Sekolah Guru Kebinekaan #2

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 12 April 2017
Sekolah Guru Kebinekaan #2

  1. Latar Belakang

Selama 12 tahun terakhir, fenomena intoleransi dan diskriminasi berlatar agama menunjukan adanya masalah yang sangat serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurut Laporan Wahid Foundation 2016, terjadi pelanggaran hak beragama sebanyak 204 peristiwa atau meningkat sebesar 7% dibandingkan 2015. Sedangkan Setara institute mencatat telah terjadi 208 peristiwa kekerasan terhadap hak beragama pada 2016, meningkat dibandingkan peristiwa pelanggaran pada 2015 yang berkisar 197 peristiwa.

Masalah intoleransi dan diskriminasi berlatar agama telah merasuk ke lembaga pendidikan, baik melalui materi ajar, praktek pembiasaan, ekstra kurikuler, maupun kebijakan sekolah. Akibatnya, penguatan identitas kelompok dan sikap intoleran ditemukan di berbagai riset yang dilakukan. Dalam survey yang dilakukan oleh Wahid Foundation pada 2016, dari sebanyak 1.626 siswa, 60%-nya menyatakan siap berjihad, 10% mendukung bom sarinah, dan 6% mendukung ISIS. Sejalan dengan itu, Setara mencatat, 37% siswa di wilayah Jakarta dan Bandung masuk dalam kategori puritan, 2.4% kategori radikal, dan 0.3% kategori pro teroris. Sedangkan PPIM menemukan dalam penelitiannya pada 2016, dari 505 guru Pendidikan Agama Islam yang menjadi responden, sebanyak 78% mendukung pemberlakuan syariat Islam, sekitar 80-87% tidak setuju non-muslim menjadi pemimpin, dan 81% tudak setuju memberikan izin pendirian rumah ibadah agama lain.

 Merespon kondisi tersebut, sejak 2010 YCG fokus pada isu keragaman dan memperluas jangkauan model pendidikan efektif untuk memajukan nilai keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.  Berbagai workshop, seminar, pelatihan, serta kegiatan perjumpaan antara guru dengan komunitas agama dan kepercayaan yang beragam dilaksanakan di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Kuningan, dan Pematang Siantar.

 Sekolah Guru Kebinekaan

Tahun  2016 YCG meluncurkan program yang diberi nama Sekolah Guru Kebinekaan (SGK). Melalui Program SGK, YCG menyiapkan guru untuk membongkar paradigma yang penuh dengan prasangka, intoleran, dan diskriminatif menuju paradigma baru yang toleran dan damai. (Theory of Change).

Materi ajar SGK fokus pada pengembangan afeksi, kognisi, dan psikomotorik atas pokok bahasan seputar peran penting guru dalam pengembangan wawasan keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan, disertai pengembangan empat kompetensi dasar yang dibutuhkan dalam abad ini yaitu berpikir kritis, kreatif, kemampuan bekerja sama, dan berkomunikasi.

Model pendidikan SGK memadukan metode belajar di dalam dan di luar kelas. Model pendidikan ini didukung oleh sistem dan  tenaga pengajar ahli dalam topik-topik yang diberikan untuk menyiapkan guru sebagai rujukan nilai-nilai keragaman, kebangsaan dan kemanusiaan.

Melalui materi yang secara kontekstual dihadapi guru dalam kesehariannya, SGK menguatkan falsafah pendidikan, mengembangkan pengetahuan, dan menguatkan keterampilan guru dalam metodologi pembelajaran.

SGK angkatan pertama telah menunjukan capaian yang sangat memuaskan. Perubahan paradigma dan perilaku dapat ditunjukan oleh sebagian besar guru yang menjadi peserta. Para guru memiliki kemampuan dan keberanian mengekspresikan dukungannya terhadap keragaman baik melalui refleksi tertulis, media sosial, maupun beberapa inisiatif kegiatan.

Berdasarkan capaian dan pembelajaran SGK angkatan pertama, YGC berencana kembali menyelenggarakan SGK di 2017 dengan beberapa perbaikan dan pengembangan  materi, metode, serta kelompok sasaran.

 

  1. Tujuan

 SGK 2017 memiliki tujuan umum dan khusus, yaitu:

  1. Umum:

Mengembangkan model pendidikan  efektif dalam menyiapkan guru sebagai rujukan pengembangan wawasan keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan di lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

 

  1. Khusus:

Menguatkan falsafah pendidikan, mengembangkan pengetahuan, dan pemahaman teori pendidikan,  sejarah kebangsaan, peran guru dalam perjuangan  kemerdekaan dan keterampilan penggunaan berbagai metode pembelajaran.

