Siapakah Penista Agama Itu?

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 25 Februari 2017
Siapakah Penista Agama Itu?

Dalam kurun lebih 40 tahun terakhir, kasus penodaan atau penistaan agama di Tanah Air hampir memiliki ‘pola yang sama’. Dari berbagai kasus yang ada selalu dipantik dengan demonstrasi massa yang kemudian oleh penegak hukum menjadikan keresahan masyarakat ini untuk memprosesnya di meja hijau. Tak terkecuali yang terjadi pada petahana gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok.

Ahok ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian pada medium November 2016 lalu terkait dugaan penistaan agama menyangkut ucapannya soal surat Al Maidah 51 pada September sebelumnyaq di Kepulauan Seribu.

Kasus dengan tuduhan penistaan agama juga pernah menimpa Sastrawan HB Jassin tahun 1968 silam. Ia menjadi hujaman kritik setelah menerbitkan cerita pendek Langit Makin Mendung karena penggambaran Allah, Nabi Muhammad dan malaikat Jibril. Cerpen inilah yang kemudian menyebabkan kantor majalah Sastra di Jakarta diserang massa.

Dua puluh dua tahun kemudian, kasus serupa menimpa penulis dan wartawan Arswendo Atmowiloto. Tahun 1990 itu ia dijebloskan ke penjara selama 4 tahun 6 bulan setelah memuat survey di tabloid Monitor yang ia pimpin. Ia dianggap menghina agama Islam karena menempatkan Nabi Muhammad dalam survey tersebut dibawah nama dia dan presiden Soeharto.

Tahun 2008 tuduhan penistaan agama juga menimpa Syamsuriati alias Lia Eden. Pemimpin ajaran Tahta Suci Kerajaan Tuhan ini dijatuhi hukuman penjara 2 tahun 6 bulan, pada awal Juni 2008 silam. Ia dihukum atas tuduhan penistaan dan penodaan agama akibat pernyataan yang ia keluarkan bulan November hingga Desember 2008.

Dari sejumlah kasus tersebut aparat penegak hukum menjadikan keresahan masyarakat yang ditandai dengan adanya demonstrasi massa sebagai pintu masuk untuk menjerat mereka. Setelah itu barulah menggunakan Pasal 156a KUHP tentang penistaan atau penodaan agama sebagai landasan hukum untuk menghukum seseorang yang dianggap telah menistakan agama.

Diakui banyak pakar dan pengamat hukum bahwa pasal tersebut kerap menjadi  pasal karet yang tak jelas definisi dan ukurannya. Karena sangat bergantung pada subyektivitas dari aparat penegak hukum. Hal inilah yang membuat siapa sesungguhnya yang menistakan agama juga tidak jelas.

Bagi keempat orang yang saya sebutkan di atas misalnya, mereka sama sekali tak merasa tengah menistakan agama manapun. Tak terkecuali Ahok. Hal ini juga disampaikan oleh sejumlah nama lain  yang dianggap telah menistakan agama, seperti Antonius Richmond Bawengan, yang dijerat 5 tahun penjara pada 2011 silam. Dia dituduh menyebarkan sejumlah selebaran dan buku yang dianggap melecehkan keyakinan agama tertentu.

Nasib serupa juga menimpa seorang ibu rumah tangga bernama Rusgiani. Pada 2012 ia dihukum setahun dua bulan karena divonis bersalah telah menista agama Hindu. Ia dianggap menghina tempat sesaji orang Hindu di Bali. Rusgiani terbukti mengatakan: “Tuhan tidak bisa datang ke rumah ini, karena Canang itu jijik dan kotor.”

Dengan demikian jelas bahwa tuduhan penistaan agama merupakan tuduhan subyektif yang dapat merugikan siapapun yang memiliki pandangan atau tafsir berbeda dengan pandangan masyarakat pada umumnya.  Merugikan juga karena pada umumnya para tertuduh dan terhukum tersebut tak memiliki niat menistakan agama manapun.

Oleh karena itu, ada tiga hal penting yang dapat kita diskusikan lebih lanjut.  Pertama, Pasal penistaan agama dalam KUHP tersebut sudah saatnya direvisi. Keberadaannya lebih banyak merugikan bagi sebagian masyarakat yang tengah melakukan “perjalanan” mencari “kebenaran” yang boleh jadi memang berbeda dengan umumnya banyak orang.  Perjalan mencari kebenaran ini adalah bagian dari kebebasan beragama atau berkeyakinan yang dijamin oleh konstitusi kita, yakni UUD 1945 dan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Kedua, soal apakah seseorang atau  sekelompok orang itu menistakan atau tidak terhadap agama tertentu bukan berada pada wilayah manusia. Agama adalah milik Sang Maha Kuasa, maka Dia-lah yang paling berhak mengadili siapa saja yang menista maupun yang membela agama. Bukankah kita sebagai manusia tak pernah menerima mandate dari Tuhan untuk menjadi hakim bagi manusia lainnya?

Ketiga, jika kita mau cermat dan jujur pada nurani kita masing-masing, maka tanpa kita sadari dalam sejumlah hal, baik sengaja maupun tidak sengaja, justru bisa dikatakan sebagai penista agama. Ialah mereka yang mengaku beragama, tahu betul syariat atau ajaran-ajaran di dalamnya tetapi sadar atau tidak kerap melanggarnya.

Sebagai contoh, korupsi yang dilakukan oleh para pejabat Negara jelas merugikan banyak orang dan Negara itu sendiri. Sementara setiap pejabat sebelum menjalankan amanat jabatannya selalu disumpah dengan Kitab Suci sesuai agamanya. Artinya, mereka mestinya berkomitmen untuk menjaga amanah tersebut agar tidak melanggar aturan hukum Negara maupun hukum dalam ajaran agama mereka. Jika itu dilanggar bukankah sama saja mereka telah menistakan agamanya?

Contoh lain juga banyak dilakukan oleh para pemimpin agama itu sendiri. Semua agama mengajarkan toleransi dan perdamaian. Tetapi betapa banyak tokoh-tokoh agama, para pemimpin umat justru memprovokasi umatnya untuk melakukan tindakan intoleran bahkan melakukan kekerasan? Anehnya mereka sama sekali tak merasa bahwa hal itulah yang sesungguhnya bisa jadi menistakan agama. Wallahua'lam.

Ahmad Nurcholish, Koordinator Studi Agama dan Perdamaian Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan pengajar Studi Agama Universitas Pembangunan Jaya (UPJ).

 

  • view 436