Dakwah Melalui Jalan Damai

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 25 Januari 2016
Dakwah Melalui Jalan Damai

Oleh Ahmad Nurcholish

?

?Tak Ada Perdamaian Dunia Tanpa Perdamaian Agama-agama.?

?

Ungkapan Hans Kung di atas jelas hendak menegaskan peran penting agama-agama. President Yayasan Etika Global itu seperti ingin mengingatkan kembali akan tujuan hadirnya agama di muka bumi. Saat yang sama mungkin pula justru ia tengah mempersoalkan kenyataan sebaliknya. Mengapa mereka yang mengaku beragama justru terlibat dalam konflik dan kekerasan berdarah.

Ungkapan ini jelas pula tertuju pada Islam yang dipeluk sekitar 1.5 milyar penduduk dunia. Jika Islam agama damai, mengapa pemeluknya justru melakukan tindakan kekerasan, penebar kebencian dan mengedepankan semangat permusuhan? Di mana yang keliru, ajarannya atau umatnya?

Jika merujuk ajaran dasar Islam, jelas sekali Islam menempatkan perdamaian sebagai salah satu prinsip ajarannya. Tiga alasanya. Pertama, Tuhan adalah Mahadamai. Dalam al-asma? al-husna, nama-nama Tuhan yang indah, Yang Mahadamai (al-salam) merupakan satu dari 99 nama yang tersedia.

Tuhan menciptakan manusia (sebagai khalifah), di antara fungsinya untuk menjaga keberlangsungan hidup umat manusia. Karena itu, seluruh praktiek ritual keagamaan selalu mempunyai visi dan misi mewujudkan kedamaian dan perdamaian. Misalnya, setiap selesai menunaikan ibadah shalat, umat Islam senantiasa membaca doa dan wiridan yang berisi tentang harapan untuk hidup damai. Wirid tersebut berbunyi,

?

Wahai Tuhan, Engkau adalah Mahadamai.

Dari-Mu memancar kedamaian.

Dan kepada-Mu kedamaian akan kembali.

Maka hidupkanlah kami dengan kedamaian

dan masukkanlah kami ke dalam surga, rumah kedamaian

?

Dari wirid ini jelas kedamaian dan juga perdamaian adalah dambaan yang senantiasa diharapkan seorang Muslim. Bahkan puncak dari segala pengharapan tersebut adalah surga yang merupakan rumah kedamaian, tempat terindah bagi kehidupan abadi orang-orang yang menghuninya kelak.

Kedua, perdamaian merupakan keteladanan yang dipraktikkan Nabi Muhammad Saw. Ketika memulai dakwahnya, Nabi menjadikan perdamaian sebagai salah satu titik penting melakukan perubahan sosial. Rasulullah sadar betul bila dakwahnya dimulai dengan jalan kekerasan, sejak awal akan mendapatkan perlawanan keras. Secara sosiologis dapat dipastikan bahwa orang-orang Arab yang hidup di padang pasir, yang memiliki kecenderungan mempertahankan hidup dengan jalan kekerasan merupakan tantangan tersendiri bagi Rasulullah Saw.

Atas pertimbangan ini, Nabi memilih cara terbaik dalam berdakwah: jalan damai. Di akhir dakwahnya, Nabi memang harus memilih jalan perang untuk mempertahankan diri dari invasi pihak luar. Tapi yang harus dicatat, dalam perang pun Nabi senantiasa mengacu jalan damai sebagai alternatif strategi dakwah. Bahkan ketika menjelang wafat Nabi berpesan agar menjaga kehormatan setiap manusia, tak menumpahkan darah dan tak pula melakukan tindakan diskriminatif. Karena sesungguhnya yang membedakan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain adalah kadar ketakwaan, bukan warna kulit, bangsa maupun agama.