 

  1. Materi dan Metode

Materi dan metode yang akan dikembangkan di dalam SGK 2017 meliputi:

  1. Materi
    • Peran Guru Dalam membangun Keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan
      • Filosofi pendidikan dan kemerdekaan berfikir
      • Peran guru dalam sejarah perjuangan kemerdekaan
    • Keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan:
      • Asal-usul manusia Indonesia
      • Keragaman dalam agama dan kepercayaan
      • Keindonesiaan dalam merawat keragaman
      • Guru dan Pancasila
      • Tantangan keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan
      • Hak beragama dan berkepercayaan
    • Strategi Pengembangan Keragaman
      • Mengelola Keragaman
      • Penguatan literasi keragaman
      • Penguatan metode pembelajaran keragaman

 

  1. Metode:

Metode yang akan dikembangkan di dalam SGK 2017 merupakan kombinasi antara beberapa pendekatan sebagai berikut:

  • Diskusi
  • Ceramah
  • Workshop penulisan
  • Kunjungan lapangan
  • Studi kasus
  • Permainan
  • Berbagi pengalaman
  • Analisa tontonan
  1. Narasumber & Fasilitator:

Sebagian besar narasumber dan fasilitator telah terlibat dalam SGK 2016, antara lain:

  • Hilmar Farid
  • HAR. Tilaar
  • Todung Mulya Lubis
  • Zainal Abidin Bagir
  • Dr. Herawati Supolo Sudoyo
  • Yudi Latif
  • Budhy Munawar-Rachman
  • Henny Supolo Sitepu, MA
  • Febionesta, SH
  • Ahmad Nurcholish, M. Ag
  • Komar, M. Hum
  • George Sicillia
  • Muhammad Mukhlisin

 

  1. Keluaran

Keluaran SGK 2017 antara lain:

  1. Terdapat sekitar 30 orang guru yang mengikuti seluruh sesi SGK
  2. Tersusunnya kompilasi pengembangan modul
  3. Tersusunnya kompilasi refleksi peserta
  4. Tersusunnya rencana aksi guru untuk pengembangan keragaman

 

  1. Hasil

Hasil yang diharapkan dari SGK 2017 antara lain:

  1. Meningkatnya pemahaman guru terkait falsafah pendidikan, dan aplikasi dalam proses pembelajaran berwawasan keragaman
  2. Adanya peran aktif guru dalam mengembangkan wawasan keragaman, kebangsaan dan kemanusiaan di lingkungan
  3. Meningkatnya jumlah guru yang dapat menjadi rujukan keragaman, kebangsaan, dan kemanusiaan

 

  1. Dampak

Dampak jangka panjang dari diselenggarakannya SGK 2017 adalah:

  1. Adanya perubahan kebijakan maupun praktek pendidikan yang lebih mendukung keragaman di sekolah.
  2. Meningkatnya toleransi terhadap keragaman di lingkungan pendidikan.

 

  1. Indikator Keberhasilan
  2. >75% peserta dapat menuliskan refleksi terhadap materi setiap pertemuan
  3. >75% peserta dapat menuliskan rencana aksi kegiatan keragaman secara konkret
  4. >50% peserta melaksanakan rencana aksi dan berbagi kepada peserta lainnya

 

  1. Anggaran

Dalam pelaksanaan kegiatan Sekolah Guru Kebinekaan, Yayasan Cahaya Guru membutuhkan anggaran dana Rp 7.500.000,-/peserta. Dana tersebut mencakup pembiayaan untuk 15x kegiatan di dalam dan di luar kelas.

 

  • Tim Pengelola

SGK 2017 dikelola oleh para pegiat di bidang pendidikan dan keragaman, terdiri dari:

  1. Penanggung Jawab : Henny Supolo Sitepu
  2. Direktur Program :             Komar
  3. Asisten Program : Sicilia Leiwakabessy dan Ahmad Nucholish
  4. Kepala Sekolah  : Muhammad Muchlisin

 

  • Kontak YCG

Teras Sebelas

Jl. Jeruk Purut No. 11, Cilandak, Jakarta Selatan

      Telp. 021  78847714/78836417 ext. 19-20

      

 

 

 

  • view 293