ina materea

nur hayati
Karya nur hayati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Desember 2017
ina materea

INA MATREA

Pagi itu suasana di Pulau Komodo begitu sunyi hanya bertemankan siulan bunyi burung yang merdu dan indah. Hari itu tampak sepasang Wilahi atau suami istri sedang memanen Ojo atau ubi hasil tanaman mereka di kebun tanah peninggalan orang tua istrinya.

“Sepertinya ubi-ubi ini hanya sebagaian saja yang masak, jadi tidak semuanya bisa kita ambil untuk dijual ke pasar,” kata Ama Tandean.

“Kalau begitu ambil saja yang sudah masak, untung-untung hanya buat mengisi perut yang kosong,” jawab istrinya.

“Baiklah, segera bantu saya mencabut batang ubi ini. Jangan hanya banyak bicara saja Ina,” sahut suami Ina Matrea.

Sambil asyik menyibukkan diri dengan ubi-ubi itu, tiba-tiba Ina Matrea berteriak kesakitan. Suaminya yang mendengar merasa sangat kaget karena mendengar suara istrinya yang menjerit kesakitan. Ternyata tangannya mengenai parang yang ia gunakan sehingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah yang banyak.

“Sudah-sudah, lepaskan Wela atau parang itu. Istirahat saja supaya tidak lebih banyak mengeluarkan darah,” kata Ama Tandean kepada istrinya dengan nada sedikit kesal karena kecerobohan istrinya itu.

“Pulang saja kerumah, obati luka itu,” sahut suaminya lagi kepada istrinya.

“Baiklah, saya akan segera pulang kerumah. Sehabis luka saya obati, saya akan segera memasak separuh ubi ini dan menyiapkan makanan siangmu,” jawab istrinya yang merasa sedikit panik melihat sikap suaminya.

Setelah Ina Matrea disuruh pulang oleh suaminya, pulanglah ia sendiri dengan berjalan kaki menuju rumah. Setibanya di rumah Ina mengobati lukanya dengana obat merah dan menutupnya dengan plester obat. Sehabis setelah itu Ina melanjutkan dengan membersihkan ubi-ubi itu lalu memasak untuk suaminya.

Sementara Ina Matrea memasak ubi, tiba-tiba terdengan suara suaminya sudah pulang membawa ubi-ubi dan sayuran lainnya dari Oman atau kebun. Suaminya memanggilnya untuk mengangkat ubi-ubi dan sayuran dari depan untuk di bawa ke dapur. Sementara itu ia melepaskan anaknya tertidur lelap di kamar. Setelah ia mengangkat sayur itu dan membersihkannya lalu memasaknya untuk makan siang mereka.

Keesokan harinya, Ama Tandean bertujuan untuk pergi memancing di Tase atau laut. Sementara itu istrinya masih tertidur bersama anaknya. Ama Tandean membangunkan istrinya untuk menyiapkan secangkir teh dan makanan untuk sarapannya, karena ia ingin pergi memancing di laut.

Setelah dibangunkan oleh suaminya, Ina Matrea langsung pergi mencuci mukanya dan menyiapkan secangkir teh untuk suaminya. Setelah menyiapkan makanan yang akan dibawakan suaminya, Ina Matrea duduk menemani suaminya. Ina Matrea yang hari itu sedang duduk melihat suaminya sedang menyiapkan barang barang persiapannya untuk pergi memancing.

Sehabis menyiapkan semua barang-barang persediaannya, Ama Tandean langsung berangkat ke laut yang letaknya tidak jauh dari rumah jadi dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Sesampai di laut, ia mulai menyiapkan barang apa saja yang perlu digunakan untuk memancing. Walau hanya seorang diri ia tidak merasa begitu repot. Saat ia mulai memancing, dengan umpan yang digunakannya cacing pasir tidak juga ia mendapatkan ikan meskipun sudah begitu lama ia menunggu umpannya disambar oleh ikan-ikan itu tapi ia tetap tidak putus asa, ia terus saja memancing sampai hari begitu sangat panas, matahari sudah memantulkan sinarnya tepat pada jam 12 siang ia masih saja terus memancing hingga waktu sore pun tiba, ia merasa bahwa semuanya percuma saja.

“Sudah dari tadi umpan ini saya buang, tetap saja tidak ada ikan yang mau menyambarnya. Mau sampai kapan seperti ini, apa mungkin saya harus pulang saja. Biar besok saja saya melanjutkan memancing,” ucap Ama Tandean seorang diri dengan nada kecewa sambil mengemaskan barang bawaannya.

Setelah beberapa jam memancing dan tidak mendapatkan hasil pancingan sama sekali akhirnya dia pulang ke rumannya dengan raut wajah yang terlihat sangat letih ditambah dengan rasa kecewa karena tidak membawa pulang hasil pancingan. Setibanya di rumah, belum juga ia memberi salam dan masuk di pintu rumah dia dikejutkan dengan pemandangan yang membuat hatinya semakin kecewa.

Ama Tandean baru menginjakkan kakinya di halaman rumah, tiba-tiba pandangannya langsung tertuju pada saudara Ina Matrea yang mengenakan sarung milik Ina Matrea. Dengan suasana yang bercampur aduk, suami Ina Matrea merasa cemburu melihat keadaan saat itu. Ama Tandean tidak lagi mau bertanya-tanya perihal apa yang membuat saudara Ina Matrea memakai kain milik Ina Matrea. Rasa kecewanya bertambah dengan rasa cemburu dan curiga yang sudah terlalu berlebihan kepada istrinya. Ama Tandean tidak memikirkan lagi apa apa akibat yang akan terjadi jika dia melampiaskan kekesalannya terhadap istrinya dengan segala cara.

