Tuhan Ciptaan Kita

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 14 Februari 2016
Tuhan Ciptaan Kita

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Suatu hari di bulan Oktober tahun 2000 silam, dalam acara workshop Forum Generasi Muda Antar-iman (GEMARI) saya berdiskusi hangat dengan sesama peserta yang beragama Buddha. Kami membahas secara serius tentang Tuhan. Dalam diskusi tersebut saya mengkritik ketidakjelasan konsep Buddha tentang Tuhan.

Saya katakan kepadanya bahwa konsep agama Buddha tentang Tuhan tidak jelas sebagaimana dimiliki oleh agama-agama yang lain. Buku-buku tentang Budhisme, pada umumnya, tidak memuat uraian dan pembahasan tentang Tuhan. Siddharta Gautama, sebagaimana ditulis Kautsar Azhari Noor (1998: 129), juga tidak memberikan penjelasan dan doktrin tentang Tuhan. Penolakan Gautama terhadap pembicaraan tentang Tuhan telah ?memiskinkan? Buddhisme dalam pembicaraan tentang Tuhan. Dari situlah saya menyimpulkan bahwa agama Buddha tak memunyai konsep yang jelas tentang Tuhan.

Seorang peserta yang kemudian menjadi teman akrab saya itu balik mengkritik konsep Islam (atau orang-orang Islam) tentang Tuhan. Ia mengatakan bahwa orang-orang Muslim telah membuat kesalahan besar dalam memahami Tuhan. Kesalahan itu, menurutnya, terletak pada pemahaman dan keyakinan orang-orang Muslim bahwa Tuhan adalah ?begini? dan ?begitu?. Penganut agama Islam mengatakan bahwaq Tuhan memiliki 20 sifat dan 99 nama.

Umat Islam juga mengatakan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja, Maha Besar, Sang Pencipta, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan maha-maha lain untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu maha segala-galanya. Ini berati bahwa orang-orang Muslim membuat konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan. Mereka mengungkapkan Tuhan yang tidak terbatas dengan kata-kata dan bahasa manusia yang terbatas.

Rekan saya tersebut mengatakan bahwa Tuhan dalam konsep, ide, atau gagasan bukanlah Tuhan yang sebenarnya karena Tuhan yang sebenarnya di luar konsep, ide, atau gagasan. Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia, bukan Tuhan yang sesungguhnya. Tuhan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan bahasa. Tuhan adalah misteri yang tidak dapat diketahui, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dipikirkan oleh akal manusia. Karena itu, Tuhan tidak dapat dikatakan ?begini? dan ?begitu?.

Menyimak kritik dan paparannya tersebut saya terdiam, mematung, dan tak dapat melanjutkan diskusi lebih lanjut. Saat itu saya masih duduk di bangku kuliah semester awal dan sedang giat-giatnya beraktifitas di Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Melalui tulisan ini saya hendak mengajak Anda mendiskusikan kembali persoalan tersebut. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: Sejauh mana manusia dapat mengetahui Tuhan yang transenden dan absolut itu? Bagaimana pengetahuan manusia yang benar tentang Tuhan? Jika Tuhan tidak dapat dinamai, dibicarakan, dan diungkapkan, lantas bagaimana mungkin kita dapat mengetahui dan berhubungan dengan-Nya?

Salah seorang Sufi terbesar, Ibn al?Arabi (560-638/1165-1240), sebagaimana dinukil Kautsar Azhari Noor, mengritik orang yang memutlakkan, atau, jika boleh, ?menuhankan?, kepercayaannya kepada Tuhan, yang menganggap kepercayaannya itu sebagai satu-satunya yang benar dan menyalahkan kepercayaan orang lain. Orang seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan yang sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai orang lain yang dianggapnya salah.

Ibn al-?Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai manusia ?Tuhan kepercayaan? (ilah al-mu?taqad), ?Tuhan yang dipercayai? (al-ilah al-mu?taqad), ?Tuhan dalam kepercayaan? (al-ilah fi al-I?tiqad), ?Tuhan kepercayaan? (al-haqq al-I?tiqadi), ?Tuhan dalam kepercayaan? (al-haqq al-ladzi fi al-mu?taqad), dan ?Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan? (al-haqq al-makhluq fi al-I?tiqad).

Kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya ditentukan dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu tergantung kepada ?kesiapan particular? (al-isti?dad al-juz?i) masing-masing individu hamba sebagai bentuk penampakan ?kesiapan universal? (al-isti?dad al-kulli) atau ?kesiapan azali? (al-isti?dad al-azali) yang telah ada sejak azali dalam ?entitas-entitas permanen? (al-a?yan al-tsabitah), yang merupakan bentuk penampakan diri (tajalli) al-Haqq (yaitu Tuhan).