Ketiga, perdamaian salah satu bentuk ukuran tertinggi peradaban manusia. Menurut sejarawan dan sains Islam klasik asal Tunisia Ibnu Khaldun, setiap manusia harus menjalin hubungan yang harmonis dengan yang lain. Hakikatnya manusia makhluk yang senantiasa melakukan interaksi sosial. Jika dilakukan sesungguhnya bangsa tersebut telah membangun peradaban yang adiluhung. Jika tidak, maka akan terjadi kekacauan yang bisa mengarah pada kerusakan. Karena itu, perdamaian sesungguhnya merupakan inti dari agama dan relasi sosial. Menolak perdamaian merupakan sikap yang bisa dikategorikan sebagai menolak esensi dan kemanusiaan.

Sayangnya semangat beragama dengan menghayati (kembali) inti atau esensi dari ajaran Islam itu sendiri telah hilang di sebagian umat Islam. Sehingga yang termanifestasi dari keberagamaan mereka cenderung perilaku destruktif dan kontraproduktif bagi nilai-nilai Islam yang damai. Karenanya menjadi penting kembali menyelami hakikat dari keislaman ini. Dari sana kita berharap menemukan pesan otentik yang menjadi ruh ajarannya.

Kata Islam sendiri berasal dari kata aslama-yuslimu-islaman berarti mendamaikan. Ayat al-Qur?an berbunyi udkhuluu fi al-silm kaaffah bisa diartikan dengan, masuklah kalian dalam kedamaian secara total. Karena kata al-silm berarti kedamaian. Inilah makna dasar dari Islam.

Dalam konteks keberagamaan dan kehidupan sosial secara umum tak ada alasan mengabaikan perdamaian. Bahkan jika di tengah komunitas Muslim dan lintas agama masih terjadi kekerasan, maka bisa dikatakan telah terjadi penyimpangan dari ajaran Islam. Karena itu, komitmen untuk membangun perdamaian harus diperbaharui dan dibangun secara berkelanjutan sehingga sepirit yang ada dalam agama dapat dipraktekkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Jangan sampai agama yang sejatinya menuntun umatnya untuk selalu dalam jalan yang terang, damai, lurus dan senantiasa mengedepankan hidup dalam keharmonisan (sakana-sakinah). Jalan damai inilah yang dianjurkan Allah untuk dijadikan pilihan.

?

Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka hendaknya kamu memilih jalan tersebut dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui (QS. Anfal [8]: 61)

?

Betul bahwa upaya membangun perdamaian bukanlah hal gampang. Bahkan jika kita cermati secara seksama, perdamaian masih belum menjadi pilihan alternatif, apalagi dijadikan sebagai jalan utama. Cara-cara kekerasan masih kerap digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan keagamaan. Celakanya, cara-cara anarkistis itu seolah-olah menjadi bagian inhern agama. Para pelaku biasanya merujuk kisah-kisah peperangan yang dilakukan Nabi di masa hidupnya. Mereka dan juga kita barangkali tak pernah mencermati apakah perang merupakan ajaran utama dalam Islam? Lebih utama mana antara jalan perang dan jalan perdamaian?

Dari situlah maka menjadi sangat penting untuk membedah kembali dimensi perdamaian dalam Islam. Sekali lagi Tuhan itu Mahadamai. Perdamaian kehendak ilahi. Bahkan perdamaian identik dengan surga. Dalam surga tak ada lagi kebencian, kecurigaan, pertikaian, bahkan pertumpahan darah. Kehidupan surgawi adalah kehidupan yang dapat membangun toleransi dan tenggang rasa antara sesama makhluk Tuhan.

Di antara perlombaan yang mestinya diutamakan adalah perlombaan untuk membangun perdamaian, bukan kekerasan apalagi peperangan. Perdamaian merupakan jantung dan denyut nadi agama. Karena itu dakwah tentang perdamaian dengan cara damai harus diprioritaskan sehingga kemanusiaan dapat berjalan sebagaimana diamanatkan Tuhan dan Rasul-Nya. Tak hanya itu Nabi pun banyak memberikan tauladan bagaimana umat Islam seyogyanya lebih mengutamaka jalan damai, bukan jalan perang.

