Lelaki itu dan Perpustakaan

Lelaki itu dan Perpustakaan

Nur Fitriyani
Karya Nur Fitriyani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2018
Lelaki itu dan Perpustakaan

***
“Anna bertemu Pria yang membuatnya ingin menikah muda.”
***
Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan saat jatuh cinta?

Mengungkapkan? Atau barangkali, memendam?

Untuk sebagian besar laki-laki, mungkin mengungkapkan adalah cara terbaik yang mereka ambil, sedangkan untuk sebagian kecil lainnya, mereka memilih untuk memendam dan jatuh cinta secara diam-diam. Bagi perempuan, rumus tersebut terbalik. Sebagian besar perempuan yang jatuh cinta memilih memendam perasaan mereka, walaupun ada juga yang memilih untuk mengungkapkan. Bagi perempuan, mengungkapkan perasaan terlebih dahulu kepada laki-laki adalah sebuah pantangan, ya, kamu tahu sendirilah ya, itu agak sedikit, hmm.. sedikit memalukan! Lebih malu lagi apabila ternyata laki-laki tersebut tidak memiliki perasaan yang sama. Runtuh sudah duniamu!

Berdasar dari pemikiran tersebut, maka Anna memutuskan untuk jatuh cinta kepada laki-laki itu secara diam-diam. Laki-laki yang tengah asyik membaca buku di meja dekat rak buku sejarah itu, Anna menyukainya. Ini bulan keempat. Anna jadi punya jadwal khusus untuk pergi ke perpustakaan. Ah, tidak! Sebulan kebelakang bahkan Anna hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan, selain untuk mengerjakan skripsi juga untuk melihat laki-laki itu.

Anna sebenarnya tidak terlalu menyukai Perpustakaan. Daripada membaca, ia lebih suka bercerita. Hal yang membuatnya datang ke perpustakaan –itupun karena keterpaksaan, adalah karena skripsinya. Dosen pembimbingnya mengatakan bahwa referensi yang ia gunakan tidak valid dan harus mencari referensi lain. Perpustakaan adalah salah jalan keluar. Setidaknya, selama seminggu pertama, Anna berhasil menemukan 2 buku yang menunjang skripsinya, dan ia juga menemukan lelaki itu.

Laki-laki itu terlihat seperti punya dunia sendiri. Ia dan bukunya. Awalnya Anna tidak terlalu memperhatikan lelaki itu. Namun, karena sering melihatnya, Anna jadi hafal sosok lelaki yang selalu duduk di meja yang sama itu. Setiap kali Anna ke perpustakaan, Anna selalu melihatnya. Anna jadi penasaran, apa ia memang tinggal di perpustakaan? Hahaha! Tapi itu tidak mungkin.

Hari ini adalah hari selasa, selasa pertama di bulan Februari. Anna pergi ke perpustakaan. Ini agak aneh karena hari ini perpustakaan nampak ramai, meja-meja terisi dan orang-orang berlalu lalang sambil menggenggam sebuah buku. Anna berjalan ke meja favoritnya, namun disana ada beberapa orang yang menempatinya. Anna mengendarkan pandangan ke sekeliling, mencari kursi yang kosong. Semua kursi nampak terisi semua. Anna kemudian berjalan ke lantai dua, melewati beberapa rak buku dan berjalan keluar ke arah balkon. Anna menemukan kursi yang kosong. Ada satu, disana, di meja paling ujung, di hadapan seorang lelaki. Lelaki itu! Lelaki yang diam-diam Anna suka. Oh, Antara harus merasa senang atau merasa gugup, Anna sama sekali tidak mengerti dengan perasaannya. Ia berjalan pelan ke arah kursi kosong itu, dan mendudukkan diri pelan-pelan. Jantungnya terasa sedikit berdebar.

Anna mengeluarkan laptopnya dari dalam tas. Ia buru-buru menyalakannya dan berusaha fokus mengerjakan skripsi. Tidak, ia tidak boleh menatap lelaki itu. Tapi memang matanya sangat nakal, sesekali ia mencuri pandang pada lelaki itu. Dilihatnya, lelaki itu nampak sedang menunduk, membaca buku. Jika dilihat dari dekat, wajah lelaki itu sangat tampan, dengan sebuah kacamata yang membingkai di matanya, ah, ya! juga itu, kumis tipisnya juga memesona! Ah, Anna bertemu pria yang membuatnya ingin menikah muda, saat ini juga!

