Kemustahilan Mengetahui Tuhan

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 19 Februari 2016
Kemustahilan Mengetahui Tuhan

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Dalam tulisan sebelumnya saya mengajak Anda untuk membahas tentang Tuhan. Bahwa, ternyata Tuhan yang selama ini kita kenal, bukan Tuhan yang sebenarnya, tetapi Tuhan yang kita ciptakan. Saya menutup tulisan itu dengan menguti sabda Nabi Saw: ?Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Dzat Allah?.

Dari situlah kemudian muncul persoalan teologis-mistis yang selalu menggoda untuk dijawab, yakni bagaimana cara mendekati dan mencintai Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mendekati dan mencintai yang tidak kita ketahui? Bagaimana mungkin Tuhan yang sama sekali berbeda dengan alam dan manusia dapat hadir dalam alam dan manusia? Bagaimana mungkin Tuhan yang transenden terhadap alam dan manusia adalah immanen dalam alam dan manusia?

Menurut Thomas Merton (1915-1968), seorang teolog dan mistikus Katolik Roma berkebangsaan Amerika, seperti dinukil Kautsar Azhari Noor (1998: 142), para teolog mistris menghadapi persoalan ini sebagai persoalan ?mengatakan apa yang sesungguhnya tidak dapat dikatakan? (?saying what cannot really be said?).

Persoalan tersebut, dalam pandangan Kautsar, dapat pula dideskripsikan dengan ungkapan-ungkapan paradoksikal lain, seperti ?membicarakan yang tidak dapat dibicarakan? (?speaking of the unspeakable?), ?mengetahui Tuhan Yang tidak Dapat Diketahui? (?knowing the Unknowwable God?), ?menamai yang tidak dapat dinamai,? ?menamakan yang tidak dapat dinamakan? (?naming the unamable?), ?mengungkapkan yang tidak dapat diungkapkan? (?expressing the inexpressible?), ?memikirkan yang tidak dapat dipikirkan? (?thinking of the unthinkable?), ?memahami yang tidak dapat dipahami? (?comprehending the incomprehensible?), ?membayangkan yang tidak dapat dibayangkan? (?conceiving the inconceivable?), dan ?melukiskan yang tidak dapat dilukiskan? (?describing the indescribable?).

Salah satu cara terbaik untuk memecahkan persoalan ini, menurut Kautsar, adalah dengan suatu teologi yang disebut ?teologi apofatik? (?apophatic theology?), teologi ?tidak mengetahui? (the theology of ?unknowing?), yang melukiskan pengalaman transenden tentang Tuhan dalam cinta sebagai suatu ?mengetahui dengan tidak mengetahui? (?knowing by unknowing?) dan suatu ?melihat yang bukan melihat? (?seeing that is not seeing?).

Seorang mistikus dan penulis spiritual Inggris abad ke-14, penulis anonym The Cloud of Unknowing, adalah salah satu contoh terbaik wakil teologi apofatik karena kecenderungan teologinya itu menekankan bahwa Tuhan paling baik diketahui dengan penegasian: ?kita dapat mengetahui lebih banyak tentang apa yang bukan Tuhan ketimbang tentang apa yang adalah Dia? (?we can know much more about what God is not than about what He is?). (Justin McCann, ed., 1952: 125: 11).

Bagi penulis The Cloud of Unknowing, Tuhan dapat dicintai, tetapi tidak dapat dipikirkan. Meskipun jiwa manusia tidak dapat menembus misteri Tuhan dengan pemehaman rasional, ia dapat bersatu dengan-Nya dengan cinta. ?Karena mengapa, Dia dapat dicintai dengan baik, tetapi tidak dapat dipikirkan. Dengan cinta Dia dapat dicapai dan dipegang, tetapi tidak dapat dipikirkan. Dengan cinta Dia dapat dicapai dan dipegang, tetapi dengan pikiran tidak?.

Dalam pandangan mistikus Inggris anonym tersebut, jika sang hamba mengosongkan pikirannya dari segala sesuatu dan segala gambaran, akan tumbuh dalam kalbunya ?getaran buta dari cinta? (?the blind stirring of love?) yang menembus ?awan tidak mengetahui?, ?awan ketidaktahuan? (?the cloud of unknowing?), yang membawa sang hamba kepada suatu pengetahuan yang suprakonseptual dan gelap; itulah kebijakan tertinggi.

