Pengantar Studi Al-Quran (Bagian III)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 19 Februari 2016
Studi Al-Quran

Studi Al-Quran


Membahas seputar kalam Tuhan dalam Islam

Kategori Acak

1.4 K Hak Cipta Terlindungi
Pengantar Studi Al-Quran (Bagian III)

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Pembedaan Makki dan Madani

Para ulama al-Qur?an ? biasanya ? mengandalkan ukuran tempat dalam membedakan antara yang makki dan madani. Oleh karena tempat komunikasi/ wahyu selalu tergantung dengan tempat penerima pertama wahyu yang hijrah dari Makah dan Madinah, kemudian kembali ke Makah sebagai penakluk, dan setelah itu hilir mudik ke Makah untuk berziarah atau berhaji. Maka sebagian ulama berpendapat bahwa ?(ayat) makki adalah ayat yang diturunkan di Makah meskipun setelah peristiwa hijrah, dan madani adalah yang diturunkan di Madinah?. (As-Suyuti, Al-Itqan fi ?Ulum al-Qur?an, Juz I, h. 9. Lihat juga Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur?an, h. 95)

Untuk membedakan Makki dan Madani, para ulama, seperti dikutip Khalil al-Qattan (Studi Ilmu-Ilmu Qur?an, h. 83-85), memunyai tiga macam pandangan yang masing-masing memiliki dasarnya sendiri.

Pertama, dari segi waktu turunnya. Makki adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Mekah. Madani adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Madinah. Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Mekah atau Arafah, adalah Madani, seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota Mekah, misalnya firman Allah:

?Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak?? (QS. an-Nisa? [4]: 58). Ayat ini diturunkan di Mekah, dalam Ka?bah pada tahun penaklukan Mekah.

Kedua, dari segi tempat turunnya. Makki ialah yang turun di Mekah dan sekitarnya, seperti Mina, Arafah dan Hudaibiyah. Madani ialah yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba, dan Sil?. Pendapat ini mengakibatkan tidak adanya pembagian secara kongkrit yang mendua, sebab yang turun dalam perjalaan, di Tabuk atau di Baitul Makdis tidak termasuk ke dalam salah satu bagiannya, sehingga tidak dinamakan Makki tidak pula disebut Madani. Juga mengakibatkan bahwa yang diturunkan di Mekah sesudah hijrah dianggap Makki.

Salah satu yang turun di perjalanan adalah Surat Fath turun dalam perjalanan. Firman Allah: ?Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pasti mereka akan mengikutimu.? (at-Taubah [9]: 42), turun di Tabuk. Sedang firman Allah: ?Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu.? (az-Zukhruf [43]: 45), turun di Baitul Makdis pada malam Isra?.

Ketiga, dri segi sasarannya. Makki adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Mekah dan Madani adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Medinah. Berdasarkan pandangan ini para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Qur?an yang mengandung seruan ya ayyuhan nas (wahai manusia) adalah Makki, sedang ayat yang mengandung seruan ya ayyuhal laziina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman) adalah Madani.

?

Ciri Khas Makki dan Madani

Para ulama menurut Khalil, telah meneliti surat-surat Makki dan Madani; dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya, yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibincangkannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut. (Manna? Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur?an, h. 86)

Artinya, antara surat-surat (atau ayat-ayat) yang diturunkan antara periode Mekkah dan Madinah masing-masing memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Karakteristik, ciri atau ketentuan inilah yang terurai selanjutnya.

?

Ketentuan Makki:

  1. Setiap surat yang di dalamnya mengandung ?sajdah? maka surat itu Makki.
  2. Setiap surat yang mengandung lafal kalla, berarti Makki. Lafal ini hanya terdapat dalam separoh terakhir dari Qur?an. Dan disebutkan sebanyak 33 kali dalam 15 surat.
  • Setiap surat yang mengandung ya ayuhan nas dan tidak mengadung ya ayuhal lazina amanu, berarti Makki, kecuali surat al-Hajj yang pada akhir surat terdapat ya ayuhal lazina amanr-ka?u wasjuda. Namun demikian sebagian ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat Makki.
  1. Setiap surah yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu adalah Makki, kecuali surat al-Baqarah.
  2. Setiap surat yang mengadung kisah Adam dan iblis adalah Makki, kecuali aurat al-Baqarah.
  3. Setiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Ha Mim dan lain-lainnya, adalah Makki, kecuali surat al-Baqarah dan Ali ?Imran. Sedang surat Ra?d masih diperselisihkan. (Ibid.)

