Menuju Damai Positif

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 29 Februari 2016
Menuju Damai Positif

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Masih banyak yang memahami bahwa perdamaian adalah ketika tiadanya perang, tiada kekerasan, atau tiada konflik di tengah masyarakat. Dalam pandangan Johan Galtung, kondisi seperti itu ia sebut sebagai damai negative (negative peace). Lantas bagaimanakah damai positif itu?

Galtung mendefinisikan perdamaian negative sebagai situasi absennya konflik (conflict) dan kekerasan (violence). Dari permukaan bisa jadi ini sebuah kondisi yang menyenangkan. Akan tetapi, realitas yang sesungguhnya bisa jadi berbeda. Banyak masyarakat mengalami penderitaan akibat konflik dan kekerasan. Bahkan ketidakadilan kerap menimpa sebagian masyarakat kita.

Oleh karena itu, sembari menjaga kondisi damai negative tersebut, kita harus memikirkan untuk beranjak ke arah damai positif (positive peace). Perdamaian positif oleh Galtung didefinisikan sebagai absennya kekerasan structural atau terciptanya keadilan social serta terbentuknya suasana harmoni (Globalizing God, 2008: 16).

Apa yang diungkapkan sosiolog asal Norwegia tersebut senada dengan yang disampaikan Robert B. Baowollo, ?si vis pacem, para humaniorem solitudinem (jika engkau menghendaki perdamaian, siapkanlah suasana damai sejati dengan cara-cara yang lebih manusiawi)?. (IDEA, Maret 2011: 29).

Mengacu konsep tersebut, usaha mewujudkan perdamaian tidak hanya untuk mengurangi dan menghilangkan tindak kekerasan semata, tetapi juga adanya ikhtiar untuk mewujudkan rasa tentram, harmoni, dan damai dalam realita kehidupan social.

Paling tidak ada tiga ikhtiar yang dapat kita lakukan sebagai usaha menuju damai positif. Pertama, menggali kembali ajaran-ajaran perdamaian di masing-masing agama. Terlalu banyak ajaran-ajaran tersebut dapat kita ungkap kembali. Tak hanya di dalam agama-agama, bahkan juga terdapat dalam ajaran-ajaran kebijaksanaan masyarakat (local wisdom).

Islam misalnya, adalah agama perdamaian. Banyak alasan untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Setidaknya ada tiga alasan, yakni; (1), Islam itu sendiri berarti kepatuhan diri (submission) kepada Tuhan dan perdamaian (peace). (2), salah satu dari nama Tuhan dalam al-asma` al-husna adalah Yang Mahadamai (al-salam).(3), perdamaian dan kasih-sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam bukunya Al-Quran Kitab Toleransi, Zuhairi Misrawi menambahkan bahwa perdamaian merupakan jantung dan denyut nadi dari agama. Menolak perdamaian merupakan sikap yang bisa dikategorikan sebagai menolak esensi agama dan kemanusiaan. (2010: 329).

Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia. Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau kekerasan di antara umat manusia. Konsepsi dan fakta-fakta sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian. Di antara bukti konkrit dari perhatian Islam terhadap perdamaian adalah dengan dirumuskannya Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah), perjanjian Hudaibiyah, dan pakta perjanjian yang lain.

Pada tataran ontologis, agama manapun pada hakikatnya tidak mengajarkan kekerasan, dan kekerasan itu sendiri bukan bagian integral dari agama. Agama mengajarkan sikap cinta-kasih dan keharmonisan dalam hidup. ?Agama memprioritaskan cara-cara damai dan kemanusiaan dalam bersikap sebagaimana diamanatkan oleh nilai-nilai universal agama itu sendiri.

Kedua, tradisi dialog yang sudah dirintis sejak tahun 1970-an oleh sejumlah tokoh dan cendikiawan dari berbagai agama nampaknya mesti kita lanjutkan dan kembangkan. Dialog adalah langkah pertama dari realisasi ajaran agama tentang perdamaian. Dialog pula merupakan cerminan bahwa setiap kita telah memulai membuka diri kepada orang atau kelompok lain yang berbeda.

Selain itu, dialog juga menjadi pintu masuk pertama bagi terjalin-eratnya hubungan antar umat beragama. Karena itu dialog tak hanya dilakukan atau dimotori oleh kalangan elitis saja: tokoh atau pemuka agama, tetapi juga diikuti oleh masyarakat biasa dari berbagai agama dan kepercayaan. Dengan begitu dialog memiliki semangat kebersamaan yang akan memberikan sumbangan positif terhadap upaya mewujudkan toleransi dan perdamaian.

Tak hanya itu saja. Dialog juga menjadikan ruang negosiasi menjadi sangat terbuka. Dengan begitua jika salah satu pihak atau berbagai pihak memiliki kebutuhan yang menyangkut agamanya dapat dengan mudah dikomunikasikan. Melalui dialog itulah antarumat beragama tersebut memahami kebutuhan di setiap komunikas/kelompok agama.

Ketiga, ini merupakan lanjutan dari dialog, yakni kerjasama antarumat beragama. Dialog tanpa kerjasama nyata hanya akan hubungan antaragama menjadi ?editansil? (ejakulasi dini tanpa hasil) semata. Kerjasama ini tidak hanya dalam bentuk kerja-kerja social kemanusiaan belaka, seperti pembuatan posko kemanusiaan bersama atau aksi tanam pohon bersama, tetapi juga kerjasama dalam ranah yang lebih mencerminkan keseriusan adanya hubungan yang sangat baik antarumat beragama.

Salah satu contoh kongkritnya adalah saling membantu dalam mempersiapkan perayaan hari-hari besar keagamaan hingga saling membantu dalam menyelesaikan pembangunan rumah ibadah. Betapa menyenangkannya jika ketika umat Kristen tengah membangun gereja, umat agama lain turuty membantunya. Begitu pula sebaliknya.

Jika ketiga hal di atas dapat dilakukan maka bukan tidak mungkin kondisi damai positif akan segera dapat diwujudkan. Karena itu ini menjadi PR besar bagi semua kelompok/komunitas umat beragama. Kita harus memulainya segera. [ ]

Foto: dok ICRP

?

Ahmad Nurcholish, Koord. Studi Agama dan Perdamaian ICRP, Direktur Program Harmoni Mitra Madania

?

  • view 650