Buku: "Merajut Damai dalam Kebinekaan"

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Budaya
dipublikasikan 24 Juli 2017
Buku:

Merajut Damai dalam Kebinekaan

Ahmad Nurcholish

= Dalam sepuluh tahun terakhir kebinekaan kita sebagai bangsa dan negara mendapat tantangan luara biasa. Dari intoleransi hingga tindakan radikalisasi. Buku ini mencoba mengurai sejumlah tantangan tersebut sekaligus menawarkan solusi agar kebinekaan tetap menjadi kekuatan bagi terwujudnya perdamaian =


 Apa Kata Mereka tentang buku ini …

 “Untuk mewujudkan dan memajukan kebhinekaan atau pluralisme, diperlukan toleransi. Toleransi yang tidak hanya sekadar menghargai atau menghormati dan menerima perbedaan,  namun lebih kepada memahami makna atau hakekat dari perbedaan tersebut. Buku ini sangat membuka wawasan kita tentang konsep kebebasan beragama dan manfaatnya dalam membangun perdamaian. Selain melihat dari perspektif hukum dan HAM, kajian mengenai spirit keimanan diperkaya dengan memasukan nilai Islam Nusantara. Tidak hanya berbicara tentang konsep, buku ini menghadirkan pula berbagai metode yang dapat meningkatkan perdamaian antar agama, karena sejatinya esensi dari perdamaian dunia adalah kebebasan beragama. Buku ini memberikan bukti nyata bahwa ditengah masyarakat kita yang majemuk, multicultural dan demokratis, masih banyak pemikir dan tokoh Indonesia yang terus memperjuangkan dan merajut perdamaian dalam kebhinekaan. Tentu buku ini akan membawa manfaat dan kebaikan!”

(Nanda Saraswati, Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya – Malang)

 
“Bacaaan wajib bagi yang merindukan kedamaian... agar bisa menjadi duta-duta perdamaian.”

(Putu Putrayasa, CEO BERNAS Hebat Group Asia)

 “Pak Ahmad Nurcholish konsisten membumikan nilai-nilai toleransi, perdamaian dan Hak Asasi Manusia melalui berbagai jalur, termasuk pendidikan. Dari beliau saya belajar membongkar paradigma  pendidikan agama yang eksklusif menuju pendidikan agama yang humanis, toleran dan inklusif. Ide-ide beliau menyegarkan, penting dan kontekstual dengan kondisi kebangsaan yang saat ini kian merisaukan. Seperti karya yang terbaru ini. Selamat membaca dan Anda akan mendapatkan banyak pencerahan!”

(Muhammad Mukhlisin, Kepala Sekolah Guru Kebinekaan – Yayasan Cahaya Guru, Jakarta)

 

“Buku ini merupakan karya panjang penulis, baik sebagai pemikir maupun aktivis. Komitmennya terhadap kebhinnekaan tidak hanya berhenti di kertas, tetapi sudah mendarah-daging, menjadi langkah yang selalu dibawanya tiap keluar rmah. Pembaca bisa merasakan komitmen itu di setiap tulisan yang ada di buku ini, dan memahami betapa perawatan atas kemajemukan bangsa menjadi harga mati bagi masa depan Indonesia, apalagi di tengah menguatnya sektarianisme kelompok agama berbalutkepentingan politik.”

(Syaiful Arif, Direktur Institute Pancasila dan Kewarganegaraan)

 

“Membaca buku ini seperti sedang membuka lembaran curahan isi hati paling dalam dari diri sendiri. Terwakili oleh gagasan yang luas dan brilian ini. Salam Bhinneka Tunggal Ika. Salam cinta Indonesia.” 