Oh, tidak! Anna harus segera menghentikan kegiatannya ini dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya, atau lelaki itu bisa saja curiga dan—

“Ada apa?”

Tiba-tiba, Lelaki itu berucap pelan. Suaranya terdengar agak serak.

Anna langsung kaget. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya, pada apa saja. Pandangannya jatuh mobil-mobil yang sedang berlalu lalang di jalan raya. Eh, sebentar! Apa lelaki itu sedang berbicara padanya? Atau bisa jadi pada orang yang duduk di sebelahnya? Oke, Anna mengangkat kepalanya dan melihat lelaki itu sekilas, untuk memastikan.

Anna makin kaget saat melihat lelaki itu nampak tersenyum ke arahnya. Oke, apa ia sedang bermimpi sekarang? Tapi, tidak! Ini nyata. Lalu, kenapa lelaki itu tersenyum –terlebih sangat manis, padanya. Dan yah, senyuman itu terasa familiar bagi Anna, seperti sebuah senyuman yang sering sekali Anna lihat. Tapi Anna tidak kenal lelaki ini, namanya pun tidak ia ketahui.

“Kenapa?” ucap lelaki itu lagi.

Dengan wajah bingung, Anna menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.

Lelaki itu nampak mengangguk, sedikit gemas, “Iya, Anna Karisma.” ucapnya.

Anna kaget, terlebih saat lelaki itu mengetahui namanya. Seingatnya, ia belum pernah berkenalan dengan lelaki ini. Tunggu! Jangan-jangan lelaki ini adalah agen rahasia! Jangan-jangan lelaki ini juga punya ketertarikan pada Anna, lalu diam-diam ia mencari data Anna. Siapa yang tahu? Dunia menjadi lebih canggih dan menyeramkan seiring dengan majunya perkembangan zaman. Tapi, bukankah itu bagus? Artinya, Anna tidak jatuh cinta sendirian, kan?

“Maaf?” hanya itu yang bisa Anna ucapkan. Beberapa saat kemudian, ia kembali berkata, “Kamu tahu nama saya darimana?” Anna merasa harus tahu perihal ini.

Lelaki itu menyimpan bukunya di atas meja, kemudian tertawa pelan. Ia menatap mata Anna sambil tersenyum.

“Aku suamimu. Tidak ingat?”

Anna mengerutkan kening, pertanda tidak mengerti. Lelaki ini pasti sedang bercanda. Suami apa? Menikah saja belum pernah. Apalagi dengan lelaki asing di hadapannya ini, yah, walaupun Anna menyukainya, tapi kenapa bisa tiba-tiba mengaku suami. Lelaki ini pasti sedang bercanda!

“Aku serius. Aku ini suamimu.” ucapnya lembut.

Anna terdiam. Sungguh, lelucon lelaki ini benar-benar tidak lucu. Kenapa ia bisa sampai menyukai lelaki menyebalkan semacam ini? Ah, Anna sendiri tidak mengerti. Suami katanya? Bagaimana bisa Anna punya suami sedangkan menikah saja belum pernah. Hey, usianya saja belum genap 22 tahun. Dan ya, Anna adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang sibuk skripsi. Ia tinggal sendirian, karena kedua orangtuanya menghilang. Dan, ya, fakta terpentingnya adalah, Anna tidak mengenal lelaki di hadapannya ini sebelumnya.

Tiba-tiba, kepala Anna terasa sangat pusing. Bayangan-bayangan asing bermunculan di kepalanya. Ia tidak mengenal orang-orang yang muncul di kepalanya saat ini, kecuali satu orang, yah, ia melihat wajah lelaki yang sedang duduk di hadapannya.

Lelaki di hadapan Anna tersenyum manis. Tidak! Saat ia tersenyum, ia menjadi sangat-sangat tampan, membuat jantung Anna sedikit berdebar. Anna melihatnya sekilas, kemudian kembali mengalihkan pandangan. Anna sulit berfikir jernih saat ini, kepalanya terasa berdenyut. Peristiwa-peristiwa yang tidak Anna kenal muncul bagai slide di kepalanya. Anna bingung, ia menyentuh kepalanya dengan kedua tangan.

“Kamu masih belum mengingatnya? Tidak usah dipaksakan.” ucap lelaki itu lembut, tangannya menyentuh tangan Anna.

