Pengantar Studi Al-Quran (Bagian II)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 17 Februari 2016
Studi Al-Quran

Studi Al-Quran


Membahas seputar kalam Tuhan dalam Islam

Kategori Acak

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
Pengantar Studi Al-Quran (Bagian II)

Oleh Ahmah Nurcholish

?

Pada bagian sebelumnya kita telah membahas tentang pentingnya menulis ulang sejarah al-Quran dan sekilas memahami apa itu al-Quran. Bagian ini saya akan menganjak Anda untuk memahami kembali nama dan sifat al-Quran serta bagaimana proses al-Quran itu diturunkan.

?

Nama dan Sifat

Allah menamakan al-Qur?an dengan beberapa nama, di antaranya:

  1. Qur?an:

?Qur?an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.? (QS. al-Isra? [17: 9).

?

  1. Kitab:

?Telah Kami turunkan kepadamu al-Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu.? (QS. al-Anbiya? [21]: 10).

?

  1. Furqan:

?Mahasuci Allah Yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi memberi peringatan kepada semesta alam.? (QS. al-Furqan [25: 1).

?

  1. Zikr:

?Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan az-Zikr (Qur?an), dan sesungguhnya Kamilah yang benar-benar akan menjaganya.? (QS. al-Hijr [15]: 9).

?

  1. Tanzil:

?Dan Qur?an ini Tanzil (diurunkan) dari Tuhan semesta alam.? (QS. asy-Syura? [26]: 192).

?

  1. Nur (cahaya):

?Wahai manusia, telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhan-Mu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.? (QS. an-Nisa? [4]: 174).

?

  1. Huda (petunjuk):

?Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Tuhan dan obat bagi yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.? (QS. Yunus [10]: 57).

?

  1. Mubin (yang menerangkan):

?Sesungguhnya telah dating kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.? (QS. al-Maidah [5]: 15).

?

  1. Mubarak (yang diberkati):

?Dan Qur?an ini adalah Kitab yang telah Kami berkahi; membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.? (QS. al-An?am [6]: 92).

?

  1. Busyra (kabar gembira):

??.yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadikan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.? (QS. al-Baqarah [2]: 97).

?

  1. Azis (yang mulia):

?Mereka yang mengingkari az-Zikr (Qur?an) ketika Qur?an itu datang kepada mereka, (mereka pasti akan celaka). Qur'an adalah kitab yang mulia.? (QS. Fusshilat [41]: 41).

?

  1. Majid (yang dihormati):

?Bahkan yang mereka dustakan itu adalah Qur?an yang dihormati.? (QS. al-Buruj [85]: 21).

?

  1. Basyir dan Nazir (pembawa kabar gembira dan peringatan):

?Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui; yang membawa kabar gembira dan yang membawa peringatan.? (QS. Fussilat [41]: 3-4). (al-Qattan, 18-22)

Nama dan sifat al-Qur?an tersebut menandaskan bahwa pada Kalam Ilahi ini tak hanya memiliki satu sebutan saja, melainkan ada sejumlah nama yang ter(di)-semat-(kan) padanya. Masing-masing sebutan atau nama itu sekaligus menunjukkan karakter atau sifat dari pada kitab suci umat Muslim itu sendiri.

?

Proses Turun al-Qur?an

Al-Wahy atau wahyu adalah kata mashdar (infinitive); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, maka dikatakan bahwa wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian mashdar-nya. (Ibid., 36)

Dari pengertian mashdar ini mengindikasikan bahwa sifat wahyu adalah rahasia. Artinya ia hanya diturunkan kepada orang tertentu atau khusus. Kekhususan inilah yang hanya diberikan kepada seorang rasul (utusan) Tuhan. Dalam konteks ajaran Islam, maka Nabi Muhammad lah orang khusus itu.