(Shuniyya Ruhama, GusDurian,  Kendal - Jateng)

 

“Pemikir sekaligus aktivis. Begitulah predikat yang melekat pada diri penulis buku ini. Cak Cholis ―begitu saya menyebutnya dalam keseharian―adalah sosok yang mimpi, ide, visi dan semangatnya selalu bergelora dalam mewujudkan harmoni dalam masyarakat Indonesia yang sangat majemuk ini. Buku ini adalah perwujudan  gelora semangat tersebut yang ingin beliau tularkan kepada para pembaca. Membaca buku ini, kita seperti sedang memanen pemikiran dan pengalaman beliau yang sangat berharga untuk kita serap, tularkan dan kita implementasikan dalam keseharian. Tidak ada jaminan bahwa bangsa ini akan utuh dalam jangka panjang. Terlebih lagi dalam beberapa tahun terakhir ini, kita dihadapkan pada kenyataan semakin menguatnya semangat sektarian, pengerasan, dan radikalisme terutama berbasis agama dan keyakinan yang mengancam keutuhan bangsa kita. Karena itu, kita semua punya tanggung jawab sesuai dengan kapasitas masing-masing untuk merawat keutuhan NKRI. Buku ini memberikan alternatif solusi yang momen kehadirannya sangat tepat dan dinantikan para aktivis perdamaian, kebinekaan dan mereka yang peduli untuk merawat rumah besar bangsa Indonesia. Selamat mereguk hikmah yang terkandung dalam buku ini. Salam damai dan harmoni.”

(Komar, Koordinator Program Pelatihan Yayasan Cahaya Guru)

 

“Buku Merajut Damai Dalam Kebinekaan ini sangat melecut semangat kemanusiaan dalam realitas keragaman dalam keberagamaan di Indonesia. Ruang jelajah buku ini pun sangat luas yang mencerminkan betapa kompleksnya aktivitas dan wawasan Penulis tentang Islam, HAM, dan Keindonesiaan. Meskipun tiap bab tidak mengulas secara mendalam tentang masing-masing isunya, tetapi justru ini yang menjadi salah satu kelebihan dari buku ini. Percikan pemikiran penulis seolah memprovokasi bagi pembaca untuk melengkapi peta masalah dan opsi solusi atas kebhinekaan di Indonesia yang dinamis. Jelas bahwa Penulis sangat ingin berbagi ruang pemikiran bagi siapa pun guna memperkokoh persaudaraan kemanusiaan di tengah ancaman primordialitas dan politik identitas yang masing sering dikuatkan. Lukisan ide tentang cinta terhadap manusia, agama, dan negara ini sangat kontributif untuk merawat Indonesia yang damai.” 

(Muktiono, Dosen Hukum dan HAM & Ketua Pusat Pengembangan HAM dan Demokrasi Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang)

 

“Buku ini merupakan referensi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pembaca saat ini. Di tengah maraknya intoleransi dan kebencian berlatar agama yang meluas, buku ini hadir untuk menjawab berbagai permasalahan tersebut dengan bahasa yang sederhana namun cukup komprehensif.”

(Febionesta, Ketua YLBHI Bidang Pengembangan Organisasi)

 

“Buku ini saya yakin ditulis oleh seseorang yang gelisah melihat agama justru dijadikan alat justifikasi atas tindakan memonopoli kebenaran, bukan untuk membangun peradaban. Bagi mereka yang cinta perdamaian, kerukunan, juga keindahan dalam beragama, jangan lewatkan paragraf demi paragraf dalam buku ini sejak awal!”

(Drs. Helmi Hidayat, MA, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

Alumnus the University of Hull, Inggris)

 

"Mengapa banyak orang gemar menghujat, mengkafirkan kelompok yang tidak sejalan dengan ideologinya dengan dalih agama [?] Jawabannya sederhana: Karena mereka terlena dan tenggelam dalam "pelukan" teks. Ini bukti bahwa agama punya kecenderungan merampas pikiran kritis serta memeriksa kesungguhan iman dengan agresif dan agitatif. Agama didakwahkan sebagai “mahkamah-mahkamah penyidik” yang menundukkan bahkan mempidanakan semua ijtihad manusia. Di sinilah saya kira umat membutuhkan managemen yang rasional. Buku yang ditulis oleh sahabat saya, Nurcholish – seorang intelektual muda, aktivis, dan pegiat HAM yang tangguh -  ini wajib dibaca seiring dengan perkembangan isu-isu tentang clean government, rule of law, kebebasan beragama, demokrasi, dan HAM."

