Islam Agama Cinta, Belajar dari Fethullah Gulen

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 26 Januari 2016
Islam Agama Cinta, Belajar dari Fethullah Gulen

Oleh Ahmad Nurcholish

?

??Real Muslim cannot be terrorits.?

[Muslim sejati tidak mungkin menjadi teroris]

(Fethullah Gulen)

?

Salah satu intelektual Muslim asal Turki yang getol menyuarakan pentingnya dialog antaragama adalah Muhammad Fethullah Gulen. Tak hanya itu, master sufi dan peacemakers kelahiran 1941 ini selalu bersemangat dalam membangun dialog antargolongan yang mewakili berbagai ideologi, budaya, agama, dan negara.

Tahun 1999, makalahnya berjudul The Necessity of Interfaith Dialogue telah ia sampaikan kepada Parlemen Agama Dunia di Cape Town. Dia, seperti dinukil Irwan Masduki, berpendapat bahwa dialog yang tulus dalam rangka peningkatan saling pengertian sangatlah diperlukan. Untuk tujuan ini, dia membantu berdirinya Yayasan Wartawan dan Penulis (1994) yang bergiat mempromosikan dialog dan toleransi antar semua lapisan masyarakat. Ia pun telah berdialog dengan tokoh-tokoh lintas agama seperti Paus Yohanes Paulus II di Vatikan, John O?Connor (Uskup Agung New York), Leon Levy (mantan presiden Anti-Defamation League), Duta Besar Vatikan untuk Turki, delegasi Gereja Ortodok Turki, delegasi komunitas Armenia Turki, Kepala Rabi komunitas Yahudi di Turki, dan tokoh-tokoh Turki lainya. (Irwan Masduki, 2011: 146-147).

Apa yang dilakukan Gulen menggambarkan bahwa sejatinya dialog yang tulus dapat dibangun oleh mereka, orang-orang yang beriman dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Dia berpandangan, bahwa menguatnya eksklusifisme kalangan fundamentalis agama dan munculnya ancaman terorisme dan kekerasan yang kian menglobal dapat diredam atau paling tidak dieliminir. Gulen manyakini bahwa ancaman konflik global dapat diantisipasi dengan dialog konstruktif yang penuh cinta kasih.

Dialog konstruktif, menurut penulis buku Toward a Global Civilization of Love and Tolerance ini, diharapkan mampu menelurkan nilai-nilai universal dan etika kemanusiaan yang dapat mengatasi efek negatif dari globalisasi dan modernisasi. Dalam hal upaya penyelamatan dunia kontemporer dari ancaman global inilah Gulen mendedikasikan dirinya melalui upaya-upaya pendidikan atas dasar cinta, toleransi, dan dialog.

Pemikiran-pemikiran Gulen mendapatkan banyak apresiasi dari pelbagai lapisan masyarakat dan lintas golongan yang menamakan diri mereka sebagai Gulen Movement atau Gulenism. Gerakan yang terinspirasi dari pemikiran dan kiprah Gulen ini menawarkan sebuah jalan hidup berupa ajaran Islam yang ramah di tengah-tengah ancaman terorisme dan radikalisme. Gerakan ini tak hanya meluas di Turki tetapi juga menjalar hingga Eropa, Amerika Utara, dan Australia. (Masduki, 2011: 149)

Seruan Gulen akan pentingnya dialog dan mengajak umat Islam menjadi agen perdamaian bukanlah tanpa dasar. Ia justru terinspirasi oleh ajaran-ajaran Al-Qur?an, hadits, dan pandangan-pandangan inklusif tokoh-tokoh sufi klaisk seperti Al-Ghazali dan Jalaluddin Rumi. Ia berusaha menyakinkan banyak orang bahwa toleransi, cinta, dan kasih sayang adalah benar-benar nilai Islam yang mana seorang Muslim wajib mengimplementasikannya di dunia modern sekalipun.

Menurut Gulen, terorisme dan kekerasan akan terus terjadi jika cinta dan kasih sayang hilang dari hati manusia. Cinta, menurutnya, sebuah obat mujarab bagi problem terorisme dan kekerasan (atas nama agama). Harmoni dalam kehidupan hanya dapat diwujudkan dengan cinta sebab Tuhan tidak menciptakan hubungan yang lebih kuat daripada cinta. Cinta merupakan rantai yang mengikat manusia satu sama lain.

