naskah drama

nur hayati
Karya nur hayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018
naskah drama

INA MATREA

(Pagi itu suasana di Pulau Komodo begitu sunyi hanya bertemankan siulan bunyi burung yang merdu dan indah. Hari itu tampak sepasang suami istri sedang memanen ubi hasil tanaman mereka di kebun tanah peninggalan orang tua istrinya.)
Tandean : Sepertinya ubi-ubi ini hanya sebagaian saja yang masak, jadi tidak semuanya bisa kita ambil untuk dijual ke pasar,
Ina Matrea : Kalau begitu ambil saja yang masak, untung-untung hanya buat isi perut yang kosong.
Tandean : Baiklah, segera bantu saya mencabut batang ubi ini. Jagan hanya banyak bicara saja ina.
(Sambil asyik menyibukkan diri dengan ubi-ubi itu, tiba-tiba Ina Matrea berteriak kesakitan. Suaminya yang mendengar merasa sangat kaget karena mendengar suara istrinya yang menjerit kesakitan. Ternyata tangannya mengenai parang yang ia gunakan sehingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah yang banyak.)
Tandean : sudah-sudah, lepaskan parang itu. Isterahat saja supaya tidak lebih banyak mengeluarkan darah (kesal).
pulang saja kerumah, obati luka itu.
Ina matrea : Baiklah saya akan segera pulang kerumah. Sehabis luka saya obati, saya akan segerah memasak separuh ubi ini dan menyiapkan makan siang mu.
(pulanglah ina matrea kerumah mengobati lukanya dan membersikan ubu-ubi untuk di masak buat suaminy.)
Tandean : Sudah dari tadi umpan ini saya buang, tetapi saja tidak ada ikan yang mau menyambarnya. Mau sampai kapan seperti ini, apa mungkin aku harus pulang saja. Biar besok saya melanjutkan macingnya.
(Ama Tandean akhirnya pulang kerumah dengan rahut wajah yang terlihat sangat letih ditambah dengan rasa kecewakarena tidak membawah pulang hasil pancingan. Setibahnya dirumah Ama Tandean baru minginjakan kakinya dihalam rumah, tiba-tiba pandangannya langsung tertujuh pada saudara Ina Matrea yang mengenakan sarung milik Ina Matrea. Denga suasana yang lagi campur aduk, suami Ina Matrea merasa cemburu melihat keadaan saat itu. Ama Tandean tidak mau lagi bertanya-tanya perihal apa yang membuat saubara Ina Matrea memakai sarung milik Ina Matrea . Rasa kecewah tumbuh dengan rasa cemburu dan curiga yang sudah terlalu berlebihan melampiaskan kekesalannya terhadap istrinya dengan segala cara.)
Tandean : Apa yang kau lakukan disini selama saya berpergian kelaut untuk memancing ikan?Apa kau berusaha untuk mencoba mengkhianati saya.
Ina Matrea : Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham dengan apa yang kau lihat.
Tandean :Salah paham kau bilang? Saya melihat dengan sendiri bahwa dia keluar dari rumah ini mengenakan sarung milikmu. Ini masih saja kau membantah? Kau jangan mencoba lari, akan saya bunuh kau dengan parang ini.
(Ama Tandean yang merasa dirinya sudah tidak sanggup menahan rasa emosi dengan tiba-tiba secara tidak sadar dia mengambil parang untuk membunuh istrinya. Dan berusaha mengacu atau membelah istrinya pada malam hari. Ina Matrea berpikir bahwa semua ini hanya berdasarkan oleh rasa cembur suaminya terhadapnya yang tidak bisa ia bendung lagi.)
Ina Matrea :Jangan kau biarkan rasa cemburumu menguasaimu. Ini salah paham.dia saudara saya.
Tandean :Tidak, kau harus mati sekarang.
(Pada malam hari Ina Matrea tanpa berpikir panjang ia berniat melarikan diri dari rumahnya sekaligus membawah anaknya dengan mengendong anaknya pergi.. Tidak lama kemudian setelah ia mencari istri dan anaknya yang tak juga ia temui, tiba-tiba suaminya berpikir untuk melanjutkan mencari mereka disekitar jurang dan bawah kaki gunung.Setelah Ama Tandean melihat istrinya,ia berusaha mendekati lalu meminta maaf atas kesalahannya itu yang terlalu dikuasai rasa cemburu yang berlebihan. Ia berusaha dengan sebaik mungkin untuk mengajak Ina Matrea pulang kerumah. Namun syangnya, ia merasa putus asa dengan jawaban istrinya yang sangat mengiris hatinya.)
Ina Matrea : Saya tidak mau pulang lagi ke rumah sampai seumur hidup. Meskipun kau memaksaku. Saya Samerasa sangat kecewa dengan sikapmu kemaring.
Tandean : Baiklah, mungkin ini jawaban dari keinginanmu. Saya akan pulang.
(Suasani dirumah ini merasa saqngat sunyi dirasakannya. Ia mencoba keluar rumah untuk menikmati suasana diluar rumah sambil berjalan pelan-pelan menuju gunung tempat dimana Ina Matrea tinggal. Setiba digunung tersebut suaminya kaget melihat tempat tinggal istrinya sudah berbentuk batu besar. Dengan seketika dia melihat batu itu berbentuk seperti seorang ibu yang mengendong anak banyinya. Ternyata batu besar itu adalah wujud istrinya dan anaknya. Mulai saat itu Ama Tandean merasa sangat terpukul melihat hal itu, hari-harinya hanya diselimuti rasa penyesalan yang sangat mendalam. Dan sampai saat itu orang menyebutnya batu besar itu dengan sebutan Ina Matrea.)

  • view 106