(Moh. Shofan, Penulis dan Trainer Living Values Education)

 

“Membaca judulnya, saya pikir, buku ini berisi tentang wacana biasa yang seringkali ditemui di koran-koran umum. Tapi ketika masuk di dalamnya, ada samudera yang menantang untuk diselami. Kalimat-kalimat yang dipaparkan adalah sejuk pegunungan yang menyimpan bara lahar. Tidak percaya? Baca saja!”

(Abdul Muiz Ghazali,  Peneliti Keberagamaan dan Seksualitas, Dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

 

“Buku Merajut Damai Dalam Kebinekaan adalah curahan hati akibat kegalauan seorang Ahmad Nurcholish pada situasi Indonesia saat ini. Nurcholis bukan 'looser' yang berhenti pada kegalauan. Dengan cermat ia menguraikan persoalan lalu memberikan solusi, salah satunya pendidikan multikulturalisme. Baginya agar damai bisa tetap dirajut, karakter bangsa yang ber-”Bhinneka Tunggal Ika” harus dibentuk sejak usia dini. Kita semua harus belajar hidup dalam kebhinekaan dan dalam spirit toleransi agar Indonesia tetap bersatu dan tidak terjebak menjadi Suriah kedua. Pesan moral-spiritual yang dibungkus dengan uraian yang memukau membuat buku ini patut dibaca! Maju terus Mas Ahmad Nurcholish!! Indonesia membutuhkan pemikiran-pemikiran santun, brilian dan berani seperti ini. Salam.”

(Martine Dian, Aktivis Perempuan Lintasiman,  Host Radio Pelita Kasih Jakarta)

 

“Karya Ahmad Nurcholish ini menarasikan pergulatan agama yang senantiasa berada dalam persimpangan: antara menjadi pembawa damai atau justru menjadi pencipta bencana. Telisikan menarik buku ini tentang pergulatan agama dengan negara, dan terutama akibat penetrasi fundamentalisme-radikalisme yang makin menguat di segala dimensi kehidupan. Buku ini layak dibaca karena kaya dengan data. Ia merupakan gabungan dari kajian akademik dan pengalaman riel sang penulis sebagai aktifis pluralisme agama.”

(Pdt. Dr. Albertus Patty, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia – PGI)

 

“Buku yang ditulis oleh perajut kebangsaan ini sangat penuh dengan kesejukan. Sungguh sebuah buku yang mencerahkan. Damai itu wajib. Akur itu harus.”

(Chrissy Siahaan, Aktivis Perempuan)

 

“Para pendiri bangsa ini adalah orang-orang yang sudah selesai dengan persoalan SARA. Karena mereka sangat paham bahwa persoalan menjaga keutuhan bangsa dari ancaman perpecahan merupakan amanah besar dan harus dirawat bersama oleh seluruh anak bangsa. Saya selaku orang pesantren, merasa bersyukur atas hadirnya buah pikiran sahabat saya Cak Ahmad Nurcholish ini. Di dalamnya menitikberatkan pada kita semua anak bangsa, akan pentingnya menjaga kebinekaan dan saling menghargai perbedaan suku, bahasa, agama dan warna kulit. Karena itu kekayaan terbesar bagi kita bangsa Indonesia yang dianugerahkan oleh Allah SWT.”

(KH. Munawar M. Ali, Pengasuh Pesantren Nusantara, Depok – Jawa Barat)

 

“Membaca buku ini, segera saja kita bisa menyimpulkan, perdamaian dan toleransi tak bakal awet tanpa kerja aktif dan kontribusi setiap elemen bangsa ini. Ia harus diperjuangkan dan dikembangkan tanpa kenal rasa lelah. Kita amat beruntung hidup dan tinggal di negeri dengan Muslim terbesar di dunia, namun bisa mempertahankan wajah umum moderatisme. Meski begitu, kita tak bisa menutup mata problem intoleransi dan radikalisme masih menjadi pekerjaan rumah kita semua. Buku ini memotret tantangan-tantangan tersebut sembari memberi tawaran bagaimana meresponnya.”

