Batas Cerita [1]

Nur Fitriyani
Karya Nur Fitriyani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Januari 2018
Batas Cerita [1]

Sebelumnya: https://www.inspirasi.co/nurfyani/41783_batas-cerita-prolog-

***

"Apa kamu tidak apa-apa?"

            Sayup-sayup suara seorang perempuan tertangkap pendengarannya. Lelaki itu membuka mata dan mendapati seorang perempuan tengah menatapnya dengan khawatir. Ia langsung bangkit, menatap keselilingnya, dan ya, ia ingat bahwa ada yang memukul bagian belakang kepalanya. Ia menyentuh tengkuknya yang masih terasa sakit.

"Apa kamu perlu bantuan?"

            Perempuan itu nampak merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana. Lelaki itu tak begitu memperhatikan, ia meraih tas backpacker-nya dan sibuk mencari sesuatu. Benar saja, seperti yang sudah lelaki itu duga, dompet dan ponselnya menghilang. Sialan! Lelaki itu mengumpat dalam hati. Namun ia masih bisa bernapas lega, untungnya si pencuri tidak mengambil passport-nya.

            Perempuan itu mengarahkan uangnya. Ia meraih tangan lelaki yang tak dikenalnya itu, kemudian menaruh beberapa lembar uang di atas tangannya.

            Lelaki itu kaget. Ia langsung menarik tangannya kembali, sehingga membuat uang yang ditaruh perempuan itu berjatuhan ke tanah. Perempuan itu nampak heran.

            "Apa yang kamu lakukan?"

            Itulah yang diucapkan lelaki itu sebelum ia beranjak berdiri dan menenteng tasnya, bersiap meninggalkan perempuan itu. Ia merasa tidak perlu dikasihani.

            "Hey!"

            Lelaki itu mulai berjalan. Ia masih bisa mendengar seruan perempuan itu, namun ia tidak peduli. 

            Perempuan itu memunguti uangnya kembali dengan sedikit kesal. Sungguh, seharusnya ia tidak perlu repot-repot menolong lelaki itu. Ia mendongak ke arah jalan raya. Lelaki itu nampak sedang menyebrang. Langkah lelaki itu cepat-cepat, dan bayangannya menghilang di pertigaan.

"Dasar, tidak tahu terimakasih!"

Perempuan itu mengumpat dalam hati.

***

Setiap pukul 6.30 pagi, perempuan itu termenung di samping jendela kamarnya yang mengarah ke jalan raya, secangkir kopi tergenggam di tangannya yang mungil. Ia selalu duduk di kursi yang sama, setiap hari, menatap ke arah orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya. Segerombolan anak-anak berseragam, wanita paruh baya yang berjalan terburu-buru, pengemis di sudut jalan, pengamen yang bernyanyi lantang saat lampu merah, sepasang kakek dan nenek yang menyebrang pelan-pelan, dan banyak hal. Perempuan itu hampir melihat segala jenis manusia dari tempat ia duduk. Termasuk hari itu, tepat pada pukul 08.00 pagi, seorang pria bertubuh besar yang di badannya dipenuhi oleh tato tampak mendekati seorang lelaki muda yang hendak menyebrang. Pria itu lalu memukul bagian belakang kepala sang lelaki cukup keras. Perempuan itu tertegun saat menyaksikan semua hal yang terjadi. Perempuan itu terdiam, antara harus menolong atau dibiarkan saja. Ia langsung beranjak berdiri saat melihat lelaki muda itu jatuh pingsan, dan pria bertato yang telah memukulnya kabur setelah mengambil beberapa barang milik sang lelaki. Perempuan itu berlari keluar apartemennya, dan cepat-cepat menghampiri lelaki yang pingsan itu. Ia beberapa kali mengguncangkan tubuh lelaki itu, namun tidak juga kunjung bangun. Perempuan itu sangat khawatir.

            "Apa kamu baik-baik saja?"

            Itulah yang diucapkannya pertama kali pada lelaki yang baru siuman itu. Lelaki itu nampak seperti orang yang linglung, nampak meraih-raih sesuatu, sebuah tas backpacker tergeletak disampingnya.

            "Apa kamu perlu bantuan?"

            Perempuan itu sadar, lelaki dihadapannya ini pasti telah kehilangan dompetnya, semua uangnya atau barang berharga miliknya. Dengan cepat, ia merogoh saku jaketnya dan menemukan beberapa lembar uang, lalu dengan cepat menyerahkannya pada lelaki itu.