Konsep ?wahyu? merupakan konsep sentral teks mengenai dirinya sendiri, di mana ia menunjuk dirinya dengan nama ini (wahyu) dalam banyak tempat. Terdapat nama yang lain bagi teks, seperti al-Qur?an, az-Zikr, dan al-Kitab. Akan tetapi, nama ?wahyu? dapat mencakup semua nama tersebut sebagai konsep yang bermakna dalam peradaban, baik sebelum atau sesudah terbentuknya teks. Nasr Hamid Abu Zaid, 2001: 33)

Dalam hal ini As-Suyuthi dan az-Zarkasyi telah berusaha menghimpun nama-nama al-Qur?an hingga mencapai lebih dari lima puluh nama dan memadukan antara nama dan atributnya. Analisis Nasr terhadap konsep-konsep wahyu terbatas pada beberapa nama yang lebih popular, seperti Al-Kitab, Al-Qur?an, Risalah, dan Balagh saja dalam rangka mengungkapkan konsep teks itu sendiri. (Ibid., ; as-Suyuti, I: 50; az-Zarkasyi, I: 273-276)

Nama seperti Al-Kitab, dan Al-Qur?an merupakan nama yang dapat dimasukkan dalam kategori nama-nama diri. Akan tetapi, ?wahyu? dalam mengacu kepada Al-Qur?an, tidaklah demikia, bahkan makna wahyu lebih luas dan mencakup semua teks keagamaan Islam dan non-Islam sebab wahyu memuat semua teks yang menunjuk kepada titah Allah kepada manusia. Ini jika kita lihat dari sisi penggunaan Al-Qur?an.

Dari sisi lain, wahyu menunjuk pada setiap proses komunikasi yang mengandung semacam ?pemberian informasi?. Dalam kamus Lisan al-?Arab, sebagaimaa dikutip oleh Nasr Abu Zaid, disebutkan: ?Asal makna wahyu menurut semua bahasa adalah pemberian informasi secara tersembunyi.? Apabila pengarang kamus tersebut memasukkan makna-makna lain ke dalam makna wahyu seperti ?ilham, isyarat, tulisan, dan kalam?, maka makna-makna tersebut semuanya terangkum dalam makna ?pemberian informasi?. Masing-masing makna itu merujuk pada suatu cara tertentu dalam pemberian informasi. Pemberian informasi bisa dalam bentuk ucapan, tulisan, isyarat, ataupun ilham. (Abu Zaid, 34)

Kesimpulan Zaid ini senada dengan penjelasan Khalil al-Qatthan ketika memaparkan nama dan sifat al-Qur?an. Dari sini pula kian terang bahwa wahyu Ilahi yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW memiliki sifat kekhususan yang hanya ditujukan kepada penganut atau pengikut Nabi Muhammad. Nemun demikian, bukan berarti umat agama lain tidak boleh membaca dan mempelajarinya, nemun, mereka baru akan disebut Muslim jika meneruskan perjalanannya mengikuti ajaran Muhammad SAW dan menjadikan al-Qur?an sebagai kitab sucinya.

?

Turun Sekaligus

Allah menurunkan al-Qur?an kepada Rasulullah Muhammad Saw untuk member petunjuk kepada manusia. Turunnya al-Qur?an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni lagit dan bumi. Turunnya Qur?an yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Muhammad. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru agar menjadi umat paling baik (khairu an-nas) yang dikeluarkan bagi manusia.

Turunnya al-Qur?an yang kedua kali secara bertahap, dijelaskan Khalil, berbeda dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya, sangat mengagetkan orang dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas bagi mereka rahasia hikmah Ilahi yang ada di balik itu. Rasulullah tidak menerima risalah agung ini sekaligus, dan kaumnya pun tidak pula puas dengan risalah tersebut karena kesombongan dan permusuhan mereka. Oleh karena itu wahyu pun diturunkan secara bertahap untuk menguatkan hati Rasulullah Saw dan menghiburnya serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian hingga Allah Swt menyempurnakan agama Islam dan mencukupkan nikmat-Nya. (al-Qattan, 144)

Pentahapan ini juga dapat kita pahami bahwa setiap wahyu yang turun tidak terlepas dari konteks sosial-kemasyarakatan di mana wahyu tersebut diturunkan, dalam hal ini di mana Muhammad SAW hidup dan berkomunitas dengan masyarakatnya. Hal inilah yang kemudian memunculkan disiplin ilmu untuk memahami asbab al-nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat-ayat al-Qur?an.

?

Turun Bertahap dan Hikmahnya

Allah berfirman:

?Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur?an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dengan yang batil.? (QS. al-Baqarah [2]: 185).

?Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Qur?an) pada malam lailatul qadar.? (QS. al-Qadr [97]: 1).

?Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Qur?an) pada suatu malam yang diberkahi.? (QS. ad-Dukhan [44]: 3).

