Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 26 Agustus 2016   18:15 WIB
Lelaki di Setelah Persimpangan Jalan

 

Lelaki itu masih saja menoleh ke belakang. Tak hanya sesekali, tetapi sering. Padahal ia sudah berjalan cukup jauh dari persimpangan itu. Sudah separuh perjalanan ia melewati jalan yang bercabang dan dia memilih untuk melewati jalannya kini. namun, ia masih saja menoleh ke belakang.

Lelaki itu apakah dia masih bimbang dengan jalannya? Apakah ia masih bimbang aklau-kalau ia slaah memilih jalan? Apakah ia tak takut, jika ia masih saja menoleh ke belakang, ia akan jatuh ke dalam lubang di jalan, atau bahkan jatuh ke dalam jurang yang ada di sisi jalan?

Lelaki itu masih saja menoleh ke belakang. Apakah ia meninggalkan seseorang di belakang? Apakah ia mengharapkan seseorang segera menyusul perjalanannya? Tetapi bukankah ia sudah berpamitan kepada mereka yang ia tinggalkan?

Lelaki itu masih saja menoleh ke belakang berkali-kali. wajahnya tampak khawatir. Aapakah ia khawatir bahwa ia tak akan sampai ke tujuannya sehingga ia selalu menoleh ke belakang karena takut kehilangan arah utnuk berbalik memilih cabang jalan yang lain untuk ia lalui?

Lelaki itu, kembali lagi menoleh ke belakang. Meski ia baru saja tersandung karena batu yang ada di depannya tak ia lihat, karena ia lengah. Ia masih sjaa menoleh k belakang. Tak bisakah ia mengambil pelajaran dari kejadian tersandungnya tadi. Atau ia sengaja ingin tesandung dan terluka lagi?

Lelaki itu masih saja menoleh ke belakang. Apakah ia takut karena jalan yang ia pilih belum benderang? Sedangkan cabang jalan yang ia tinggalkan tadi sempat ia melihat lebih benderang? Lelaki itu, apakah ia ingin berbalik arah?

Aahh... Lelaki itu sepertinya benar-benar ingin memilih jalan yang lain rupanya. Betapa tidak, jika ia memang sudah percaya dengan jalan yang ia pilih, Tak semestinya ia menengok ke belakang berkali-kali. Kalau memang jalannya belum benderang, bukankah ia bisa menyelakan lilin atau obor yang ia bawa? Di Tangannya terlihat ia membawa obor, tetapi emgnapa ia yak menyalakannya untuk menjadikan jalannya benderang, sebenderang cabang jalan yang ia tinggalkan. Bahkan mungkin lebih benderang.

Terlalu jauh jika lelaki itu berbalik arah dan hendak meilih cabang jalan yang lain untuk menuju tujuannya. Belum tentu juga jalan itu masih bisa dilaluinya. Bisa jadi jalan itu sudah ditutup oleh orang lain, bukan? 

 

Di Ujung Senja

"cukuplah itu sebagai pelajaran, bukan kenangan"

Karya : nurhayati nuha