Membangun Sinergi dalam Kerja-kerja Peace-building

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 07 Maret 2016
Membangun Sinergi dalam Kerja-kerja Peace-building

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Upaya mewujudkan perdamaian sesungguhnya sudah dimulai sejak awal peradaban manusia diwarnai oleh konflik, kekerasan, bahkan pembunuhan di antara umat manusia itu sendiri. Pada saat konflik dan kekerasan itu meletup, maka pasca itu pula usaha memulihkannya kepada kondisi damai nirkekerasan dilakukan. Itu artinya manusia sesungguhnya lebih menginginkan damai ketimbang sebaliknya.

Akan tetapi, setiap fase sejarah peradaban manusia justru tak pernah absen dari konflik, kekerasan, perang, dan pembunuhan yang telah merenggut jutaan nyawa secara sia-sia. Konflik dan perang tak hanya melibatkan manusia antar Negara yang berbeda, juga terjadi antar manusia di satu Negara, di satu daerah, bahkan di satu kampung paling kecil sekalipun. Di antara konflik dan perang tersebut agama tak jarang (di)-hadir-(kan) di dalamnya.

Oleh karena itu usaha-usaha nyata dalam membangun perdamaian masih terus dilakukan. Gerakan perdamaian modern yang getol menentang perang telah dimulai sejak abad ke-19 setelah perang Napoleon, dimana pada saat itu telah terbentuk jajaran intelektual dan politisi progresif. Masyarakat, pada masa itu telah serius mempelajari akan adanya ancaman perang dan dampaknya bagi masyarakat. Tak hanya itu, mereka juga menyebarkan argument perlawanan terhadap kegiatan produksi senjata secara massal. Dari situlah mulai muncul organisasi yang bergiat dalam upaya-upaya perdamaian di Inggris, Belgia, dan Prancis (M. N. Ikhsan Saleh, 2012: 46).

Namun demikian, jauh sebelum itu upaya-upaya untuk mewujudkan kehidupan damai sudah dapat dijumpai pada masa awal peradaban Islam, yakni abad ke-7 Masehi. Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Islam memberikan pengajaran kepada para sahabat untuk menghormati pemeluk agama lain. Hal ini terlihat ketika Nabi tiba di Kota Madinah dan resmi menjadi pemimpin kota. Nabi Muhammad menjalin persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam.

Di Madinah, selain orang-orang Arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat Yahudi dan Nasrani serta penganut agama nenek moyang mereka. Untuk menjaga stabilitas masyarakat agar terwujud, Nabi mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Sebuah piagam yang menjamin kebebasan beragama bagi penganut non-Islam. Dari situ dapat dilihat bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw di masa awal pertumbuhannya telah menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. Jadi, pendidikan Islam di masa awal telah berada dalam perjuangan dan usaha untuk mencapai perdamaian (Ibid., 117-118).

Sayangnya, sepeninggal Nabi Muhammad ajaran perdamaian yang telah dipraktikkan oleh masyarakat Muslim pada masa awal peradaban Islam tersebut seolah hilang seiring dengan terjadinya berbagai konflik dan perang yang melibatkan internal umat Islam sendiri maupun dengan kelompok non-Islam. Konflik dan pertikaian terjadi pada masa Khulafa ar-Rasyidin, masa Muawiyah serta masa-masa berikutnya bahkan hingga periode dewasa ini. Konflik dan perang masih terus kerap terjadi terutama di kawasan Islam Timur Tengah. Hal tersebut yang kemudian membuat seolah ajaran perdamaian dalam Islam hilang begitu saja. Hingga kemudian wacana pentingnya pendidikan perdamaian muncul pada era kontemporer pada abad 19 Masehi sebagaimana telah disinggung di atas.

Gelombang gerakan perdamaian abad ke-19 ini ada kaitan erat dengan asosiasi para pekerja social dan kelompok politik sosialis. Fase terakhir dari gerakan perdamaian abad kesembilan belas tersebut mendahului Perang Dunia Pertama yang terjadi mulai 28 Juli 1914 sampai 11 November 1918. Organisasi perdamaian dibentuk di hampir seluruh Negara Eropa, yang selanjutnya menyebar ke Amerika Serikat dan Negara-negara yang baru terbentuk dari Italia hingga Jerman.

Ketika abad 19 akan berakhir, kelompok pendidik, murid-murid sekolah, mahasiswa, dan professor di sejumlah kampus, berkomitmen membentuk masyarakat damai dengan cara mendidik masyarakat umum akan bahaya perang yang telah memakan banyak korban (Ian M. Harris, 2002: 679).

