Sudut Warkop yang Tak Lagi Sama

Hans Chandaradimuka
Karya Hans Chandaradimuka Kategori Renungan
dipublikasikan 20 September 2017
Sudut Warkop yang Tak Lagi Sama

Pagi belum lama berselang, sesekali bunyi burung berkicau pun masih terdengar, hilir mudik kendaraan nampak buru-buru khas pagi di Ciputat. Sebuah kecamatan di pinggiran Tangerang Selatan.

 

Aku yang duduk di warung kopi andalan, Sangkanhurip, si empunya warung memberi nama sakral, entah dari mana idenya. Tapi tak seperti kata pepatah "apa lah arti sebuah nama" Sangkanhurip nampak seperti doa yang yang terkabul. Seorang teman memberi tahu bahwa arti dari nama itu adalah 'Penyangga Hidup'.

 

Seperti pagi, siang, sore, malam yang kulalui di warung itu, aku selalu duduk di sudut sempit penuh debu. Sangkanhurip itu bermeja persegi, pedagang berada ditengah menjangkau semua pembeli yang datang. Sedang sudut itu, tepat disudut meja kayu yang berlis alumunium itu aku selalu duduk.

 

Debu-debu memang menempel, dibalik toples-toples kerupuk yang tak pernah pindah dari tempatnya, justru debu itu yang membuat aku enggan beranjak. Sangkanhurip, saat debu itu tersentuh jemariku, ada tekstur yang aneh, merangsang ide kian cemerlang. Ya, acapkali pekerjaanku sebagai kuli ketik berita ku lakoni disana.

 

Sangkanhurip, tak hanya menyangga hidup si empunya warung, tapi juga penghidupanku. Tak terbayang jika debu itu beranjak dari asalnya, berapa ide yang melayang. Canda tawa mahasiswa yang sesekali mampir saat tak ada jam kuliah pun menyumbang magisnya debu-debu di sudut meja idolaku itu.

 

Sesederhana itu sebuah tempat bisa menjadi idola, tentu ditengah bermunculannya tongkrongan populer disekitar Kampus UIN Jakarta. Tapi yang tak terlupakan bahwa di Sangkanhurip aku pernah menyapa aktor-aktor intelektual negeri ini. Sebut saja bung Nukman, begitu hebat dia bercerita tentang pengaruh Marxisme di dunia hingga bijaknya Jerman mengakui kesalahan masa lampau dengan Fasisme-nya. Atau bung Irul yang menggambarkan bahwa media sosial saat ini tak ubahnya mainan para pemegang rupiah. Belum lagi yang bicara soal Plato hingga Miriam Budiarjo.

 

Ya, sudut sempit warung kopi memang unik. Begitu mudah pengalaman seseorang tumpah hingga menjadi pengalamanku juga.

 

Sepenggal pengalamanku tentang sudut itu hanya ingin menceritakan, tak lagi kujumpai suasana yang demikian layaknya tahun-tahun yang lalu. Kini, di tempat idolaku itu hanya terdengar dering smartphone dan mahasiswa-mahasiswa yang asyik bermain game. 5v5 MOBA, game yang menjanjikan pengalaman bermain bersama teman, dari pagi hingga malam, atau dari malam hingga pagi.

 

Sadarkah? Tak ada lagi berbagi pengalaman disana, yang ada hanya berbagi prestasi, "berapa kali kau bunuh lawan?" Atau "level berapa kau kini?" Pertanyaan itu yang kini hilir mudik ditelinga saat aku duduk di sudut itu. Bukan lagi "Bagaimana duduk persoalan kisruh diskusi PKI di YLBHI kemarin?" Atau "Apa urgensi Perpres PPK yang diterbitkan Presiden Jokowi?".

 

Mungkin hanya tinggal kenangan, dulu kawan sering memberitahu tentang fakta-fakta rahasia, semisal soal aliran dana BLBI, atau soal Setnov yang akan jadi  Ketua DPR lagi setelah mengundurkan diri. Kini tak ada lagi.

 

Aku rindu sudut sempit seperti sedia kala, seperti saat warung kopi selayaknya warung kopi, bukan warung internet dadakan. Memang tak salah mencari hiburan, tapi begitu berharganya inspirasi, namun terbuang sia-sia tak ada sambut dari kaum muda.

Sudut yang dulu sempit kini kian sempit.

-Ciputat 20 Semptember 2017

 

  • view 51