Peace Train, Wisata Sembari Menebar Perdamaian

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Wisata
dipublikasikan 19 September 2017
Peace Train, Wisata Sembari Menebar Perdamaian

Peace Train, Wisata Sembari Menebar Perdamaian

Ahmad Nurcholish

“Saya mendukung penuh sekaligus bangga dengan program ini. Kereta ternyata tak hanya bisa mengantar penumpangnya dari satu tempat menuju tempat lainnya, tapi juga dapat dijadikan sarana untuk menebar kerukunan dan perdamaian.”

Demikian disampaikan Kepala Stasiun Kereta Api Pasar Senen Dedy ketika memberi sambutan dan melepas pemberangkatan peserta Peace Train Indonesia angkatan pertama, Jumat (15/9) lalu di ruang VIP Stasiun Senen. Ia juga berharap program ini dapat berkelanjutan sehingga semakin banyak anak-anak muda yang menggunakan moda transportasi kereta api sembari enebar virus perdamaian.

 Senada dengan Dedy, Ariyani Jalal, utusan  Kantor Staf Presiden juga menyatakan dukungannya atas program yang dihelat selama tiga hari ini. “Indonesia sangat berbineka dengan ragam suku, agama, ras, budaya dan agama. Kebinekaan tersebut perlu dijaga. Tugas inilah yang mesti diemban oleh anak-anak muda seperti kalian. Sebab itu, kami mendukung penuh inisiatif ini sebagai gerakan nyata mewujudkan perdamaian di Negari kita,” tandas Ariyani sat melepas peserta di Stasiun Senen.

 Peace Train adalah program traveling lintas iman dengan menggunakan moda kereta api, menuju satu kota yang telah ditentukan. Dua puluh peserta, 4 penggagas sekaligus fasilitator dan 3 observer mengikuti program ini. Dari Jakarta mereka yang berlatar belakang dari berbagai agama ini berangkat bersama menuju kota Semarang di Jawa Tengah. Di Kota Wali inilah mereka berkunjung ke berbagai komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah, dan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai actor penting toleransi dan perdamaian antaragama.

“Ada dua tujuan program ini kami helat. Pertama, membangun jembatan penghubung antar generasi muda agar mereka dapat saling berbagi dan memperkokoh kepedulian terhadap isu-isu kebinekaan dan perdamaian. Kedua, menciptakan ruang perjumpaan bagi anak-anak muda agar saling kenal, saling belajar dari berbagai komunitas dan rumah ibadah serta bergerak bersama membangun perdamaian,” jelas Anick HT, salah satu penggagas dari program ini.

 
Kunjungan Rumah-rumah Ibadah

Perhelatan pertama kali di Indonesia ini berlangsung pada 15 – 18 September 2017. Dari Ibu Kota mereka menuju Semarang. Di kota penghasil lumpia inilah peserta dan fasilitator berkunjung ke Masjid Nusrat Jahan yang merupakan masjid Jemaat Ahmadiyah Semarang sebagai destisasi pertama.

 Di masjid ini peserta Peace Train mengawali acara dengan perkenalan antar peserta dan penggagas sekaligus fasilitator program ini. Keempat penggagas tersebut adalah Anick HT (muslim), Frangky Tampubolon (Kristen), Ahmad Nurcholish (muslim), dan Destya Nawriz (Baha’i). Keempatnya  merupakan aktivis yang sudah lama malang melintang di dunia lintas-agama dengan misi toleransi dan perdamaian.

Usai perkenalan, di masjid Ahmadiyah ini pula mereka menggelar diskusi dengan ta’mir (pengurus) masjid sekaligus pengurus Jemaat Ahmadiyah setempat. Diskusi berjalan penuh kehangatan. Nampat keakraban yang begitu terasa antar peserta dan jemaat Ahmadiyah. Meski ada sebagian peserta berkunjung ke masjid, termasuk ke jemaat Ahmadiyah, namun hal itu tak menghalangi mereka untuk cepat dekat sehingga dapat saling bercengkrama dengan hangat.

 Dari masjid Nusrat Jahan peserta secara berturut melanjutkan perjalan ke Vihara Tanah Putih yang bertengger megah di Jalan Dr. Wahidin, Semarang; lalu meneruskan ke gereja Jemaat Allahg Global Indonesia (JAGI) di Jalan Jeruk Semarang dank e Pura Agung Girinatha yang berada di Jalan Sumbing, Semarang.

Malam harinya peserta dan fasilitator menginap di Lembaga Studi Sosial dan Agama (elSA) yang terletak di Perum Walisongo Permai, Semarang. Di tempat inilah peserta dan tuan rumah berbagi cerita mengenai pengalaman masing-masing dalam bergiat pada ranah kebinekaan dan perdamaian.

 Hari kedua peserta Peace Train melanjutkan perjalanan dengan mengelingi Kota Lama Semarang yang di dalamnya juga berdiri Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel atau lebiuh dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk. Dari Kota Lama peserta melanjutkan ke Gedung Rasa Dharma yang berada di Pecinan Semarang untuk mengikuti upacara King Hoo Ping. Ini merupakan upacara atau sembahyang untuk para leluhur yang dinilai memiliki jasa bagi kehidupan manusia. Diantara patung leluhur yang terletak di gedung ini adalah Gus Dur yang oleh orang-orang Tionghoa dianggap memiliki peran penting bagi penghidupan dan pengembangan kembali adat istiadat dan budaya Tionghoa di Indonesia.

 Dari gedung Rasa Dharma peserta beranjak ke Klenteng Tay Kak Sie yang juga berada di area Pecinan tersebut. Di Klenteng ini peserta tak hanya mendapat penjelasan tentang sejarah keberadaan Klenteng ini, tapi juga filosofi bangunan serta ritual sembahnya umat Tri Dharma: Buddha, Tao dan Khonghucu yang bisa bersembahnya di Klenteng ini.

 Destinasi  berikutnya adalah Gereja Katolik Santo Yusuf Gedangan dan Gereja Katolik St. Theresia Bongsari. Di gereja ini pula peserta dan fasiitator beristirahat lalu mengikuti malam pagelaran seni dan budaya  lintas agarama yang telah disispkan oleh Pelita dan sejumlah lembaga yang terlibat dalam program ini.

Pelita-lah yang menggandeng lembaga-lembaga lainnya di Semarang untuk mendukung program ini. Antara lain adalah EINJ Institute, JAGI, Jemaat Ahmadiyah Semarang, LBH Semarang, eLSA Semarang, Hikmahbudhi Semarang, Komunitas Gus Durian Semarang, GMKI Semarang, Komisi HAK Keuskupan Agunung Semarang, IPPS (Institute Peace and Scurity Studies), Peace Hub, dan Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah Indonesia).

Usai helatan yang dianggap sukses oleh berbagai kalangan ini permintaan untuk melkanjutkan dengan Peace Train kedua sudah mengalir ke para penggagas. Sejumlah daerah yang berminat berikutnya antara lain Temanggung Jawa Tengah, Yogyakarta, Surabaya Jatim, dan Raja Ampat papua Barat. Anda berminat mengikutinya?


Ahmad Nurcholish, salah satu penggagas Peace Train Indonesia

  • view 179