Satu Tujuan, Beragam Agama

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 26 Februari 2016
Satu Tujuan, Beragam Agama

Oleh: Ahmad Nurcholish

?

Suatu ketika Abu al-Mughith al-Husayn ibn Mansur al-Hallaj melihat dua orang bertengkar. Seorang muslim dan seorang Yahudi. Si muslim yang bernama Tahir al-Azdi itu tiba-tiba memaki-maki si Yahudi. Al-Hallaj kaget dan memalingkan muka kepada dua orang yang berseteru itu seraya berkata: ?Sesungguhnya orang Yahudi, Nasrani, Islam, dan agama-agama lainnya adalah nama yang berbeda-beda, tapi tujuannya sama?.

Kisah ini dikisahkan kembali oleh Massignon dalam La Passion d?Al-Houssain Ibn Mansour Al-Hallaj (1922) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Passion of Al-Hallaj: Mistic and Martyr of Islam.

Pernyataan tokoh sufi asal Irak (Persia) di atas itu dinilai merupakan pesan inti dari gagasan mengenai wahdat al-adyan, kesatuan agama-agama. Konsep ini ringkasnya hendak mengatakan bahwa meski agama dan keyakinan beragam pada dasarnya hendak menuju tujuan serupa, tuhan yang sejati.

?Abd al-Qadir Mahmud, seorang pakar tasawuf kenamaan Mesir dalam al-Falsafah al-Sufiyyah fi al-Islam (1966) menyebut konsep wahdat al-adyan ini sebagai salah salah satu anak kandung wahdat al-wujud. Wahdat al-adyan sebuah konsep yang menjelaskan jika semua makhluk menyembah satu Tuhan yang sama yang mewujud pada bentuk-bentuk mereka dan bentuk-bentuk sesembahan mereka. Sejatinya tujuan mereka tak lain hendak menemukan hakikat kesatuan Zat.

Konsep ini memicu beragam tanggapan dan pro-kontra. ?Ini ?menu? menarik sekaligus menantang,? kata Fathimah Usman dalam Wahdat Al-Adyan: Dialog Pluralisme Agama. Gagasan ini pada perkembangan berikutnya banyak diikuti para pemikir lain seperti Ibn ?Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Hazrat Inayat Khan. Nama terakhir merupakan pendiri gerakan sufi internasional Sufi Order di London.

Ibn ?Arabi misalnya mengungkap konsep ini melalui sebuah syairnya yang dikutip Ahmad Amin dalam (?):

?

?Sungguh hatiku telah menerima berbagai bentuk,

tempat penggembalaan bagi kijang

dan biara bagi pendeta,

rumah bagi berhala,

dan ka?bah bagi yang berthawaf,

sabak bagi Taurat, dan mushhaf bagi Al-Qur?an,

?

Jalal al-Din al-Rumi berkata:

?

??aku adalah seorang Muslim,

tetapi aku juga seorang Nasrani,

Brahmanisme dan Zaratustraisme.

Aku pasrah kepada-Mu al-Haq Yang Mahamulia,

?.Aku hanya mempunyai satu tempat ibadah,

masjid atau gereja atau rumah berhala.

Tujuanku hanya kepada Zat Yang Mahamulia?.

?

Ajaran wahdat al-adyan Al-Hallaj sendiri dinilai merupakan salah satu untaian ajaran-ajaran al-Hallaj tentang hulul dan Nur Muhammad?. Nur Muhammad, menurut Al-Hallaj merupakan jalan hidayah (petunjuk) dari semua nabi. Karena itu agama yang dibawa para nabi pada prinsipnya sama. Semua nabi merupakan ?emanasi (pancaran) wujud?? Ringkasnya, agama-agama pada dasarnya berasal dari dan akan kembali kepada pokok yang satu, karena memancar dari cahaya yang satu. Baginya, perbedaan yang ada dalam agama-agama hanya sekadar perbedaan dalam bentuk dan namanya, sedagkan hakikatnya sama, bertujuan sama, yakni mengabdi kepada Tuhan yang sama pula. Jadi, semua agama, apapun namanya berasal dari Tuhan yang sama. Tuhan itu satu, unik, sendiri, dan terbukti satu.

Al-Hallaj menulis:

?He is Allah the Living. Allah is One, Unique, Alone and Testified as One. Both the One and the profession of Unity of the One are in Him and from Him. From Him comes the distance that separates others from His Unity. The knowledge of Tawhid is an autonomous abstract cognizance.?

(The Thawasin, Translated by Aisha Abd al-Rahman al-Tarjumana, h. 52-53)

Bagi Al-Hallaj, Tuhan tidak bisa disifati apa pun. Penyifatan terhadap-Nya hanya akan membatasi-Nya. Lebih lanjut al-Hallaj menandaskan:

?Our demonstrative allusion present a definition. Now, as regard this definition, the unicity of God cannot be an exception (to the general rules); however, every devinition is a limitation, and the attribute of limitation applay a limited object; one the other hand, the object of the attestation that God is one has no limitation?.