Ketiga ayat di atas menurut Khalil tidaklah bertentangan, karena malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadar dalam bulan Ramadhan. Tetapi lahir (zahir) ayat-ayat itu bertentangan dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah Saw, di mana al-Qur?an turun kepadanya selama dua puluh tiga tahun. (al-Qattan, 145)

Manna? Khalil al-Qattan menyimpulkan hikmah turunnya Qur?an secara bertahap dari nas-nas yang berkaitan dengan hal itu. Berikut rinciannya:

Pertama, menguatkan atau menegauhkan hati Rasulullah Muhammad Saw. Awal-awal Nabi mendakwahkan ajaran Islam, ia menghadapi sikap keras sekaligus pembangkangan. Nabi ditantang oleh orang-orang yang berhati batu, berperangai kasar dan keras kepala. Mereka senantiasa melemparkan berbagai macam gangguan dan ancaman kepada Rasulullah Saw. lalu sejumlah ayat pun turun secara berangsur sebagai penghibur dan pendukung sehingga ia tidak dirundung kesedian dan dihinggapi rasa putus asa.

Kedua, tantangan dan mukjiat. Orang-orang musyrik senantiasa berkubang dalam kesesatan dan kesombongan hingga melampaui batas. Mereka kerap mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menantang, untuk menguji kenabian Rasulullah. Mereka juga sering menyampaikan kepadanya hal-hal batil yang tak masuk akal, seperti menanyakan tentang hari kiamat. Namun, atas petunjuk ayat-ayat Qur?an yang diwahyukan kepadanya Rasulullah mampu menangani dengan baik, penuh kesantunan setiap tantagan yang ada.

Ketiga, mempermudah hafalan dan pemahamannya. Al-Qur?an turun di tengah-tengah umat yang ummi, yang tidak pandai membaca dan menulis. Catatan mereka adalah hafalan dan daya ingatan. Mereka tidak memunyai pengetahuan tentang tata cara penulisan dan pembukuan yang memungkinkan mereka menuliska dan membukukannya, kemudian menghafal dan memahaminya. Denga diturunkannya secara berangsung maka memudahkan bagi umat Islam dalam menghafal sekaligus memahami kandungan dari ayat-ayat al-Qur?an.

Keempat, kesesuaian dengan peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum. Manusia, menurut Khalil, tidak mudah mengikuti dan tunduk kepada agana yang baru seandainya al-Qur?an tidak menghadapi mereka dengan cara bijaksana dan memberi kepada mereka beberapa obat penawar yang ampuh yang dapat menyembuhkan mereka dari kerusakan dan kerendahan martabat. Setiap kali terjadi peristiwa di antara mereka, maka turunlah hokum mengenai peristiwa itu yang memberika kejalasan statusnya dan petunjuk serta melatakan dasar-dasar perundang-undangan bagi mereka, sesuai dengan situasi dan kondisi, satu demu satu. Cara inilah yang nampaknya efektif bagi penyebaran dakwah Islam.

Kelima, bukti yang pasti bahwa al-Qur?an al-Karim diturunkan dari sisi Yang Mahabijaksana dan Mahaterpuji. Qur?an yang turus secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad Saw selama lebih dari dua puluh dua tahun ini ayatnya atau ayat-ayatnya turun dalam selang waktu tertentu, dan selama itu orang membacanya dan mengkajinya surat demi surat. Ketika itu ia melihat rangkaiannya begitu padat, tersusun begitu cermat dengan makna yang saling bertaut, dengan gaya yang begitu kuat, serta ayat demi ayat dan surat demi surat saling terjalin bagaikan untaian mutiara yang indah yang belum pernah ada bandinganya dalam tradisi lisan (sastra dan ilmu pengetahuan) manusia. (al-Qattan, 157-174)

Pentahapan turunnya ayat-ayat al-Qur?an juga menandaskan satu hal penting bahwa al-Qur?an tidak diturunkan dalam ruang hampa yang kosong, melainkan kepada komunitas atau masyarakat yang benar-benar membutuhkan pencerahan agar mereka bangkit dari keter-jahiliyah-an. Tahap demi tahap tersebut juga meningindikasikan bahwa al-Qur?an diturunkan untuk menjawab problematika umat yang muncul tidak dalam waktu bersamaan. Bersambung.. [ ]

?

Ahmad Nurcholish, santri program doctoral Studi Islam UMJ, pengajar Pesantren Nusantara, Depok-Jabar

?

?

?

?

  • view 353