“Apa yang kau lakukan disini selama saya berpergian ke laut untuk memancing ikan? Apa kau berusaha untuk mencoba mengkhianati saya?” kata Ama Tandean kepada istrinya dengan nada yang sangat keras.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham dengan apa yang kau lihat,” jawab istrinya dengan nada yang sedikit merasa takut.

“Salah paham kau bilang? Saya melihat dengan sendiri bahwa dia keluar dari rumah ini mengenakan sarung milikmu. Ini masih saja kau membantah? Kau jangan mencoba lari, akan saya bunuh kau dengan parang ini,” ucap Ama Tandean sambil mencoba mendekati istrinya.

Saat itu Ama Tandean yang merasa dirinya sudah tidak sanggup menahan rasa emosi dengan tiba-tiba secara tidak sadar dia mengambil parang untuk membunuh istrinya. Tetapi istrinya menghindari tebasan parang itu, karena ia tahu bahwa suaminya saat itu sedang dilanda rasa kecewa akibat dari usaha memancing yang tak kunjung mendapatkan hasil.

Suami Ina Matrea berusaha mengacu atau membelah istrinya pada malam hari. Ina Matrea berpikir bahwa semua ini hanya berdasarkan oleh rasa cemburu suaminya terhadapnya yang tidak bisa ia bendung lagi.

Ama, jangan kau biarkan rasa cemburumu menguasaimu. Ini salah paham. Dia suadara saya,” kata Ina Matrea mencoba meyakinkan suaminya.

“Tidak, kau harus mati sekarang,” balas Ama Tandean sambil mengibas parang ke hadapan Ina Matrea.

Setelah itu Ina Matrea berusaha menghindari parang yang ditebas oleh suaminya itu. Ia berusaha lari pergi kerumah warga. Tetapi suaminya tidak mencoba untuk mengejarnya. Karena ia tahu bahwa hal itu adalah masalah dalam rumah tangganya, dan tidak ingin masyarakat mengetahui hal itu.

Seketika itu pada malam hari Ina Matrea tanpa berpikir panjang ia berniat untuk melarikan diri dari rumahnya sekaligus membawa anaknya dengan mengendong anaknya pergi. Sepanjang perjalanan Ina Matrea tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya dan anaknya begitupun suaminya yang berada di rumah. Ia terus saja berjalan mengarungi jalanan di pinggiran pegunungan dan tibalah ia di bawah kaki gunung jupang.

Keesokan harinya, setelah terbangun dari tidur panjangnya. Ama Tandean teriak memanggil istrinya, tapi suara istrinya tak kunjung ia dengar. Ama Tandean segera membersihkan wajahnya dengan air bersih lalu pergi mencari Ina Matrea di seluruh kampung. Selama pencariannya itu, dia tidak melihat wajah istrinya meski sudah berkeliling disetiap kampung.

Tidak lama kemudian setelah ia mencari istri dan anaknya yang tak juga ia temui, tiba-tiba suaminya berpikir untuk melanjutkan mencari mereka di sekitar jurang dan bawah kaki gunung. Ia seperti mendengar suara anak yang sedang menangis, setelah ia mencoba mendekati asal dari suara itu. Dengan tiba-tiba ia melihat Ina Matrea dibawah kaki gunung Jupang atau jurang-jurang.

Setelah Ama Tandean melihat istrinya, ia berusaha mendekat lalu meminta maaf atas kesalahannya itu yang terlalu dikuasai rasa cemburu yang berlebihan. Ia berusaha dengan sebaik mungkin untuk mengajak Ina Matrea pulang ke rumah. Namun sayangnya, ia merasa putus asa dengan jawaban istrinya yang sangat mengiris hatinya.

“Saya tidak mau palang lagi ke rumah sampai seumur hidup. Meskipun kau memaksaku. Saya merasa sangat kecewa dengan sikapmu kemarin,” ucap Ina Matrea kepada suaminya dengan suara tangis.

“Baiklah, mungkin ini jawaban dari keinginanmu. Saya akan pulang,” jawab suaminya dengan rasa kecewa yang amat mendalam.

Setelah mendengar jawaban Ina Matrea dia beranjak pulang ke rumahnya. Dan pada malam hari Ama Tandean merasa sangat gelisah, ia bingung dengan keadaan itu. Dengan keadaan yang membuat dirinya merasa bersalah kepada istrinya sampai-sampai ia tidak bisa tidur hingga menjelang pagi.

Setelah menjelang pagi tiba, suasana dirumah itu merasa sangat sunyi dirasakannya. Ia mencoba keluar rumah untuk menikmati suasana diluar rumah sambil berjalan pelan-pelan menuju gunung tempat di mana Ina Matrea tinggal. Setiba digunung tersebut suaminya kaget melihat tempat tinggal istrinya sudah berbentuk batu besar. Dengan seketika dia melihat batu itu berbentuk seperti seorang ibu yang mengendong anak bayinya. ternyata batu besar itu adalah wujud istrinya dan anaknya. Mulai saat itu Ama Tandean merasa sangat terpukul melihat hal itu, hari-harinya hanya diselimuti rasa penyesalan yang sangat mendalam. Dan sampai saat itu orang menyebutkan batu besar itu dengan sebutan watu atau batu Ina Matrea.

  • view 79