Pengantar Studi Al-Quran (Bagian I)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 15 Februari 2016
Studi Al-Quran

Studi Al-Quran


Membahas seputar kalam Tuhan dalam Islam

Kategori Acak

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Pengantar Studi Al-Quran (Bagian I)

Oleh Ahmah Nurcholish

?

Al-Qur?an bagi umat Islam dipahami sebagai verbum dei (kalamu-Allah) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Kitab suci ini dinilai memiliki kekuatan luar biasa yang berada di luar kemampuan apapun: ?Seandainya Kami turunkan al-Qur?an ini kepada sebuah gunung, maka kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah karena gentar kepada Allah? (59: 21).

Kandungan wahyu Ilahi yang disampaikan oleh Rasulullah Saw pada permulaan abad ke-7 itu meletakkan dasar bagi kehidupan individual dan social kaum Muslimin dalam berbagai aspeknya. Bahkan, masyarakat Muslim mengawali eksistensinya dan memeroleh kekuatan hidup dengan merespon kalam Tuhan tersebut. Oleh karenanya, al-Qur?an berada tepat di jantung kepercayaan umat Islam dan berbagai pengalaman keagamaannya. Tanpa pemahaman yang mendalam terhadap kitab suci ini, kehidupan, pemikiran dan kebudayaan kaum Muslimin tentunya tidak mudah untuk dipahami. (Taufiq Adnan Amal, 2013: xiii)

Al-Qur?an telah mengarungi sejarah panjang selama lima belas abad sejak pewahyuan pertama kali hingga kini. Diawali dengan pesan ketuhanan al-Qur?an oleh Nabi Muhammad Saw, kemudian penyampaiannya kepada generasi pertama Islam yang telah menghafal dan merekamnya secara tertulis, hingga stabilisasi teks dan bacaannya yang mencapai kemajuan berarti pada abad ke-3H/9M dan abad ke-4H/10M serta berkulminasi dengan penerbitan edisi standar al-Qur?an di Mesir pada 1342H/1923, kitab suci umat Islam ini masih menyimpan sejumlah misteri dalam berbagai tahapan perjalanan kesejarahannya. (Ibid., xiv)

Oleh sebab itu, meski sejumlah buku, baik terjemahan maupun karya yang ditulis oleh sarjana Muslim Indonesia telah bermunculan, misalnya Adnan Lubis (Tarikh Al-Quran, 1941), Abu Bakar Aceh, Sejarah Al-Quran, 1948), menulis ulang tentang sejarah al-Qur?an tetap menjadi penting adanya. Terlebih jika diiringi dengan telaah kritis-analitis demi mendapatkan pemaparan komprehensif yang tak sekedar dogmatis.

Hal ini penting, sebab al-Qur?an - atau kitab suci secara umum ? pada mulanya adalah sesuatu yang komplek, dalam pengertian bahwa proses kejadiannya melewati tahap-tahap yang tidak mudah. Berbagai konsep berkaitan dengan kitab suci, seperti ?tuhan?, ?malaikat?, ?wahyu?, ?nabi?, kerap dipahami secara taken for granted. Begitu pula, proses-proses delicat dalam transmisi wahyu, seperti ?periwayatan?, ?penulisan?, ?pengumpulan? dan ?pembukuan?, kerap tak mendapatkan perhatian secara mendalam.(Abd. Moqsith Ghazali, dkk, 2009: 2)

Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis mencoba untuk menyajikannya secara kritis-analitis, antara lain seputar: pengertian, proses turun, ayat-ayat makki dan madani, sejarah mushaf, tekstualitas dan kontekstualitas al-Qur?an.

?

Pengertian Al-Quran

Sebagian besar sarjana Muslim memandang nama ?al-Qur?an? secara sederhana merupakan kata benda bentukan (mashdar) dari kata kerja (fi?il) qara?a, ?membaca.? Dengan demikian al-qur?an bermakna ?bacaan? atau ?yang dibaca? (maqru). (Amal, 46). Dalam manuskrip al-Qur?an beraksara kufi yang awal, sebagaimana dijelaskan Taufik Adnan Amal, kata ini ditulis tanpa menggunakan hamzah ? yakni al-quran ? dan hal ini telah menyebabkan sejumlah kecil sarjana Muslim memandang bahwa terma itu diturunkan dari kata qarana, ?menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain? atau ?mengumpulkan,? dan al-quran berarti ?kumpulan? atau ?gabungan.? (Amal, 46; al-Zarkasi, tt: 278; al-Suyuti, tt: 87).

Akan tetapi, pandangan minoritas tersebut harus diberi catatan bahwa penghilangan hamzah merupakan suatu karakteristik dialek Makkah atau Hijazi (Amal, 82), dan karakteristik tulisan al-Qur?an dalam aksara kufi yang awal.