Refleks, Anna langsung mengambil jarak. Memundurkan kursinya beberapa senti, dan menatap tajam lelaki gila di hadapannya.

“Kisah kita sebenarnya sedikit menyedihkan. Ah, padahal dulu kita sempat tinggal bersama selama beberapa waktu.”

Lelaki itu berucap lagi, membuat Anna tambah bingung. Kenapa bercandanya keterlaluan? Tapi, lelaki itu tidak terlihat seperti sedang bercanda. Anna merasa sedikit takut sekarang. Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada dirinya?

“Aku suamimu, Anna Karisma.” jelas lelaki itu lagi.

Jantung Anna tiba-tiba berdebar sangat kencang. Anna sendiri tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Tiba-tiba, bayangannya dengan lelaki itu, sedang duduk di pelaminan, muncul dan memenuhi kepalanya. Anna menutup mata. Ia bisa melihat wajah dirinya dan wajah lelaki itu dengan jelas, kedua orangtuanya –orangtua yang sesungguhnya, kedua mertuanya, adik perempuannya, dan adik iparnya. Anna melihat sebuah foto dalam bayangannya, sebuah potret yang menunjukkan dirinya dengan keluarga besarnya. Ada lelaki itu juga disana.

“Aku Mahe, Anna.”

Kepala Anna kembali berdenyut setelah mendengar ucapan lelaki itu. Mahe? Mahe siapa? Anna masih menganalisis ketika tiba-tiba, sebuah nama terlintas di kepalanya begitu saja. Mahendra. Anna tidak mengingatnya.

Anna menatap lelaki yang duduk di hadapannya ini, menatap lekat lelaki yang menyebut dirinya sendiri Mahe. Sedikit demi sedikit Anna mulai mengingatnya. Iya, dulu Anna pernah sangat menyukai lelaki ini. Tapi, ia sendiri tidak tahu apa yang telah menyebabkannya tidak mengingat Mahe maupun keluarganya. Anna diam-diam menganalisis, memaksa kepalanya agar bisa mengingat.

Di tengah kegiatannya mengingat tersebut, Anna tiba-tiba mendengar suara ledakan. Sangat keras! Anna langsung mengarahkan pandangannya pada bangunan di sebrang perpustakaan ini. Bangunan itu, sebuah pusat pembelanjaan terbesar di Kota ini, hancur tak bersisa. Mayat orang-orang terkapar hingga ke sisi jalan raya. Anna melihat dirinya sendiri sedang sekarat disana, disampingnya seorang lelaki -yang sudah tidak berbentuk, namun kepalanya masih utuh, sedang tersenyum. Anna langsung mengenali lelaki itu. Mahe!

Tidak jauh dari Mahe, sebuah benda asing berasap tergeletak begitu saja. Lampunya berkedip-kedip. Dan tidak lama, benda asing itu meledak. Anna langsung menutup mata, merasa ngeri.

Anna kembali membuka mata saat mendengar lelaki yang duduk di hadapannya mengetuk meja. Ia langsung memandang lelaki itu. Namun tiba-tiba, ini sedikit aneh karena orang-orang di sekitarnya nampak menghilang. Meja dan laptopnya pun ikut menghilang. Anna semakin kaget saat melihat dirinya sendiri dan Mahe melayang di udara. Sebentar! Anna masih menaganalisis! Apa yang terjadi?

“Sudah ingat?” Mahe berucap pelan sambil tersenyum manis. Senyuman itu, senyuman yang selalu bisa membuat jantung Anna berdebar!

Tiba-tiba tubuh Mahe menghilang begitu saja, bagai asap yang ditiup. Anna kaget! Ini sebenarnya apa yang terjadi? Siapa dirinya? Anna tidak mengerti. Anna tertawa pelan, kemudian menangis. Lalu tertawa terbahak-bahak, kemudian setelahnya meraung-raung tidak jelas. Hidupnya benar-benar menyedihkan.

Sebentar lagi, Anna sepertinya akan menjadi hantu yang tidak waras.

***
“Anna bertemu pria yang membuatnya ingin menikah muda.”

“Anna bertemu pria yang membuatnya mati muda!”

***
-Fin-

(Aku juga posting cerita ini di blog pribadi aku, http://nurefye.blogspot.co.id/2018/02/lelaki-itu-dan-perpustakaan-cerpen.html?m=1)

  • view 70