Bahasa apofatisme yang jauh lebih tua dapat ditemukan dalam Upanisad. Suatu bagian Kitab Suci ini berbunyi: Orang yang dengan benar mengetahui Brahman adalah orang yang mengetahui-Nya sebagai di luar pengetahuan; orang yang mengira bahwa ia mengetahui[-Nya], tidak mengetahui. Orang bodoh mengira bahwa Brahman diketahui, tetapi orang bijak mengetahui-Nya di seberang pengetahuan? (Kena). Ini berarti bahwa pengetahuan yang benar tentang Tuhan adalah pengetahuan negative: ?mengetahui Tuhan dengan tidak mengetahui-Nya.

Menurut Ibn al-?Arabi, pengetahuan tentang Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Dzat Tuhan, harus diperoleh dengan ?peniadaan pengetahuan?. Ini berarti bahwa mengetahui Tuhan tidak mengetahui-Nya; pengetahuan positif tentang Tuhan adalah mustahil. Ia berkata: ?Orang yang tidak memunyai pengetahuan membayangkan bahwa ia mengetahui Tuhan, itu tidak betul?, karena ?pengetahuan kita tentang Tuhan adalah mustahil?. ?Orang yang tidak mengetahui Tuhan tidak melampaui batas tingkatannya sendiri. Ia mengetahui apa yang ia ketahui bahwa ia adalah salah seorang di antara orang-orang yang tidak mengetahui?. (Futuhat, 2: 552).

Dengan demikian, teologi apofatik menegaskan kemustahilan pengetahuan manusia tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diri-Nya, Tuhan yang sebenarnya. Pengetahuan yang benar dan tertinggi tentang Tuhan adalah pengetahuan dengan ?tidak mengetahui? atau ?ketidaktahuan? karena Tuhan di luar jangkauan pengetahuan manusia dan tidak dapat diperoleh dengan pikiran, tetapi adalah pemberian Tuhan kepada hamba-Nya yang telah mempersiapkan diri untuk nenerimanya dengan doa dan penyucian.

Semua orang yang percaya kepada Tuhan tentu saja ingin mencintai Tuhan. Cinta seorang hamba kepada Tuhan pasti dibalas. Tuhan mencintai hamba yang mencinya-Nya. Jika sdang hamba mencintai Tuhan, ia harus megikuti Tuhan dan panutan yang diutus-Nya.

Teologi apofatik adalah suatu cara berpikir atau aktivitas mental yang digunakan oleh banyak mistikus atau Sufi untuk menempuh perjalanan menuju Tuhan dan sekaligus untuk menyuarakan protes keras terhadap kelancangan dan kenagkuhan para teolog dan para filsuf yang menganggap bahwa mereka memunyai konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan sebagaimana Dia pada diri-Nya.

Teologi apofatik adalah peringatan bagi orang yang mereduksi Tuhan menjadi sesuatu yang rasional belaka. Teologi apofatik menunjukkan bahwa orang yang memandang bahwa dengan nalarnya ia memunyai pengetahuan yang memadai tentang Tuhan adalah orang yang membatasi Tuhan dalam bentuk khusus menurut pengertian yang ditentukan oleh akalnya. Padahal, seperti dituturkan Kautsar, Tuhan tidak dapat dibatasi.

Bentuk Tuhan yang diungkapkannya adalah bentuk yang dicocokkan dengan ?kotak? akalnya. Ia menolak bentuk Tuhan yang tidak cocok dengan bentuk dan ukuran ?kotak? akalnya. Ia bahkan menyalahkan orang lain yang mempercayai Tuhan dalam bentuk lain. Ia tidak menerima apa pun sebagai kebenaran jika bertentangan dengan akalnya. Ia telah mempertuhankan akalnya. Orang seperti ini, oleh Ibn ?Arabi, disebut sebagai ?hamba nalar? (?abd nazhar), bukan ?hamba Rabb? (?abd rabb). [ ]

Sumber gambar: http://linkendin.com

?

Ahmad Nurcholish, hamba Tuhan, mahasiswa S3 Studi Islam UMJ.

  • view 383