Tuhan menampakkan diri-Nya kepada hamba-Nya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang akhirnya ?diikat? atau ?dibatasi? oleh dan dalam kepercayaannya sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan yang diketahui oleh sang hamba adalah identic dengan Tuhan dalam kepercayaannya. Dapat pula dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identic dengan kepercayaannya.

Tuhan memberikan kesiapan (al-isti?dad), sesuai dengan firman-Nya, ?Dia memberi segala sesuatu ciptaannya? (Q.s. Thaha/20:50). Maka Dia mengangkat hijab antara Dia dan hamba-Nya. Sang hamba melihat-Nya dalam bentuk kepercayaannya; jadi Tuhan adalah identic dengan kepercayaannya sendiri. Baik kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali bentuk kepercayaannya tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaannya itu adalah Tuhan yang bentuk-Nya diliputi oleh kalbu; itulah Tuhan yang menampakkan diri-Nya kepada kalbu sehingga Dia dikenal. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan. (Ibn ?Arabi, Fushul al-Hikam, 1:121).

?Tuhan kepercayaan? adalah gambar atau bentuk Tuhan, atau pemikiran, konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia atau taklidnya. Tuhan seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat-Nya, tetapi Tuhan yang diciptakan oleh manusia sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsinya. Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang ?ditempatkan? oleh manusia dalam pemikiran, konsep, ide, atau gagasannya dan ?diikat?-nya dalam dan dengan kepercayaannya.

Tuhan dalam kepercayaan Islam adalah seorang ?laki-laki?, atau, lebih tepatnya, disimbolkan dengan seorang ?laki-laki?. Tuhan dalam kepercayaan islam, seperti Tuhan dalam keperceyaan-kepercayaan Yahudi dan Kristen, adalah Huwa (?He?), bukan Hiya (?She?). Tuhan dalam kepercayaan Islam selalu dipahami dengan kata maskulin. Dengan demikian, Tuhan dalam kepercayaan Islam, sebagaimana dalam kepercayaan-kepercayaan yahudi dan Kristen, adalah seorang ?person?, seorang ?pribadi?. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa Tuhan agama-agama monoteistik atau teistik, termasuk Islam, adalah ?personal?, ?berpribadi?. Tuhan dalam arti ini bukan ?impersonal?, bukan ?tak-berpribadi?, dan, karena itu, Dia bukan ?Itu? (?It?).

Lantas seperti apakah Tuhan yang sebenarnya? Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat Tuhan, tidak diketahui dan tidak dapat diketahui oleh akal manusia. Tuhan dalam arti ini oleh Ibn ?Arabi disebut ?Tuhan Yang Sebenarnya?, ?the Real God? (al-ilah al-haqq); ?Tuhan Yang Absolut?, ?the Absolute God? (al-ilah al-majhul). Tuhan dalam arti ini adalah munazzah (tidak dapat dibandingkan [dengan yang lain]), sama sekali berbeda dengan alam, transenden dengan alam. ?Tidak sesuatu pun serupa dengan-Nya (Q.s. al-Syura/42: 11). ?Penglihatan tidak dapat mempersepsi-Nya, tetapi Dia mempersepsi semua penglihatan? (Q.s. al-An?am/6: 103).

Itulah Tuhan yang tidak bisa dipahami dan dihampiri secara absolut, yang kerap disebut Dzat Tuhan. Itulah Yang Absolut dalam keabsolutan-Nya yang terlepas dari semua sifat dan relasi yang dapat dipahami manusia. Dia adalah ?yang paling tidak tentu dari semua yang tidak tentu?, ?yang palig tidak diketahui dari semua yang tidak diketahui? (ankar al-nakirat). Dia adalah selama-lamanya suatu misteri, yang oleh Ibn ?Arabi disebut ?Misteri Yang Absolut? (al-ghayb al-mutlaq) atau tajalli) Tuhan, dikatakan bahwa Yang Absolut dalam keabsolutan-Nya adalah tingkat ?keesaan? (ahadiyah).

Karena Tuhan, yaitu Dzat Tuhan, tidak dapat diketahui oleh siapa pun, maka Nabi Saw melarang orang-orang beriman untuk memikirkan Tuhan. ?Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Dzat Allah,? demikian sabda Nabi. Hadits ini cukup terkenal di kalangan orang-orang yang mempelajari ilmu tawhid. Larangan ini diperkuat oleh Ibn ?Arabi dengan firman Tuhan yang berbunyi: ?Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya? (Q.s Ali ?Imran/3: 28). [ ]

Sumber gambar: http://alwaysbeready.com

?

Ahmad Nurcholish, pengajar Studi Agama di Universitas Pembangunan Jaya & mahasiswa program doktoral Studi Islam UMJ

?