tak dihiraukan.

Aku memang orang yang lambat mengetahui informasi. Terutama yang sedang hangat di media sosial. Bukan karena aku tak bergaul dengan banyak orang. Tapi dunia nyataku jauh lebih mengasyikkan.

Mari kubagi sedikit cerita mengenai keluargaku. Kami hidup sederhana, atau lebih tepatnya masih banyak kekurangan. Kekurangan inilah, kekurangan itulah. Tapi, keluargaku selalu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Sang Maha Pengasih.

Berangkat dari hati yang berusaha selalu bersih. Keluargaku penuh dengan keakraban. Aku bahkan tak pernah merasa berjarak dengan keluarga. Ayah dan Ibuku super baik hati. Walaupun terkadang sering bawel dan cerewet. Sah-sah saja jika itu terjadi.

Aku, Kakak beserta Adikku di didik penuh rasa kesederhanaan. Tak perlu menjadi layaknya orang pamer. Jika sederhana saja lebih mampu membuat bahagia.

***

Mendung menggantung di ujung langit. Angin berhembus lebih cepat. Suasana mendadak menjadi dingin. Hujan lagi.

Suasana begini langsung menyentak diriku. Senyuman penuh makna terpampang jelas di wajahku. Sudah pasti dapat ditebak apa maksudnya. Ibuku tersenyum kecut sambil mengelengkan kepala. Ternyata dia tidak setuju dengan fikiranku.

"Boleh ya, ayo.." bujukan manja mengalun dari bibir Adikku.

Pintar sekali dia merayu. Hingga Ibuku akhirnya menyerah, yup.. Suasana dingin seperti ini sungguh benar-benar membutuhkan sebuah kehangatan. Kemudian Ibuku besera aku dan Adikku memasak beberapa bungkus mie di dapur.

 

Sungguh, hal kecil sepert ini yang sangat menyenangkan. Tak perlu menunggu lama, mie berkuah yang masih panas itu terhidang di depan mata. Aromanya sangat menggoda. Kami sekeluarga segera menyantapnya bersama.

Aku pernah ingat, Ibu dan Ayahku berkeinginan agar kami anaknya menempuh pendidikan berbasis Islam. Hingga mereka mengirim anaknya bersekolah ke sekolah berbasis Islam.

Mungkin karena mereka ingin keluarga kami menjadi keluarga sehidup sesurga.

***

Bukan gelimang harta yang dapat mengukur kebahagiannmu. Bukan tinggi jabatan yang dapat mencipta rasa bahagia. Tapi hati yang tentram mampu mengukir bahagia selamanya.

"Janganlah angkuh. Kita hidup biasa saja, jadilah diri kita sendiri. Tak perlu malu."

Itu benar sekali. Mengapa kita perlu malu jika keluarga kita miskin? Bapak kita tukang sapu? Atau Ibu kita buruh cuci?

Mengapa perlu malu? Bukankah itumlebih mulia daripada bergelimang harta dari suatu pekerjaan yang tidak di ridhoi Allah.

Kita hanya perlu bangga. Mempunyai Orang tua yang sekuat tenaga membiayai kehidupan kita. Atau bahkan menyekolahkan kita setinggi mungkin. Tapi dengan tetes keringat yang halal dan penuh berkah.

Alhamdulillah. Keluargaku selalu berusaha mempraktekkan konsep itu. Konsep keluarga sederhana, dan keluarga sehidup sesurga. Bahkan Ibuku pernah berpesan pada anaknya, bahwa jadilah diri kita sendiri. Tak perlu berusaha menjadi orang lain. Tak perlu menjadi seperti kekuarga yang lain.

Dan yang menjadi penting pula adalah bahwa berkomunikasi setiap waktu dengan keluarga. Keluargaku sering kali berbagi cerita dan pengalamannya setiap hari. Sehingga tak menyebabkan miss komunikasi.

Hampir setiap hari itu pula keluargaku saling mengingatkan dalam kebaikan. Mengingatkan untuk beribadah satu sama lain. Mengingatkan untuk selalu belajar dan berusaha. Dan jangan pantang menyerah.

"Jika kamu gagal, setidaknya kamu pernah mencoba. Dan jika orang lain menunjukmu kembali, itu artinya mereka percaya. Bahwa kamu bisa." 

Kalimat itu memang bisa menyihir pemikiranku. Terutama tentang kegagalanku dalam beberapa lomba. Itulah kalimat penyemangat dari Ibuku. Hingga aku selalu percaya bahwa kegagalan itu bukan untuk memberhentikan langkahmu. Tapi untuk memacumu lebih dari sebelumnya.

Itulah sebuah didikan dari keluarga.

#SehidupSesurga

  • view 221