?

Ciri tema dan gaya bahasa:

  1. Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan da hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasonal dan ayat-ayat kauniyah.
  2. Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yag menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat; dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
  • Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka; dan sebagai hiburan bagi Rasulullah sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka dan yakin akan menang.
  1. Suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataannya singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun menyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah; seperti surat-surat yang pendek-pendek. (Manna? Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur?an, h. 87).

Fase Makkah, secara historis dimulai ketika nabi Muhammad menerima wahyu pertama (tahun 610 M) hingga pelaksanaan hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Masa ini berlangsung lebih dari duabelas tahun, sebuah masa di mana Muhammad mulai bergerak mendakwahkan risalah yang diterimanya. Sasaran pertamanya adalah keluarga dekat dan kerabat sukunya sendiri. (Ali Sodikin, Antropologi Al-Quran: Model Dialektika Wahyu dan Budaya, 2008: 84).

Ayat pertama yang turun belum menampakkan sebuah misi khusus. Kelima ayat dari surat al-?Alaq [96]: 1-5 hanya memberi perintah kepada Muhammad untuk membaca dan mengagungkan Sang Pencipta. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai tuntutan kepada Muhammad untuk membaca situasi social masyarakat Arab dan bagaimana kehidupan keagamaannya. Realitas yang terjadi harus dia pahami guna menyusun strategi dakwahnya.

Dalam ulasan Quraish Shihab, kata iqra? diambil dari akar kata yang berani menghimpun, sehingga tidak selalu harus diartikan membaca teks tertulis dengan aksara tertentu. Iqra? dapat berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman. Dengan demikian, obyek perintah iqra? mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya, yang tertulis dan yang tak tertulis. Bahkan membaca dalam aneka maknanya menjadi syarat utama membangun peradaban. (Wawasan Al-Qur?an: Tafsir Maudhu?I AtasPelbagai Persoalan Umat, 2005: 5-6)

Strategi dakwah inilah yang kemudian memberikan poin penting terhadap keberhasilan dakwa Rasul pada masa-masa berikutnya. Banyak tantangan dan juga hambatan. Namun dengan kesabaran penuh, keteladanan nyata dan tentu tidak pantang menyerah, Nabi Muhammad berhasil melalui setiap tahap dalam mendakwahkan ajaran-ajaran al-Qur?an.

?

Ketentuan Madani dan ciri khasnya:

  1. Setiap surat yang berisi kewajiban atau had (sanksi) adalah Madani.
  2. Setiap surat yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah Madani, kecuali surat al-?Ankabut adalah Makki.
  • Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog dengan Ahli Kitab adalah Madani.

?

Ciri khas tema:

  1. Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan social, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundag-undangan.
  2. Seruan terhadap Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki di antara sesama mereka.
  • Menyingkap perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
  1. Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantabkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya. (Manna? Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur?an, h. 87-88)

Fase Madinah merupakan kelajutan dari fase Makkah. Secara historis, masa ini dimulai ketika nabi dan pengikutnya berimigrasi ke Madinah pada tahun 622 M. selama kurang lebih sepuluh tahun Nabi membangun tatanan masyarakat baru di sana. Berbeda dengan di Makkah, dakwah di Madinah berada dalam batas risalah (Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur?an, h. 96). Tujuannya adalah membangun ideology masyarakat baru berdasarkan pesan-pesan al-Qur?an. Ideology inilah yang menjadi ruh utama bagi perjuangan Islam selanjutnya. Bersambung? [ ]

?

Ahmad Nurcholish, Penganjar Pesantren Nusantara, santri Program Doktoral Studi Islam UMJ

  • view 239