Perenialisme Agama-Agama

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 25 Januari 2016
Perenialisme Agama-Agama

Diskursus filsafat perennial kembali mengemuka sejak 20 tahun terakhir di Indonesia. Sebelumya, mereka yang pernah mempelajari tema filsafat di sebuah jurusan filsafat, tak mengenal materi ini. Kalau toh mengenal, hanya sepintas lalu saja, dan tidak secara mendalam dibahasnya. Bahkan, filsafat ini nyaris tidak pernah diperkenalkan dalam universitas. Mengapa demikian? Apakah filsafat perennial ini merupakan sebuah filsafat semu (pseudo philosophy), sebagaimana pernah disinggung oleh Budhy Munawar-Rahman - BMR (2001: 80-98), sehingga para ahli filsafat di era modern ini tidak membicarakannya sama sekali, dan menjadikannya sebagai sebuah perspektif? Padahal, sebagai istilah, filsafat perennial (the perennial philosophy) sangat popular di kalangan New Age.

Filsafat perennial (philosophia perennis) dalam definisi teknisnya, adalah pengetahuan yang selalu ada dan akan selalu ada. Dalam ungkapan Frithjof Schuon, ia mengatakan, ?the timeless metaphysical truth underlying the diverse religion, whose written sources are the revealed Scriptures as well as writtings og the graet spiritual masters.? Definisi yang lebih terang dikemukakan oleh Aldous Huxley, yang menyebut bahwa filsafat perennial adalah: Pertama, Metafisika yang memperlihatkan suatu hakikat kenyataan Ilahi dalam segala sesuatu: kehidupan dan pikiran; Kedua, Suatu psikologi yang memperlihatkan adanya sesuatu dalam jiwa manusia (soul) identic dengan kenyataan Ilahi itu; dan Ketiga, Etika yang meletakkan tujuan akhir manusia dalam pengetahuan, yang bersifat imanen maupun transenden, mengenai seluruh keberadaan. (The Perennial Philosophy, 1945; BMR, Islam Pluralis, 2001: 86).

Pengetahuan filsafat perennial ini, demikian Rahman, memang memperlihatkan kaitan seluruh eksistensi yang ada di alam semesta ini, dengan realitas Yang Absolut. Realisasi pengetahuan ini dalam diri manusia, hanya bisa dicapai melalui apa yang ? sejak era Plotinus melalui bukunya The Six Eneals, - disebut ?intelek? (Soul/Spirit), yang ?jalannya? pun hanya dapat dicapai melalui tradisi-tradisi, ritus-ritus, symbol-simbol dan sarana-sarana yang memang diyakini sepenuhnya oleh kalangan perennial ini sebagai bersumber dari Tuhan. Dasar-dasar teoritis pengetahuan tersebut, ada dalam setiap tradisi keagamaan yang otentik, yang dikenal dengan berbagai konsep.

Contoh yang dapat kita paparkan, dalam agama Hindu disebut Sanathana Dharma, yaitu kebajikan abadi yang harus menjadi dasar kontekstualisasi agama dalam situasi apa pun, sehingga agama senantiasa memanifestasikan diri dalam bentuk etis, dalam keluhuran hidup manusia. Pun dalam Taoisme, diperkenalkan konsep Tao, sebagai asas kehidupan manusia yang harus diikuti kalau ia mau alami sebagai manusia. Di Tiongkok, misalnya Taoisme berusaha mengajak manusia untuk berpaling dari dunia kepada Tao (?jalan?) yang dapat membawa manusia kepada penyucian jiwa dan kesalehan dalam bahasa Islam. Dengan Tao, manusia dibawa kepada jati diri yang asli, yang hanya dapat dicapai dengan sikap wu-wei (tidak mencampuri) jalan semesta yang sudah ditetapkan. Dengan demikian, Tao mengajak manusia untuk hidup secara alami (suci), yang dalam Islam dikenal dengan istilah fitrah. Begitu pun dalam agama Buddha, diperkenalkan konsep Dharma yang merupakan ajaran untuk sampai kepada The Buddha-nature, atau dalam agama Islam disebut al-Din, yang berarti ?ikatan? yang harus menjadi dasar beragama bagi seorang Muslim. Inilah yang dalam filsafat abad pertengahan diistilahkan dengan sophia perennis, dan sebagainya.