(Alamsyah M. Dja’far, peneliti the Wahid Foundation, Jakarta)

 

“Mas Nurcholish seperti kakak, sahabat saya untuk berbagi canda, tawa dan sedih.  Sebuah karya buku yang mengangkat tentang keberagamaan, kebinekaan dan hak asasi manusia selalu membuat pembaca menjadi kagum dan paham akan hal itu. Sebagai seorang pendidik dan pemerhati anak, ancaman terhadap keberagamaan, kebinekaan, intoleransi terasa sangat meresahkan akhir-akhir ini. Bagaimana kita bisa menyikapi situasi tersebut yang terjadi di masyakarat majemuk? Pendidikan yang sudah kita enyam selama kurang lebih 17 tahun, seharusnya membuka doktrin-doktrin keras dan membawa kita kepada manusia yang merdeka, berakal budi dan menjadikan manusia yang lebih humanis. Rangkaian kata menjadi sebuah buku yang luar biasa dari pemikiran beliau serta praktis dapat kita renungkan dan pahami di masyarakat Indonesia. Kita bisa mulai merawat kebinekaan, keberagamaan dan kemanusiaan dimulai dari diri kita sendiri!!! Lakukan hal-hal kecil dengan Cinta dan Kasih yang besar.”

(Valentina Palma Sastrodihardjo, Pendidik dan Pemerhati Anak)

 

“Psikologi mengakui bahwa sekalipun manusia pemilik akal budi, tak selamanya perilaku mencerminkan kapasitas mulia tersebut. Kebhinnekaan atau keberagaman, yang sejatinya bagian dari kemuliaan manusia, justru dirusak sendiri oleh manusia demi menjadikan semuanya serba sama. Manakala manusia menghayati bahwa "sama" dan "berbeda" sejatinya adalah atribut yang cair, saat itulah ia mengalir tiba di kedamaian yang jadi tujuan perjalanan. Buku ini membantu kita menyadari bagaimana kita semua sebagai manusia merajut helai-helai benang aneka warna dan rupa saling berjalin berkelindan menjadi anyaman wastra kemanusiaan.”

(Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo, M.A., M.Psi., Psikolog)

 

“Bhinneka Tunggal Ika adalah prinsip hidup yang mestinya dipegang teguh setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia. Buku ini merekam kegelisahan seorang Ahmad Nurcholish atas berbagai peristiwa yang mengoyak prinsip hidup kita sebagai bangsa, yang sebenarnya juga menjadi kegelisahan kita meski tidak diungkapkan. Disamping itu buku ini menjabarkan sejumlah pemikiran dan gagasan sang penulis tentang bagaimana mestinya prinsip Bhinneka Tunggal Ika itu dihidupi oleh setiap kita. Dan bagi saya sebagai seorang sahabat yang mengenal Mas Nur (panggilan akrab saya kepada penulis), buku ini menggambarkan apa yang sunguh-sungguh sedang dikerjakannya bersama para sahabat dalam mewujudkan perdamaian di tengah bangsa yang majemuk ini.”

 (Abdiel Fortunatus Tanias,  Kepala Biro Pemuda dan Remaja PGI)

 

“Sekali lagi Kang Ahmad Nurcholis berhasil menghadirkan sebuah tulisan yang berani dan jujur serta sangat kontekstual, mengangkat topik-topik  yang ada di tengah-tengah masyarakat seperti agama, Pancasila, kebhinekaan, hak asasi manusia, kebebasan, toleransi, pendidikan, teladan semua itu dilingkupi dalam satu frame tentang perdamaian. Banyak penulis memilih untuk menghindar dan menjauh isu-isu ini, namun tidak bagi sosok Kang Ahmad Nurholish, yang juga seorang aktifis perdamaian, pengajar, yang juga pengasuh pesantren dan pecinta tanaman ini.

 

Melalui buku "Merajut Damai Dalam Kebinekaan", saya melihat ia seperti suara nurani yang tidak henti-hentinya tanpa jenuh, ingin mengingatkan kita semua anak bangsa, untuk terus mengambil peran, dalam merajut kedamaian dalam kehidupan yang majemuk. Ia paham benar bahwa mengingatkan adalah bagian dari mencegah. Ia paham bahwa perdamaian bukan hanya sekedar diperjuangkan tetapi juga harus dibina dan dipertahankan. Ia mengingatkan pada kita, bukan sedikit cost, impact dari sebuah keadaan caos. Dengan kelembutan hatinya ia mengungkapkan beberapa hal yang dijumpai di tengah masyarakat yang menjadi cadas perdamaian serta kerikil toleransi.