Menyelami kembali ayat 61 pada Surat Al-Anfal [8] di atas menjadi penting bagi kita bersama. Utamanya dalam rangka menemukan oase perdamaian dalam agama. Ayat tersebut ini menjadi anti-klimaks dari kehidupan konfrontantif yang dialami Nabi dan para sahabat pada masa dakwah Islam. Artinya, perang bukan pilihan paling akhir di antara pilihan yang ada. Perang dilakukan di saat-saat tertentu, sedangkan perdamaian harus ditegakkan sepanjang masa. Perdamaian merupakan spirit yang diutamakan Tuhan, dan didakwahkan oleh agama-agama. Di sinilah ayat tersebut mempunyai signifikansi untuk dicermati secara hermeneutis karena memiliki konsern yang bersifat eksplisit dalam rangka mengkampanyekan perdamaian. Karena itu pula, ayat tersebut harus menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

Dalam konteks keindonesiaan ? ayat tersebut sangat relevan untuk diimpolementasikan dalam ranah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Apalagi jika melihat masih tingginya angka kekerasan, yang baik langsung maupun tak langsung berkaitan dengan isu-isu agama. Maka, perdamaian semestinya menjadi spirit yang gemanya terus dikumandangkan dari Aceh hingga Papua. Umat Islam harus menjadi umat terdepan dalam rangka menyuarakan perdamaian. Apalagi di tengah kuatnya kecenderungan untuk membangun benteng benturan antara umat agama-agama, Islam sudah selayaknya menjadi pionir dan pelopor untuk menyalakan api perdamaian. Sayangnya adalah, di tanah kelahiranya, Islam belum menjadi ruh yang kuat untuk menyemai perdamaian. Negara Arab, tanak kelahiran dan tempat tumbuhnya Islam hingga hari ini masih diwarnai dengan konflik yang berdarah ? dan kita tidak tahu kapan hal itu akan berakhir.

Maka, permenungan dan pemikiran yang tenang untuk merajut kembali perdamaian amat sangat diperlukan. Bukan saja perdamaian antara umat Islam dengan non-Muslim, tetapi juga hubungan di internal umat Islam sendiri juga perlu mendapatkan perhatian penuh. Kampanye perdamaian di internal umat Islam sangat diperlukan, sehingga diharapkan mampu mendorong perdamaian dalam konteks yang lebih luas. Harus diakui memang, bahwa lemahnya upaya membangun perdamaian di tengah-tengah umat Islam sangat terkait dengan realitas pergulatan internal umat yang sejak dulu menganut hukum rimba: pihak yang kuat selalu menjatuhkan pihak yang lemah. Contoh yang masih hangat adalah kekerasan dan indimidasi yang dialami oleh jemaat Ahmadiyah dan Syi?ah di Tanah Air. Mereka harus ?tunduk? terhadap hegemoni (sekelompok) madzhab Islam yang menilainya sesat. Ironinya, dalam kasus-kasus semacam ini Negara pun tak mampu berbuat banyak, bahkan terkesan melakukan pembiaran ? jika tidak mau dikatakan ?mendukung? aksi-aksi intimidasi dan kekerasan tersebut.

Dengan demikian, perdamaian harus menjadi kekuatan penuh untuk membangun puing-puing perdamaian. Perdamaian merupakan warisan yang sangat penting, menarik dan patut diteladani daripada warisan perang. Andalusia dan Turki merupakan dua negeri yang telah menyemai perdamaian itu. Kini, kita harus punya niat yang kuat untuk membangun kembali hidup damai, nirkekerasan. Mengutamakan jalan damai akan memberikan amunisi bagi umat Islam untuk menyongsong peradaban kemanusiaan yang amat mulia. Sebuah peradaban yang kita dambakan bersama, khususnya kita yang hidup di bumi Indonesia yang berbhineka [ ]

?

Ahmad Nurcholish, penggiat peacebuilding, aktif di ICRP Jakarta

?

?

?

  • view 564