Oleh karena itu, jika disebut perennial religion, itu artinya ada hakikat yang sama dalam setiap agama, yang dalam istilah Sufi kerap diistilahkan dengan religion of the heart, meskipun terbungkus dalam wadah/jalan yang berbeda. Ini sejalan denga apa yang dikatakan Sri Ramakrisna, seorang suci dan filsuf India abad ke-19 bahwa, ?Tuhan telah menciptakan berbagai agama untuk kepentingan berbagai pemeluk, berbagai waktu dan berbagai negeri. Semua ajaran merupakan jalan. Sesungguhnya seseorang akan mencapai Tuhan, jika ia mengikuti jalan mana pun, asal dengan pengabdian yang sepenuh-penuhnya.?

Dengan demikian, hakikat dari agama perennial adalah, ?mengikatkan manusia dengan Tuhannya.? Kata ini sebetulnya biasa dan kerap didengar. Tetapi, sebagaimana diuraikan Rahman, karena tidak adanya kesadaran perennial, maka menjadi verbal semata. Padahal, dari sudut pandang perennial, ini menjadi dasar kehidupan beragama sebagai jalan alamiah, demi kebajikannya sendiri. Religion, yang berasal dari kata religio, yang berarti to bind with God. Istilah ini, hakikatnya mengatasi aspek institusional dari agama ? termasuk komunitas, system symbol, ritus, pengalaman religious, dan sebagainya ? yang kini telah menjadi arti sempit dari agama itu sendiri. (BMR, 2001: 88).

Berangkat dari pemahaman di atas, memungkinkan kita untuk mencapai ?kesatuan transenden agama-agama? atau istilah asli yang digunakan Frithjof Schuon adalah The Transcendent Unity of Religion. Tetapi, yang mesti kita pahami pula, bahwa kesatuan agama-agama ini hanya berada pada level ?esoteric? dalam bahasa Huston Smith, ?essensial? dalam istilah Baghavas Das, atau ?transenden? istilah yang gunakan oleh Schuon dan Seyyed Hossein Nasr, selain oleh pengikut setia filsafat perennial sendiri. Oleh karena itu, kesatuan agama-agama tidak terjalin pada ranah eksoterisme (lahiriah). Inilah yang kerap disalahpahami oleh kalangan atau kelompok yang selalu menkritik konsep pluralisme agama yang dipahaminya sebagai kesamaan atau penyamaan agama-agama, termasuk dalam hal ajaran, syariat, atau ritualnya. Jadi, yang menandaskan adanya kesatuan agama-agama itu ?hanya? pada level esensi atau subtansi ajaran, bukan pada level tata-cara ibadah, syariat, atau manhaj dalam berteologi.

Mari kita simak metaphor yang tepat untuk menggambarkan kesatuan agama-agama yang kerap digunakan oleh kaum perennialis. Jika esoterisme adalah cahaya, maka setiap agama menangkap cahaya itu dalam berbagai warna (sebagai agama-agama) dan berbagai ?daya terang? ? ada yang sangat terang, ada yang terang biasa, dan ada juga yang redup-samar. Tentu ini perumusan doktrin metafisiknya. Tetapi dari sudut pandang filsafat perennial, adanya aneka warna cahaya berikut ?daya terang?-nya tidaklah penting. Ada dua alasan, sebagaimana dikemukakan Budhy Munawar-Rachman:

Pertama, meskipun ada berbagai macam cahaya (merah, kuning, hijau, hitam, dan sebagainya), tetapi semua itu tetap dinamakan cahaya. Jadi, kalau agama itu otentik, tetap ada core yang sama. Kesamaan ini ada pada tataran esoteric, bukan pada ranah eksoterik.