 

Oleh karena itu saya sangat merekomendasikan buku ini untuk setiap kita, sebagai pewaris bumi yang di anugrahi keragaman, untuk mendengar suara perenungan dan harapan kang Ahmad Nurholis seorang penulis berhati lembut yang mengajak kita bersama-sama "Merajut Damai dalam Kebinekaan." Sang Gusti pemilik Alam semesta dari singgasananya tersenyum dengan bangga bahwa ia berhasil menciptakan seorang anak manusia yang kehidupannya selalu menyuarakan Perdamaian."

(J Edward T, SE. MA, Penulis "Cermin Kehidupan: Memetik Pelajaran dari Setiap Perjalanan")

 

Di  tengah  dominannya  tradisi kekerasan  dan penaklukan  yang dipertontonkan oleh  sejumlah penganut agama, yang menampik  dimensi agama sebagai sumber perdamaian dan kerukunan, buku ini merupakan ikhtiar untuk menemu-kenali spirit pembebasan agama dan penyatuan kemanusiaan. Membacanya akan memprovokasi pemikiran untuk meragukan  persepsi, sikap dan prilaku  yang anti toleran dan senang pada jalan kekerasan  atas nama agama. Penting dibaca!

(Ridwan  al-Makassary, Dosen Pengantar Studi Perdamaian  jurusan Hbungan Internasional USTJ  dan pekerja perdamaian di Tanah Papua)

 

Islam dan Pancasila adalah Islam dengan kebhinekaan berwarna Indonesia. Sungguh Indah dan cantik wajah Indonesia saat anak bangsanya menjunjung tinggi nilai-nilai kebinekaan dengan menghargai dan menghormati perbedaan yang ada. Buku ini memberikan arah terbentuknya kebinekaan dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada, karena perbedaan itu adalalah taqdir Allah. Apa kita mau melawan taqdir?

(Gunawan, S.Ag, M.Pd.I, Guru Pendidikan Agama Islam dan 3 CD di Sekolah Highscope Indonesia, Jakarta Selatan)

 

Satsriakal

Wahe Guru Ji Ka Kalsha, Wahe Guru Ji Ki Fateh

 

Atas karunia dan kemurahan Wahe Guru, saya menyambut baik upaya yang dilakukan Bapak Ahmad Nurcholish. Buku ini menjadi sangat menarik dibaca dan salah satu pengayaan dan inspirasi bagi masyarakat Indonesia yang mencintai kehidupan damai dengan warna yang beragam. Sebagaimana kita ketahui Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki keanekaragaman pada agama, etnis, sosial, bahasa, seni dan budaya yang tersebar di seluruh Kepulauan Nusantara. Dengan keanekragaman yang di miliki Bangsa Indonesia seiring pula Puji syukur kita panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa sebagai warga negara Indonesia senantiasa menjaga dan melestarikan dalam kehidupan yang damai, harmonis dan penuh semangat kerjasama.

 

Pada kesempatan ini Saya Balwant Singh/Ben Rahal dari Yayasan Sosial Guru Nanak adalah Pengelola rumah ibadah "Guru Dwara Guru Nanak" Ciputat,  Tangerang Selatan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada penulis dengan rasa kepeduliannya pada kehidupan yang damai dalam masyarakat Indonesia dengan karya sebuah buku "Merajut Damai Dalam Kebhinnekaan".

