Pengantar Studi Al-Quran (Bagian IV)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 21 Februari 2016
Studi Al-Quran

Studi Al-Quran


Membahas seputar kalam Tuhan dalam Islam

Kategori Acak

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Pengantar Studi  Al-Quran (Bagian IV)

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Pemeliharaan al-Qur?an pada Masa Nabi

Unit-unit wahyu yang diterima Nabi Muhammad pada faktanya, dipelihara dari kemusnahan dengan dua cara utama: (i) menyimpannya ke dalam ?dada manusia? atau menghafalkannya; dan (ii) merekamnya secara tertulis di atas berbagai jenis bahan untuk menulis. Jadi, ketika para sarjana Muslim berbicara tentang jam?u-lqur?an pada masa nabi, maka yang dimaksudkan dengan ungkapan ini pada dasarnya adalah pengumpulan wahyu-wahyu yang diterima Nabi melalui kedua cara tersebut, baik sebagian maupun keseluruhan. (Taufik Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah Al-Qur?an, h. 142). Dua cara inilah yang berlangsung pada era Nabi dan era sahabat-sahabat Nabi berikutnya.

Pada mulanya, menurut Adnan, bagian-bagian al-Qur?an yang diwahyukan kepada Muhammad dipelihara dalam inganatan Nabi dan para sahabatnya. Tradisi hafalan yang kuat di kalangan masyarakat Arab telah memungkinkan terpeliharanya al-Quran dalam cara semacam itu. Jadi, setelah menerima satu wahyu, Nabi ? sebagaimana di perintahkan al-Quran (5:67; 7:2; 15:94; dll) ? lalu menyampaikannya kepada para pengikutnya, yang kemudian menghafalkanya.

Sejumlah hadits menjelaskan berbagai upaya Nabi dalam merangsang penghafalan wahyu-wahyu yang telah diterimanya. Salah satu di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Utsman ibn Affan bahwa Rasulullah bersabda: ?Yang terbaik di antara kamu adalah mereka yang mempelajari al-Quran dan kemudian mengajarkannya.? (Bukhari, Shahih, kitab Fadha?il al-Qur?an, bab Khayrukum man ta?allama al-qur?an, sebagaimana dikutip Adnan Amal, Ibid., h. 142-143).

Hadits inilah yang dalam tahap berikutnya juga dipahami tidak hanya dengan mengajarkan al-Qur?an kepada orang lain, tetapi juga membukukannya. Era Utsman pula-lah kemudian ide pengkodifikasian al-Qur?an berlangsung massif.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad menitahkan para sekretarisnya menempatkan bagian al-Quran yang baru diwahyukan pada posisi tertentu dalam rangkaian wahyu terdahulu atau surat tertentu.

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas dari Utsman ibn Affan bahwa apabila diturunkan kepada nabi suatu wahyu, ia memanggil sekretaris untuk menuliskannya, kemudian bersabda: ?Letakalah ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini atau begitu.? (Tirmidzi, Sunan, Kitab al-Tafsir, bab Surah 9).

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa unit-unit wahyu yang diterima Nabi telah ditulis dalam cara yang disebutkan di atas. Bahkan, dalam kasus-kasus wahyu-wahyu Madaniyah yang memuat ketentua-ketentuan hukum, pasti merupakan suatu kebutuhan yang mendesak untuk segera merekamnya secara tertulis. Tetapi, masalah yang timbul di sini tentang sejauh mana rekaman-rekaman tertulis al-Quran itu memiliki bentuk seperti al-Qur?an yang kita kenal dewasa ini, memang merupakan hal yang pelik untuk ditetapkan. Sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Zayd mengilustrasikan hal ini: ?Nabi wafat dan al-Qur?an belum dikumpulkan ke dalam satu mushaf tunggal.? (Taufik Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah Al-Qur?an, h. 146. Taufik mengutip riwayat tersebut dari Ibn Hajar, Ahmad ibn Ali ibn Muhammad al-?Asqalani, Fath al-Bari, tt: ix, h. 12).

Kondisi seperti itulah yang kemudian memunculkan sejumlah spekulasi terkait dengan upaya umat Islam, baik semasa Nabi maupun sepeninggal Rasulullah saw dalam menuliskan dan membukukan al-Qur?an.

?

Mushaf Pra-Utsmani

Gambaran umum yang diperoleh tentang keadaan salinan-salinan al-Qur?an setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, menurut Taufik Adnan, memang sangat menyedihkan, karena tidak hanya tercerai-berai dan tidak teratur, tetapi salinan-salinan tersebut juga ditulis di atas bahan-bahan yang berbeda dan sangat sederhana. Ada beberapa informasi yang cukup ekstensif tentang bahan-bahan yang digunakan untuk menyalin al-Qur?an. Informasi ini terutama didasarkan pada laporan-laporan mengenai surat-surat yang dikirim Nabi ke berbagai penguasa dunia kala itu dan laporan mengenai pengumpulan al-Qur?an yang dilakukan Zayd ibn Tsabit. (Taufik Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah Al-Qur?an, h. 167-168).

Dalam laporan terakhir ini disebutkan sejumlah bahan yang ketika itu digunakan untuk menyalin wahyu-wahyu yang diturunkan Allah kepada Muhammad: (Ibid., 173).

?

