Beragama dengan Wajah Humanis

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 07 Februari 2016
Beragama dengan Wajah Humanis

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Jika ada sebagian orang yang menilai agama sebagai fenomena yang berwajah garang dan menakutkan, maka kita tidak bisa menyalahkahkan sepenuhnya. Di mata mereka, agama hanya menjadi biang kekacauan, kebencian, percekcokan, permusuhan, konflik, bahkan peperangan. Tindakan terror yang menjatuhkan banyak korban sebagaimana terjadi di Paris dan Jakarta (Sarinah-Thamrin) belum lama ini kian memperkokoh tesis tersebut.

Konon Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria al-Razi (863-925), seorang dokter dan filsuf di dunia Islam, sebagaimana dinukil Kautsar Azhari Noer (2008:91), mengkritik agama dan memandangnya sebagai bencana. Ia menolak kenabian. Baginya, akal sudah cukup untuk mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Dengan akal manusia mampu mengetahui rahasia-rahasia ketuhanan dan mengatur segala persoalan hidup. Tuhan tidak mungkin menetapkan kenabian pada sekelompok manusia tertentu, yang mempunyai kelebihan atas kelompok manusia yang lain. Padahal semua manusia dilahirkan dengan akal dan kemampuan yang sama. Lagi pula, ajaran-ajaran para nabi itu saling bertentangan yang membuat para pendukungnya saling mendustakan, memusuhi, menilainya sesat, dan lalu membunuh.

Banyak manusia binasa karena perseteruan dan peperangan atas nama agama. Dan itu terjadi bukan hanya antar umat yang berbeda agama, tetapi juga antar penganut di dalam satu agama tertentu. Sejarah agama-agama betul-betul diwarnai dengan semangat kebencian dan pertikaian serta dilumuri darah berceceran pada setiap peperangan. Nyawa pun melayang tidak hanya ribuan, bahkan mungkin jutaan.

Fakta itulah yang membuat seorang anggota Gereja Anglikan Jonathan Swift, meskipun ia adalah penganut suatu agama, tetapi mengakui secara jujur dengan mengatakan, ?Kita memunyai agama yang memadai untuk membuat kita saling membenci, tetapi tidak memadai untuk membuat kita saling mencintai.?(Ibid.) Betapapun agama memang telah menampilkan sosoknya yang memiliki wajah ganda. Di satu sisi ia mengajarkan cinta, kasih-sayang, perdamaian dan toleransi, di sisi lain ia juga telah menjelma menjadi sosok mengerikan sekaligus menakutkan.

Karena itu kritik pedas juga dilontarkan oleh A.N. Wilson, seorang novelis dan jurnalis asal Inggris. Di mata Wilson, cinta pada Tuhan adalah akar segala kejahatan. Agama adalah tragedy umat manusia. Tidak ada suatu agama yang tidak ikut bertanggung jawab atas berbagai perang, tirani dan penindasan kebenaran. Agama mendorong para penganutnya untuk menganiaya satu sama lain, untuk menggunakan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan dan pendapat orang lain, dan untuk mengklaim diri mereka sendiri sebagai pemilik kebenaran. Dengan tandas Wilson mengulas:

?Dikatakan dalam Bible bahwa cinta pada uang adalah akar seluruh kejahatan. Mungkin lebih benar untuk mengatakan bahwa cinta pada Tuhan adalah akar seluruh kejahatan. Agama adalah tragedy umat manusia. Ia mengajak kepada apa yang paling mulia, paling murni, paling tinggi pada ruh manusia, namun hampir tidak ada sebuah agama yang tidak betrtanggung jawab atas banyak perang, tirani dan penindasan kebenaran. Marx melukiskan agama sebagai candu rakyat; tetapi agama jauh lebih berbahaya daripada candu. Agama tidak membuat rakyat tertidur. Agama mendorong mereka untuk menganiaya satu sama lain, untuk memuji-muji perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan dan pendapat orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri kepemilikan kebenaran?. (Wilson, 1992: 1).

Apa yang dikatakan Wilson lebih dari 20-an tahun lalu ini bukan saja berdasarkan pada realitas empiris yang sudah terjadi sebelumnya, namun hingga detik ini pun agama kerap-kali menjelma menjadi alat untuk membenci, mencaci, bahkan mengenyahkan yang lain. Di negeri kita tercinta Indonesia hal itu pun benar-benar nyata. Kasus penutupan (penyegelan), pembongkaran gereja dan masjid serta pembakaran rumah ibadah lainnya telah menjadi pemandangan menyesakkan nurani bagi yang menyakini bahwa agama sejatinya tidak memiliki ajaran demikian.

Betapapun menyakitkannya kritik keras terhadap agama bagi kita, tetapi tak seharusnya kita berang apalagi meradang. Kautsar Azhari Noer (dan sejumlah tokoh lintas agama lainnya) selalu mengajak kita untuk menanggapi kritik itu dengan bijaksana. Menurutnya, mungkin ada yang keliru dengan pemahaman dan penafsiran kita tentang agama yang membuatnya berwajah menakutkan. Mungkin juga ada yang perlu diperbaiki.

Sekelompok pemikir kristis mengusulkan agar teologi agama-agama perlu diubah dari eksklusivme menjadi pluralisme. Alasan mereka adalah bahwa eksklusivisme tidak toleran terhadap perbedaan, monopoli kebenaran (mengaku hanya dirinya sendiri yang benar), memandang yang lain sesat dan kafir, dan cenderung memaksanakan keinginannya kepada yang lain. Eksklusivisme yang sempit, kaku dan tidak terkendali cenderung menjadi sumber kebencian dan permusuhan bagi para penganutnya terhadap yang lain.

Sedangkan pluralisme bukan hanya menghargai perbedaan tetapi juga mengakui bahwa kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh satu agama. Pluralisme mendorong para penganutnya untuk bersikap toleran, berdialog, bersahabat, kerjasama dan setiakawan dengan orang lain. Dalam sejarah Islam, banyak sufi adalah pluralis. Mereka adalah kelompok Islam yang paling toleran, paling simpatik, paling terbuka, dan paling ramah terhadap agama-agama lain. Kaum Sufi memandang bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi daripada agama cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Cinta adalah esensi segala kepercayaan.

Dengan demikian yang perlu kita kedepankan adalah sikap humanis. Agama yang dibutuhkan oleh setiap manusia dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi adalah agama yang humanis. Agama yang menampakkan wajah ramahnya dan bukan marahnya. Agama yang menunjukkan sikap kelemah-lembutan dan bukan karakter garangnya. Agama yang selalu mengedepankan cinta-kasih dan bukan yang membawa semangat kebencian.

Sejatinya, sebagaimana pernah disampaikan Mulyadhi Kartanegara, secara ideal dan normative, semua agama bertujuan untuk kemanusiaan, dalam arti untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Semua agama memproklamirkan dirinya sebagai pembela nilai-nilai kemanusiaan seperti kebajikan, kedamaian, cinta, kasih sayang, kedermawanan, persaudaraan, solidaritas, persamaan, dan keadilan. (1986: 82).

Oleh karena itu, sudah saatnya kita tinggalkan wajah agama yang garang. Mari kita kembali beragama dengan semangat saling mengenal secara mendalam, menebar kasih-sayang, toleran dan mewujudkan sepirit salam, yakni memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi sesama umat manusia, apapun etnis dan agamanya. [ ]

?

Sumber gambar: http://icrp-online.org

?

Ahmad Nurcholish, pengajar Studi Agama Universitas Pembangunan Jaya, Tangsel & pengampu program Studi Agama dan Perdamaian ICRP, Jakarta

?

?

?

?