 

Dengan membaca buku ini, masyarakat mampu menumbuhkan rasa Nasionalisme dan pengabdian bagi Bangsa dan Negara Indonesia, dari berbagai ragam latar belakang etnis, sosial, bahasa, seni dan budaya, hidup berdampingan yang damai, harmoni  dan penuh semangat cinta pada ibu pertiwi. Akhir kalam saya kutip dalam Shri Guru Grant Sahib Halaman 1299 pada Nyanyian bersama Sang Guru: Naa Ko baiee nahee bigaanaa // Sagal sang ham ka-o ban aa ee"

(Tiada seorang musuhku, tiada pula orang asing bagiku, setiap orang adalah sahabatku)

(Balwant Singh Rahal, Yayasan Sosial Guru Nanak, Ciputat, Tangsel)

 

 

 

Buku yang sangat tepat terbit di saat Negara tercinta yang mulai dideru ombak perpecahan. Buku ini sangat luar biasa untuk membuka pikiran orang awam, mengapa kita perlu menjaga ke-Khinneka Tunggal Ika-an kita. Buku yang wajib dibaca anak muda sebagai penerus bangsa, selain orang tua tentunya. Terimakasih Pak Nurcholish, sudah pikirkan bagaimana menjaga NKRI tercinta ini.

(Melly Kiong, praktisi Mindfull Parenting)

 

 

Sinopsis

Damai.  Satu kata yang mudah diucapkan, tapi tak gampang untuk diwujudkan. Terlebih bagi kita yang hidup dalam sebuah masyarakat majemuk, tantangan untuk mewujudkan kehidupan damai tak semudah menuliskan dan mengucapkannya. Berbagai tantangan selalu menghantui upaya-upaya tersebut.

Ada enam tantangan yang dibahas dalam buku ini yang saat ini menjadi ancaman bagi kebinekaan kita.

Pertama, ujaran kebencian (hate speech). Kedua, intoleransi. Ketiga, diskriminasi. Keempat, koersi atau paksaan. Kelima, persekusi atau pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Keenam, segregasi. Sederhananya, segregasi dapat kita maknai sebagai pemisahan atau pembedaan secara sengaja.

Keenam tantangan inilah yang hingga saat ini masih menjadi ancaman laten yang dapat mengoyak kebinekaan kita sebagai bangsa dan Negara. Oleh sebab itu, tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini merupakan buah dari urun-gagas dalam merespons persoalan yang tengah kita hadapi saat ini.

Tulisan-tulisan tersebut hadir bukan dalam ruang hampa. Ia dilatari oleh persoalan-persoalan yang berkembang secara dinamis di sekitar kita. Dari mulai soal fundamentalisme agama hingga enam tantangan sebagaimana tersebut yang tentu menjadi ancaman bagi kebinakaan kita dan  soal kebebasan beragama dan berkeyakinan yang menjadi hak asasi manusia. Juga  soal pendidikan eksklusif menuju pendidikan inklusif-multikultural serta pendidikan perdamaian yang tak kalah pentingnya.

Selanjutnya, saya berharap buku ini menjadi bahan bacaan sederhana untuk memotret kembali dinamika yang terjadi di engeri ini, khususnya yang terkati dengan isu-isu keagamaan, kebinekaan dan perdamaian. Dari bacaan ini saya berharap pula kita bisa saling mengoreksi, berdiskusi, bertukar gagasan untuk urun gagas, berkontribusi dalam bentuk pemikiran untuk Indonesia yang bineka ini. Untuk Tanah Air kita yang kaya dengan keragaman budaya, suku, adat. Dan agama yang seharusnya menjadi kekuatan dan keindahan bagi kita semua.

Lebih khusus lagi, tulisan-tulisan dalam buku ini dapat kita jadikan sebagai bahan bertukar gagasan untuk merumuskan secara bersama-sama, apa dan bagaimana sebaiknya yang mesti kita lakukan untuk mewujudkan perdamaian. Sebuah cita-cita luhur dan menjadi harapan bagi kita semua.

 

Ahmad Nurcholish yang lahir di Grobogan-Jateng ini menempuh studi TK–SD dan madrasah dinniyyah di kampung halamannya. Lalu, madrasah tsanawiyah (M.Ts.) dan madrasah aliyah (MA) sewaktu mondok di Pondok Pesantren Al-Faqih, Selo-Purwodadi, Jateng. Melanjutkan kuliah di STMIK Budi Luhur Jakarta dan STAI Nida El-Adabi Bogor (S1), serta Magister Studi Islam UMJ Ciputat-Tangsel dengan tesis berjudul Peace Education dan Islam: Studi Pemikiran Pedamaian KH. Abdurrahman Wahid yang kemudian diterbitkan menjadi buku oleh penerbit Elexmedia (Kompas-Gramedia) tahun 2015 lalu.