  • Riqa? atau lembaran lontar atau perkamen, sebagaimana dijelaskan al-Suyuthi;
  • Likhaf atau batu tulis berwarna putih, terbuat dari kepingan batu kapur yang terbelah secara horizontal lantaran panas;
  • ?asib atau pelepah kurma, terbuat dari bagian ujung dahan pohon kurma yang tipis ? salah satu surat Nabi kepada Udzra ditulis di atas bahan ini.
  • Aktaf atau tulang belikat, biasanya terbuat dari tulang belikat unta;
  • Adlla atau tulang rusuk, biasanya juga dari tulang rusuk unta;
  • Adim atau lembaran kulit, terbuat dari kulit binatang asli ? bukan perkamen ? dan merupakan bahan utama yang digunakan untuk menulis ketika itu.

?

Dalam karya-karya yang ditulis para mufassir dan filolog awal, kerap ditemukan pengungkapan atau perujukan kepada varian-varian pra-Utsmani. Terkadang, seperti dikutip Adnan Amal, rujukan hanya dikemukakan dalam bentuk ungkapan ?mushaf sahabat? atau ?sejumlah mushaf lama? atau ?dalam beberapa mushaf lama? (fi ba?dl al-Mashahif) atau ?dalam bacaan yang awal.? Selain itu, rujukan dibuat kepada mushaf yang ada di kota-kota tertentu, seperti ?mushaf kota Bashrah? atau ?mushaf kota Hims? atau ?mushaf ahl al-Aliyah.?

Perujukan kepada mushaf yang berada dalam pemilikan orang-orang tertentu juga kerap ditemukan, seperti ?mushaf milik al-Hajjaj? atau ?mushaf milik kakek dari Malik ibn Anas,? atau ?mushaf yang digunaka oleh Abu Hanifah.? Namun, yang paling sering ditemukan adalah perujukan kepada mushaf-mushaf pra-utsmani yang popular, seperti mushaf Ibn Mas?ud, Ubay ibn Ka?b, dan lainnya. (Ibid, 173).

Tentu menjadi hal menarik untuk dikaji, mengapa mushaf Ibn Mas?ud dan Ubay ibn Ka?b lah yang kerap dirujuk. Apakah lantaran semata kedekatannya dengan Nabi Muhammad atau ada faktor lainnya.

Ubay ibn Ka?b adalah seorang Anshar dari banu Najjar, yang masuk Islam pada masa awal dan turut serta dalam sejumlah pertempuran besar di masa nabi Muhammad, seperti Perang Badr dan Uhud. Pengetahuan tulis-menulis dimiliki Ubay dengan baik, bahkan sebelum ia masuk Islam, membuat Nabi menunjuknya sebagai salah seorang sekretarisnya begitu tiba di Madinah. (Ibid, 177).

Sedangkan Abd Allah ibn Mas?ud adalah salah seorang sahabat Nabi yang mula-mula masuk Islam. Ia berasal dari strata bawah masyarakat Makkah. Begitu masuk Islam ia mengikuti Nabi dan menjadi asisten pribadinya. Ketika Nabi memerintahkan pengikutnya untuk hijrah ke Abisinia, ia pergi bersama pengikut awal Islam lainnya ke sana. Pada masa pemerintahan Umar, Ibn Mas?ud dikirim ke Kufah sebagai qadli dan kepala perbendaharaan Negara (bayt al-mal). Profesi ini tak sukses ia jalani. Pada pemerintahan Utsman, ia dipecat dari jabatannya di Kufah dan kembali ke Madinah serta meninggal di kota ini pada 32H atau 33 H dalam usa lebih dari 60 tahun. Versi lain menyebutkan bahwa ia meninggal di Kufah dan tidak dipecat oleh Utsman.

Ibn Mas?ud merupakan salah satu otoritas terbesar dalam al-Qur?an. Kedekatannya dengan Nabi memungkinkannya mempelajari sekitar 70 surat secara langsung dari mulut Nabi. Sebuah riwayat mengungkapkan bahwa ia merupakan salah seorang yang pertama-tama mengajarkan bacaan al-Qur?an. Bahkan secara lantang dan terbuka di Makkah, sekalipun mendapat tantangan yang keras dari orang-orang Quraisy yang melemparinya dengan batu. Otoritas dan popularitasnya dalam al-Qur?an memuncak ketika bertugas di Kufah, di mana mushafnya memiliki pengaruh yang luas. (Ibid., 188)

Luasnya pengaruh mushaf Ibn Mas?ud nampaknhya tidak terlepas dari keteguhannya dalam mendakwahkan al-Qur?an. Keberaniannya menyampaikan wahyu-wahyu Ilahi secara terbuka kemungkinan besar menjadikannya jauh lebih polular dibanding sahabat-sahabat yang lainnya. Analisis ini mudah menemukan konteksnya, di mana ketika ada seorang ulama, kyai atau intelektual Muslim memiliki daya tarik tersendiri, maka ia akan banyak pula dirujuk atau diundang dalam berbagai forum.

Mushaf-mushaf lainnya adalah Mushaf Abu Musa al-Asy?ari yang berasal dari Yaman, Mushaf Ibn Abbas yang mulai menonjol pada era kekhalifahan Utsman ibn Affan. Bersambung? [ ]

Sumber gambar: http://hbis.wordpress.com

?

Ahmad Nurcholish, Pengajar Pesantren Nusantara, Santri Program Doktoral Studi Islam

?

?

?

?

  • view 311