Dalam perkembangan selanjutnya, awal abad ke-20, orang Eropa dan Amerika meninisiasi gerakan perdamaian untuk melobi pemerintah mereka terhadap pameran kekuatan senjata yang akhirnya menyebabkan Perang Dunia I. Seorang Austria bernama Bertrha von Suttner, yang membantu menyakinkan Alfred Nobel untuk menghelat pemberian hadiah perdamaian, menulis novel menentang perang dan mengorganisasi konggres perdamaian internasional.

Konggres tersebut mengusung gagasan bahwa konflik internasional yang mewujud dalam peperangan harus diselesaikan melalui mediasi bukan adu senjata. Perhelatan konggres bertujuan untuk memengaruhi opini public terhadap pembangunan kekuatan dunia militer yang menandai Perang Dunia I. selain itu, juga ajang bagi para elit pemangku kekuasaan agar mereka dapat mengadopsi nilai-nilai perdamaian dalam kebijakan public yang lebih luas (Harris, 2008: 1).

Dalam ranah pendidikan, tahun 1912, School Peace League telah memiliki cabang di hampir seluruh Negara bagian di Amerika Serikat yang mempromosikan perdamaian melalui sekolah, mengedepankan kepentingan keadilan internasional dan persaudaraan antar-umat manusia (D. Scanlon, 1959: 214).

Tak hanya kegiatan promosi, mereka juga memiliki rencana ambisius untuk memperkenalkan lebih dari 500.000 guru yang berkomitrmen untuk menyemai nilai-nilai perdamaian. Rentang Perang Dunia I dan Perang Dunia II, guru mengajarkan perdamaian melalui mata pelajaran social dan materi hubungan internasional sehingga peserta didik tidak mudah terprovokasi untuk memerangi orang asing. Mereka berkeyakinan bahwa sekolah mampu berperan sebagai lokomotif untuk mendorong terwujudnya perdamaian dan menghindari perang, sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme kebangsaan.

Pendidikan perdamaian memiliki kontribusi besar terhadap reformasi pendidikan yang mengarah kepada pendidikan progresif yang mana sekolah dipandang sebagai wahana untuk meningkatkan kemajuan social dan teknologi, (Fred R. Von Der Mehden, 1986: 48) dengan membangun kesadaran peserta didik memiliki empati kemanusiaan. Dengan kesadaran itu mereka tak lagi berfikir untuk perang, melainkan lebih mengedepankan persaudaraan dan perdamaian.

Hingga penghujung abad ke-20. Pada era ini terjalin perkembangan yang cukup menggembirakan, dimana terjalin hubungan simbiosis penting antara gerakan perdamaian, peneliti perdamaian, dan pelaku peace education. Pengembangan strategi pun dilakukan oleh pemimpin aktivis untuk memperingatkan masyarakat tentang bahaya kekerasan, apoakah itu perang antar Negara, kerusakan lingkungan, ancaman bencana pemusnah massal, kolonialisme, budaya kekerasan yang kian mengancam baik dalam ranah domestic atau kekerasan structural yang terjadi secara sistematik.

Kalangan akademik mempelajari perkembangan lebih lanjut bidang penelitian perdamaian. Pegiat perdamaian memperluas pesan mereka dengan mengajar orang lain melalui pendidikan informal yang berbasis masyarakat melalui kegiatan peace education. Sedangkan para guru mengamati kegiatan, mempromosikan studi perdamaian, kursus, program-program di sekolah dan perguruan tinggi untuk memberikan kesadaran akan pentingnya perdamaian dan menentang keras peperangan dan kerusakan lingkungan. (Ikhsan Saleh, 52).

Hingga abad ke-21 upaya membangun perdamaian tak pernah redup, bahkan terus bergerak intens seiring dengan persoalan umat manusia yang kian kompleks, khususnya ketika berhadapan dengan dinamika kemajemukan yang ada. Studi-studi perdamaian pun dilakukan tidak hanya di lembaga pendidikan maupun lembaga penelitian, tetapi juga dilakukan oleh sejumlah Non-Government Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di seantero dunia, termasuk Indonesia.

Pertanyaanya, mengapa perdamaian tak juga terwujud? Konflik dan kekerasan, bahkan perang masih terus berlangsung di sejumlah Negara dengan ciri dan warna yang berbeda. Pun di Indonesia, konflik dan kekerasan masih menjadi hantu laten bagi kehidupan bermasyarakat di Tanah Air. Adakah yang salah dengan kerja-kerja peace-building selama ini?