Karenanya, konsep Tuhan yang satu harus dipahami secara unik, sebab Tuhan adalah kesatuan yang mutlak dari keseluruhan. Dalam sebuah diskusi dengan seseorang al-Hallaj mengatakan:

?This attestation that God is one is the divine World it self! ? One will say to me: but the Word is an attribute of the divine essence. If I say: this attestation signifies that God inteds to be unique!... one will answer: is the Essence thas the attestation (utterable by us) that ?God is one?? If say: No, the attestation (that God is one) is not the divine Essence!... and if I say: (However), God is God! ? thus, I return to my statement that God is ?the essence of the essence? and that ?He is he?.

Dengan konsep Wahdat al-adyan ini al-Hallaj tak melihat ada perbedaan hakikat antara monoteisme dan politeisme. ?Kufur (ingkar Tuhan) dan iman itu hanya berbeda dari segi namanya, bukan dari segi hakikatnya, karena antara keduanya tidak ada perbedaan,? katanya. Al-Hallaj menyalahkan orang yang menyalahkan agama orang lain. Betapapun, kata Al-Hallaj, agama yang dipeluk seseorang sesungguhnya hasil pilihan dan kehendak Tuhan, bukan sepenuhnya pilihan manusia sendiri.

Dalam bait sya?irnya, al-Hallaj menulis:

?Aku memikirkan agama-agama dengan sungguh-sungguh,

kemudian sampailah pada kesimpulan

bahwa ia mempunyai banyak sekali cabang.

Maka jangan sekali-kali mengajak seseorang kepada satu agama,

karena sesungguhnya itu akan menghalangi

untuk sampai pada tujuan yang kokoh.

Tetapi ajaklah melihat asal/sumber segala kemuliaan dan makna,

maka ia akan memahaminya.?

?(Akhbar al-Hallaj)

?

Apa yang disampaikan al-Hallaj ini punya landasan. Al-Qur?an sendiri secara impisit menyebut setiap umat diberikan syariat atau agama sebagai pegangan untuk berlomba-lomba dalam kebajikan.

??bagi masing-masing di antara kalian (umat manusia) telah kami buatkan syir?ah (jalan menuju kebenaran) dan minhaj (metode pelaksanannya). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia jadikan kalian (umat manusia) umat yang tunggal. Tetapi, Allah hendak menguji kalian terhadap pemberianNya kepada kalian. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kalian kembali semuanya, lalu diberitahukanNya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu.? (Al-Maidah [5]: 48)

?

Dalam memahami ayat ini, Muhammad Husain at-Thabathaba?i mengatakan setiap umat memiliki syari?at berbeda dengan syari?at umat lain. Seandainya Tuhan menghendaki niscaya Dia akan menciptakan satu umat dan satu syariat. Dalam al-Mizan fi Tafsir al-Qur?an, mufasir kelahiran Tabriz, kawasan di sebelah barat laut Iran pada 1982 itu berkata:

?Sesungguhnya Allah menyuruh hamba-Nya beribadah untuk satu agama, yaitu tunduk kepada-Nya. Namun, untuk mencapai itu, Allah membuatkan jalan berbeda-beda dan membuah sunnah bermacam-macam bagi hamba-hamba-Nya menurut perbedaan kesiapan mereka dan keragamanya?.

Dengan fakta keragaman ini Thabathaba?i menghimbau agar setiap umat tak mempersoalkan perbedaan-perbedaan syari?at tersebut. Yang perlu dilakukan justru mencari titik temu sebanyak mungkin di antara umat yang beraneka ragam itu. Hazrat Inayat Khan menamsilkan, titik temu agama itu bak air yang selalu merupakan unsur yang sama dan tak berbentuk. Sedang keragaman tak ubahnya air yang mengambil bentuk saluran atau bejana yang menahannya dan yang ditempatinya. Air mengubah namanya menjadi sungai, danau, laut, arus atau kolam. Kebenaran esensial satu, aspeknya berbeda-beda.

Umat Islam diperintahkan menghargai bahkan mempelajari syariat-syariat sebelum Islam tersebut. Sebagian para ahli ushul fikih bahkan menyimpulkan, syariat sebelum Islam (syar?u man qablana) bisa menjadi sumber hukum Islam. ?Din (agama) itu sama, sementara syari?at (selalu) berbeda-beda,? begitu pendapat Ibn Jarir al-Thabari mengutip Qatadah? (w. 117 H).

Ajaran ini menekankan pentingnya agar umat beragama saling menghargai keragaman agama dan tak perlu bekelahi karena mempersoalkan ?bentuk-bentuk luar? atau syariat agama yang berbeda-beda. Padahal jika dilihat dari isi, semua justru hendak menuju kebaikan. Sikap ini bisa menjadi dasar dalam membangun toleransi dan perdamaian antar umat manusia. [ ]

Foto: dok ICRP/Ahmad Nurcholish

Ahmad Nurcholish, Direktur Program Harmoni Mitra Madania, Tangsel

?

  • view 661