Sejak di bangku SLTA aktif di sejumlah organisasi, antara lain: Dewan Kerja Ranting (DKR) Pramuka Kec. Tawangharjo (Ka-Bid I, 1992–1993); Pon-Pen Al-Faqih (Sekretaris, 1992–1993); Remaja Masjid Baitussalam Kemayoran (Bendahara, 1995–1997); YISC Al-Al-Azhar Jakarta (Ketua Lembaga Kajian, 2002–2003 & Ketua MDO, 2004–2005); Forum Generasi Muda Antar-Iman [GEMARI] (Koord. Kajian, 2002–2004); Yayasan Panca Dian Kasih (Koord. Program, 2007–2008); Indonesian Conference on Religion and Peace [ICRP] (Koord. Riset & Infokom, 2010–sekarang); dan Harmoni Mitra Madania (Direktur Program, 2013–sekarang).

Penyuka buku dan pehobi baca ini pernah menjadi trainer dan motivator saat bekerja di PT. Ifaria Gemilang (Tangsel, 2005–2006); kontributor Syir’ah Online (2007–2008);Redaktur Pelaksana majalah I-Fashion (2008–2009); dan Pemimpin Redaksi majalah INTREPRENEUR (2009–2011). Ia juga kerap menjadi narasumber di berbagai diskusi, seminar, dan workshop bertema sosial-keagamaan dan peacebuilding, juga menjadi narasumber di sejumlah radio dan televisi swasta, seperti Tri Jaya FM, MS Tri FM, KBR 68H, Green Radio FM, Lite FM, RPK FM, Heartline FM, Star Radio FM, Q-TV, MTA-TV, TEMPO-TV, NET-TV, Metro-TV, BBC, dan CNN Indonesia.

Sebagai penulis, tulisannya tersebar di sejumlah media, baik cetak maupun online.Dalam bentuk buku ia telah menulis 20-an judul lebih, yaitu Memoar Cintaku (LKiS, 2005); Pernikahan Beda Agama (ICRP-Komnas HAM, 2005 & 2010); Kado Cinta Bagi Pasangan NIkah Beda Agama (Gramedia, 2008); Melawan Kekerasan Atas Nama Agama (ICRP, 2011); Menjawab 101 Masalah Nikah Beda Agama (HMM, 2012); FIQH Keluarga Lintas Agama (Kaukaba, 2013), Menggapai Ridha Ilahi Meraih Kehidupan Harmoni (Rausyan Fikr, 2013); Pendidikan HAM, Demokrasi, dan Konstitusi Bagi Penyuluh Agama-agama (ICRP-Hanns Seidel Foundation, 2014); dan Sexualitas, Agama dan Kesehatan Reproduksi (ICRP-Hivos, 2014; Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama (Elexmedia, 2015); Seksualitas & Agama: Kesehatan Reproduksi dalam Perspektif Agama-agama (Elexmedia, 2015); Peace Education dan Pendidikan Perdamaian Gus Dur (Elexmedia, 2015); Beragam Bukan Seragam 2 (YCG, 2016); Alam Takambang Jadi Guru, Ed. (YCG, 2016); dan Antara Tuhan dan Peluru Serdadu (Gramedia Pustaka Utama, 2016).

Saat ini, selain sedang menempuh program doctoral (S3), juga merupakan mengampu Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP, menulis untuk sejumlah media, menulis buku, memenuhi undangan sebagai narasumber diskusi, seminar atau workshop, serta trainer dan motivator untuk pelatihan-pelatihan peacebuilding; menulis dan jurnalistik. Aktivitas lainnya adalah bergiat pula di Yayasan Cahaya Guru, Jakarta; Pengajar “Religious Studies” Universitas Pembangunan Jaya, Tangsel; serta Tim Pengasuh Pondok Pesantren Minhajul Karomah, Bogor-Jabar dan Pesantren Nusantara, Depok-Jabar. Komunikasi dengan Nurcholish melalui: nurcholish2012@gmail.com; ponsel: 08131106 8898 dan 0877 8024 6980.

  • view 285