Dalam analisis saya, bisa jadi karena kerja-kerja peace-building tersebut cenderung dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing kelompok sehingga daya manfaatnya tak menjawab atas persoalan yang begitu kompleks. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.

Pertama, sudah saatnya sejumlah kelompok kerja perdamaian (LSM, NGO, FBO (Faith Base Organization) duduk bersama membahas tantangan yang dihadapi dalam upaya membangun perdamaian sekaligus melakukan analisis social dan strategi kerja yang komprehensif, meliputi jangka pendek, menengah, dan panjang.

Dari situlah kemudian diketahui apa saja akar persoalannya, apa saja tantangannya, bagaimana strategi mengatasinya, sekaligus merumuskan perencanaan dan ragam kerja secara bertahap dan simultan. Selain itu, juga melakukan pendataan kebutuhan baik meliputi sumber daya manusia maupun sumber dana operasionalnya.

Kedua, di antara kelompok kerja tersebut berbagi peran sesuai dengan core program masing-masing sebagaimana yang selama ini dilakukan. Masing-masing kelompok hanya focus pada segmen kerja sesuai sepesialisasinya tersebut sehingga dengan segala keterbatasan dan kelebihan relative dapat bekerja secara maksimal.

Ketiga, masing-masing kelompok kerja (organisasi atau lembaga) hendaknya juga menjalin jejaring kerja dengan berbagai pihak yang memiliki visi yang sama dalam mewujudkan perdamaian. Mitra kerja tersebut bisa dari kalangan swasta maupun pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Dari kalangan swasta misalnya dapat bermitra dengan CSR (corporate social responsibility) yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan kategori menengah dan atas. Pun dari kalangan pemerintah dapat memanfaatkan sejumlah kementerian yang relevan serta pemerintah daerah yang kesemuanya menginginkan daerahnya dalam kondisi damai. Pengalaman selama ini memang tidak mudah bermitra dengan swasta maupun pemerintah. Karena itui diperlukan komunikasi intensif dan smart untuk dapat menyakinkan mereka bekerjasama membangun perdamaian.

Keempat, melakukan evaluasi secara berkala dan kemudian melakukan peninjauan ulang serta perbaikan jika ada yang mesti diperbaiki. Dengan begitu kita mengetahui tingkat keberhasilan dan efektifitas kerja yang telah dijalankan oleh masing-masing kelompok kerja. Evaluasi juga menyangkut sinergi yang telah diimplementasikan untuk mengetahui tingkat produktivitas dan visibilitasnya.

Kelima, kerja peace-building tidak hanya focus dalam ranah dialog antar umat beragama tetapi juga kerjasama di bidang pemberdayaan masyarakat. Sebagaimana kita ketahui bahwa radikalisme agama salah satunya dipicu oleh persoalan ekonomi yang membelit mereka. Oleh karena itu, di masa depan, dan harus dimulai dari sekarang, pengembangan atau peningkatan kapasitas masyarakat (community development) dan pemberdayaan/penguatan masyarakat (community empowering) harus menjadi focus utama.

Keenam, kita juga tidak bisa melupakan kemandirian para penggiat perdamaian di luar kerja-kerja yang mereka lakukan dalam ranah peace-building tersebut. Artinya, para penggiat perdamaian itu juga harus diperhatikan kebutuhan ?amunisi?-nya dalam mencukupi kebutuhan hidup bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Tanpa itu, maka lambat laun para pekerja di bidang peace-building satu per satu akan ?tumbang?. Kiranya perlu dipikirkan cara dan strategi untuk memenuhi aspek ini.

Ketujuh, perlunya melakukan proses kaderisasi. Kerja-kerja membangu perdamaian memang tak hanya bisa dilakukan dalam jangka waktu sebentar. Ia diperlukan sepanjang peradaban manusia masih diwarnai dengan konflik, kekerasan dan perang. Karena itu keberadaan kader menjadi penting agar perjuangan dapat terus dilanjutkan. Faktanya memang hanya segelintir orang yang konsisten bekerja di ranah ini. Selebihnya seleksi alam akan mengeliminir mereka dan kembali pada persoalan domestic masing-masing.

Dengan demikian sinergi dalam kerja-kerja membangun perdamaian amat diperlukan bahkan akan menjadi kunci utama atas keberhasilan mewujudkan perdamaian yang entah kapan dapat kita wujudkan. Ini memang bukan pekerjaan sederhana! [ ]

?

Ahmad Nurcholish, Koord. Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP

?

?

?

  • view 386