Jalinan terkuat yang terbentuk antara individu-individu yang membentuk keluarga, masyarakat, etnisitas, dan bangsa adalah cinta. Cinta universal menampakan dirinya di seluruh kosmos di mana setiap pertikel mendukung setiap pertikel lainnya. Hal ini lantgaran alam semesta diciptakan oleh Allah Sang Empunya cinta; Dia merajut alam semesta seperti renda pada alat tenun dari cinta. Nampaknhya ajaran cinta Fethullah Gulen diilhami oleh pesan baginda Nabi Saw., ?Bantulah saudaramu baik mereka penindas atau korban. Engkau dapat membantu penindas dengan membuat mereka menghentikan penindasan mereka [kepada orang lain].? (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Dalam pandangan Gulen, seorang Muslim yang dalam dirinya bersemanyam cinta akan dapat menerima dan mengapresiasi perbedaan pendapat dan keyakinan, sebab ia benar-benar menghayati pesan agama bahwa perbedaan pendapat di antara umat adalah bentuk kasih sayang (ikhtilafu ummati rahmah). Spirit fonetik ini menandaskan bahwa cinta dan kasih sayang adalah sumber toleransi, yang didefinisikan oleh Gulen sebagai sikap menghormati orang lain, belas kasihan, kemurahan hati, atau kesabaran. Toleransi mengajarkan kita bagaimana cara merangkul dan mengasihi orang lain tanpa memandang perbedaan pendapat, ideologi, etnis, maupun keyakinan.

Dalam Al-Qur?an, pandangan toleransi diteguhkan oleh firman Allah tentang keutamaan mengampuni orang lain:

?Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara pasangan-pasanganmu dan akan-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.? (QS. Al-Tghabun [64]: 14).

Tak hanya agama cinta, Islam juga agama toleran. Dari namanya sendiri, ?Islam? berasal dari akar kata silm dan salamah yang berarti menyerahkan diri, membimbing kepada kedamaian, dan membangun keamanan. Islam adalah agama yang mengedepankan pengampunan, memementingkan keamanan, menghindari kekerasan, mengutakamakan keselamatan, dan menomorsatukan perdamaian. Inilah doktrin inti ajaran Islam. Namun demikian, tak dapat kita pungkiri, ajaran mulia yang melekat dalam Islam ini tak sepenuhnya dipahami oleh umat Islam sendiri, bahkan celakanya lagi disalahpahami oleh Barat sebagai agama pedang dan karena itu menyukai perang.

Oleh karena itu tidak dapat ditawar lagi, sudah saatnya umat Islam memahami dengan cara mempelajari kembali ajaran-ajaran Islam yang rahmatan li al-alamin (menebar rahmat bagi semesta alam), sebagaimana pernah diajarkan dan diamalkan oleh salaf al-shalih seperti Jalaluddin Rumu, Ibnu Arabi, dan juga Al-Ghazali. Merekalah di antara tokoh-tokoh Islam terkemuka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan toleransi dan diakui dunia sebagai aktor legendaris penebar virus cinta.

Kini, sudah saatnya bagi kita umat Muslim yang mencintai ajaran Rasul, harus terpanggil pula untuk menebarkan virus-virus cinta yang berasal dari ajaran agama kita kepada orang-orang di sekeliling kita. Hanya dengan itulah dialog antar-umat beragama dapat terwujud dan berlangsung dengan baik tanpa harus menyinggung apalagi menyakiti orang lain yang berbeda dengan kita. Dari dialog itulah kemudian terbangun kesalingpengertian, terhindar dari prasangka, dan mendorong kita untuk saling menolong dan bekerjasama demi kemanusiaan, keadilan dan keharmonisan. Kelima hal inilah yang akan menopang terwujudnya perdamaian di tengah masyarakat yang plural. Semoga! Wallahua?lam bi al-shawab. [ ]

?

Ahmad Nurcholish, Penulis buku ?Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama (Elexmedia, 2015)

?

*) Tulisan ini pernah dimuat di www.icrp-online.org

Foto: Moh. Monib/Prasetya Mulya