            Namun respon lelaki itu sungguh diluar dugaan. Lelaki itu malah melemparkan semua uang yang diberikannya ke tanah, dan berseru dengan garang,

            "Apa yang kamu lakukan?"

            Perempuan itu diam, menatap lelaki dihadapannya heran. Perempuan itu baru menemukan jenis manusia semenyebalkan ini. Sedetik kemudian Lelaki itu beranjak pergi.

            "Hey!"

            Perempuan itu berseru untuk menghentikan lelaki itu. Namun, lelaki itu tidak pernah berhenti. Ia melihat lelaki itu berjalan cepat-cepat menyebrang jalan dan menghilang di pertigaan. Sungguh, tidak bisa dipercaya! Jenis manusia ini yang paling tidak ingin perempuan itu temui.

            Perempuan itu memungut kembali semua uangnya, dan berjalan cepat menuju apartemennya kembali.

***

Lelaki itu duduk termenung di bangku kelas ekonomi sebuah kereta. Pak tua sedang mendendangkan sebuah lagu dengan klarinetnya di gerbong depan. Sayup-sayup, suara klarinet pak tua sampai ke telinga lelaki itu, cukup menenangkan. Entah, ia tidak tahu lagi ini perjalanannya yang keberapa. Lelaki itu tidak ingat.

            Ia mengeluarkan passportnya dan membuka halaman pertama. Stempel visa dari berbagai Negara nampak menghiasi hampir semua halaman depan, ia menghitung. Seorang pria paruh baya mengahampirinya dan bertanya perihal tiket. Lelaki itu cepat-cepat menyimpan passportnya di bagian dalam saku jaket, kemudian menyerahkan sebuah tiket yang ia simpan baik-baik di saku celana jeans kepada pria paruh baya itu. Setelah menerima tiketnya, pria paruh baya itu langsung pergi.

            Lelaki itu kembali termenung. Kadang-kadang, ia rindu rumah. Namun rasanya, rumah sudah terlalu jauh. Dan ia juga tidak terlalu suka rumah. Lelaki itu tertawa.

            Suara peluit terdengar memekakkan telinga. Kereta yang ditumpangi lelaki itu berhenti di stasiun tujuannya. Ia tidak tahu kenapa akhirnya memilih Negara ini sebagai destinasi tujuannya. Ia hanya tahu bahwa di Negara ini hujan yang turun sangat meneduhkan hati. Lelaki itu ingin berdiri dibawah hujan dan merasakan keteduhan hati. Semakin banyak Negara yang telah ia kunjungi, semakin hatinya terasa resah. Semakin ia tidak mengetahui jalan hidupnya sendiri.

            Lelaki itu menenteng tas backpacker-nya dan berjalan keluar gerbong bersama penumpang lain. Ia membuka aplikasi maps. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari penginapan, seperti yang selalu ia lakukan saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat baru. Ini adalah awal pencarian hujan yang meneduhkan, petualangannya yang kesekian kalinya.

            Lelaki itu berhenti tepat di depan sebuah penginapan kecil. Diseberangnya, sebuah apartemen mewah berdiri tegak. Lelaki itu menatap sekilas apartemen besar dihadapannya, kemudian berjalan pelan menuju penginapan. Namun, saat lelaki itu berbalik, ia merasa ada yang memukul bagian belakang kepalanya. Lelaki itu tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri. Dan sedetik kemudian, ia merasa jatuh ke tanah dan pandangannya menggelap.

            Lelaki itu baru sadar saat tubuhnya terasa diguncangkan oleh seseorang. Hal pertama yang ditangkap oleh matanya adalah sesosok perempuan. Ia menganalisa apa yang telah terjadi padanya. Dan seperti yang telah ia duga, semua barang berharganya menghilang. Ia menatap perempuan itu, menerka-nerka. Tidak! Perempuan sekurus ini tidak mungkin memukulnya dengan sangat keras, bahkan membuatnya tak sadarkan diri.

Lelaki itu tak punya pikiran lain selain segera pergi. Ia tidak tahu akan kemana. Perempuan itu nampak menyerahkan beberapa lembar uang, dan hal tersebut sedikit menyakiti harga diri lelaki itu. Tidak! Ia tidak perlu dikasihani. Lelaki itu memutuskan untuk tidak jadi pergi ke penginapan dan malah pergi ke arah yang berlawanan. Ke penginapan pun, ia tidak akan dapat kamar karena memang tidak mempunyai uang sepeserpun.

***

-bersambung-

  • view 33