Kedua, walaupun cahaya memiliki daya terang yang beragam, tetapi semua cahaya (juga agama) akan mengantarkan manusia pada Sumber Cahaya itu (yakni, Tuhan), yang sekalipun ada yang tipis dan remang-remang. Sebab, jika ia terus menelusuri cahaya itu, ia akan tetap sampai kepada Sumbernya. ?Sampai pada Sumber? inilah yang paling penting dalam agama. Karena itu, hakikat agama adalah adanya sense of the absolute pada diri manusia, sehingga ia merasakan terus-menerus adanya ?Yang Absolut? pada dirinya. Kehadiran ?Yang Absolut? inilah yang senantiasa mengawal manusia berada dalam jalan ?kebenaran?-Nya, jalan suci yang diajarkan oleh semua agama.

Pada aras ini pula, manusia merasakan makna simbolik kehadiran Sang Pemilik Kehidupan. Wujud hakikat agama itu, sejatinya merupakan pengetahuan, sekaligus pula kebijaksanaan. Istilahnya Sophia, kata orang bijak dari Yunani Kuno; atau sapientia menurut istilah orang suci Kristiani abad Pertengahan; jnana dalam ungkapan tradisi Hindu; dan al-ma?rifah atau al-hikmah menurut konsep Sufi. Itu sebabnya, hakikat agama kerap disebut sebagai scientia sacra yang berarti pengetahuan suci atau devine knowledge. Pengetahuan ini dialami ? bukan sekadar diyakini ? berasal dari ?Alam Surgawi,? yang kemudian diturunkan sebagai wahyu dengan berbagai cara/metode. Oleh karena itu, sekali lagi, harmoni (kesatuan agama-agama) berada dalam ?langit Ilahi? (esoteric, transenden), bukan dalam ?atmosfir bumi? (eksoteris), yang kerap memantik perdebatan.

Dengan demikian, filsafat perennial menguraikan keanekaragaman ?jalan keagamaan? yang ada dalam kenyataan historis setiap agama, mestinya bisa diterima dengan lapang data dan penuh toleransi. Sebab, pada hakikatnya, ajaran (perennial) Tuhan ? seperti Tuhan itu sendiri ? hanya Satu, tapi diungkapkan dengan banyak nama dan ajaran yang diturunkan melalui para Nabi dan Rasul. ?Yang Satu? ini dalam perspektif perennial adalah ?Yang Tidak Berubah,? merupakan fithrah. Mengembalikan keanekaragaman yang ada dalam kehidupan sehari-hari ini kepada ?Yang Tidak Berubah,? merupakan pesan dasar filsafat perennial, yang pada dasarnya adalah pesan keagamaan, sebagaimana disebut dalam terminology Islam al-din-u ?l-nashihah (?agama itu pesan/nasihat?). Pesan ini tersurat dalam Q., s. al-Rum [30]: 30.

Dari pemaparan ini harapan kita, secara metodologis, pandangan perennial membawakan harapan segar di masa depan terhadap tradisi dialog antar-umat beragama. Sebab, melalui metode ini diharapkan tidak saja sesama umat beragama menemukan transcendent unity of religions, melainkan bahkan mendiskusikannya secara lebih mendalam. Sehingga terbukalah kebenaran yang betul-betul benar. Dan tersingkirlah kesesatan yang benar-benar sesat ? meskipun tetap dalam lingkup langit kearifan. Dan keduanya ? kebenaran dan kesesatan ? mungkin saja terjadi pada sikap kita atau suatu kelompok tertentu yang seakan berada pada posisi paling atas sehingga yang lain diklaim berada di bawah.

Pendekatan perennial inilah, walaupun secara teoritis memberikan harapan dan kesejukan, namun karena belum secara luas dipahami dan diterima kecuali oleh kalangan terbatas, ke depan pelan tapi pasti mampu mewarnai belantika cakrawala berfikir kita dalam memandang agama kita di tengah keberadaan agama-agama atau keyakinan milik orang lain. [ ]

?

Ahmad Nurcholish, Ketua Dept. Pendidikan Kebhinekaan dan Perdamaian ICRP, bergiat juga di Yayasan Cahaya Guru (YCG) Jakarta.

  • view 365