Senada dengan penjelasan di atas, Manna? Khalil al-Qattan menjelaskan bahwa Qara?a memunyai arti ?mengumpulkan? dan ?menghimpun?, dan qira?ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapi. Qur?an pada mulanya seperti qira?ah, yaitu mashdar (infinitive) dari kata qara?a, qira?atan, qur?anan. (Al-Qattan, 2013: 15-16)

Allah berfirman:

?Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya.? (QS. al-Qiyamah [75]: 17-18).

?

Khalil menjelaskan bahwa Qur?anah di sini berarti qira?atahu (bacaannya/cara membacanya). Jadi kata itu adalah mashdar menurut wazan (tasrif, konjugasi) ?fu?lan? dengan vocal ?u? seperti ?gufran? dan ?syukran?. Kita dapat mengatakan qara?atuhu, qur?an, qira?atan wa qur?anan, artinya sama saja. Di sini maqru? (apa yang dibaca) diberi nama Qur?an (bacaan); yakni penamaan maf?ul dengan mashdar. (Ibid., 16)

Mengacu pada penjelasan Khalil ini maka tidak ada perbedaan antara al-Qur?an sebagai kalam Ilahi dengan kitab-kitab lain yang diturunkan sebelumnya, bahkan bacaan apapun yang kita baca dapat disebut sebagai qur?an.

Pandangan berbeda dikemukakan oleh Al-Syafi?i. Ia menjelaskan, lafal al-Qur?an bukanlah musytaq (pecahan dari akar kata apapun) dan bukan pula ber-hamzah (tanpa ada tambahan hamzah di tengahnya), jadi dibaca al-Qur?an. Lafal tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dengan demikian menurut al-Syafii, lafal tersebut bukan berasal dari akar kata qara-a (membaca), sebab kalau akar katanya qara-a, tentu tiap sesuatu yang dibaca dapat dinamai al-Qur?an. Lafal tersebut, menurut al-Syafii, memang nama khusus bagi kitab suci yang diturunkan kepada Rasulullah Saw, sama dengan nama Taurat dan Injil. (Subhi al-Shalih, 1991: 11)

Dari paparan al-Syafi?I inilah kita kemudian dapat membedakan antara bacaan biasa dengan bacaan kitab suci umat Islam, yakni al-Qur?an. Sebab keduanya sama sekali berbeda, baik dari segi asal-usul maupun metode konstruksinya. Bacaan biasa atau umum diproduksi atau dibuat oleh manusia, sementara al-Qur?an diwahyukan langsung oleh Allah SWT kepada Rasul Muhammad SAW melalui malaikat Jibril.

Selanjutnya, dari segi istilah, Khalil memaparkan bahwa para ulama menyebutkan definisi Qur?an yang mendekati maknanya dan membedakannya dari yang lain dengan menyebutkan bahwa: ?Qur?an adalah Kalam atau Firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad Saw yang membacanya merupakan suatu ibadah.? Dalam definisi, ?kalam? merupakan kelompok jenis yang meliputi segala kalam. Dan dengan menghubungkannya dengan Allah (kalamullah) berarti tidak termasuk semua kalam manusia, jin dan malaikat. (Al-Qattan, 17)

Dari uraian Khalil ini ia seolah hendak menandaskan bahwa secara istilah al-Qur?an berbeda dengan bacaan pada umumnya sebagaimana yang ia jelaskan ketika menerangkan Qur?an secara bahasa. Dengan demikian, antara Khalil dan al-Sfai?I tidak berbeda dalam memahami apa itu al-Qur?an.

Abdul Wahhab Khalaf memberikan definisi sebagai berikut:

?Al-Qur?an adalah firman Allah yang diturunkan kepada hati Rasulullah, Muhammad bin Abdullah melalui al-Ruhul Amin (Jibril as) dengan lafal-lafalnya yang berbahasa Arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi hujjah bagi Rasul, bahwa ia benar-benar Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia, member petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana pendekatan diri dan ibaah kepada Allah dengan membacanya. Al-Qur?an itu terhimpun dalam mushaf, dimulai dengan aurat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawatir dari generasi ke generasi secara tulisan maupun lisan. Ia terpelihara dari perubahan atau pergantian?. (Abd al-Wahhab Khalaf. 1972: 23)

Definisi yang disampaikan oleh Abdul Wahab Khalaf inilah yang kemudian secara umum diacu oleh sebagian umat Islam, khususnya di Indonesia ketika memberi penjelasan tentang al-Qur?an. Penjelasan Khalaf memang begitu komprehensif, meliputi muasal teks (ayat)-nya, kepada siapa, melalui siapa, menggunakan bahasa apa, bahkan hingga jaminan keterpeliharaannya. Bersambung.. [ ]

?

Ahmad Nurcholish, santri program doctoral Studi Islam, pengajar Studi Agama UPJ, Tangsel

?

?

  • view 387