Pahlawan Perdamaian

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Motivasi
dipublikasikan 10 November 2016
Pahlawan Perdamaian

“Pahlawan bukan hanya mereka yang berhasil menangani konflik dan kekerasan antar anak bangsa, tapi juga mereka yang berhasil mencegah adanya konflik dan kekerasan”

Akhir bulan lalu saya berkesempatan hadir di acara Peace Camp (kemah perdamaian) di Bali bertema “From Bali With Peace”. Perhelatan yang diikuti oleh 70-an peserta berlatar belakang etnis, suku dan agama yang berbeda ini kembali menumbuhkan optimisme saya dalam menyongsong Indonesia damai.

Ke 70-an orang tersebut, selain berasal dari Bali itu sendiri, tapi juga  datang dari Medan - Sumut, Batam, Jakarta, Banten, Gorontalo, Bitung, Jateng, DI Yogyakarta Jatim, NTT, NTB, bahkan dari Papua. Mereka mengikuti acara tersebut dengan semangat dan tujuan yang sama, yakni belajar memahami kembali pentingnya perdamaian dan memiliki keterampilan untuk menerapkannya di lapangan.

 Sejumlah fasilitator dan narasumber dihadirkan dalam acara yang berlangsung pada 28 – 30 Oktober 2016 ini. Selain ada Bung Andy yang menjadi penggagas terdepan sekaligus punggawa bagi rekan-rekan Peace Generation Bali, juga ada Bung Iskhak Ismail dari Gorontalo dan Bung Suka Pandia dari Peace Gen Bandung.

Saya sendiri yang diundang juga sebagai fasilitator dan narasumber sempat membawakan tiga sesi materi. Salah satunya saya beri tajuk “Merayakan Kebinekaan, Merajut Perdamaian”. Materi ini juga kerap saya sampaikan dalam berbagai kesempatan di sejumlah daerah di Indonesia.

Yang menarik bagi saya dalam kegiatan ini adalah semangat para peserta dan panitia yang berhasil menghelat acara ini menjadi bernas dan menginspirasi mereka untuk melanjutkan dan mengembangkannya di daerah masing-masing. Ini tertangkap ketika sesi akhir digelar, yakni dengan merancang program atau kegiatan lanjutan usai mengikuti Peace Camp kali ini.

Dalam sesi Rencana Tindak Lanjut (RTL), peserta melakukan diskusi kelompok berdasarkan daerah yang sama. Jadilah 6 kelompok yang masing-masing merancang kegiatan lanjutan untuk dapat dilaksanakan di daerah masing-masing. Inilah sesi yang membuat saya harus berbangga, sebab semuanya tak mau berhenti di Bali, tapi berlanjut ke semua daerah di seluruh Tanah Air.

Apa yang bisa kita petik dari Peace Camp Bali ini? Paling tidak ada tiga hal penting yang dapat saya share di ruangan ini.

Pertama, adanya kerinduan hidup bersama dalam perbedaan. Kita sama-sama tahu bahwa Indonesia ini ada ustru kartena adanya perbedaan (kebinekaan). Oleh karena itu sangat tepat jika para pendiri bangsa ini meneguhkannya dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Artinya bahwa kesadaran untuk tetap menghargai dan menghormati perbedaan di antara kita sudah tumbuh sejak awal mula bangsa dan negera ini didirikan.

Namun dalam perjalannya, kebinekaan yang ada di sekeliling kita tak selamanya menghadirkan harmoni kehidupan. Konflik dan kekerasan mewarnai perjalanan kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari situlah muncul saling curiga, tak ada kepercayaan antara satu dengan lainnya, dan sebaginya yang berujung pada konflik dan kekerasan.

Menyadari hal tersebut, para peserta nampaknya tak ingin hal itu terus berlangsung. Mereka menginginkan perbedaan yang ada justru harus disyukuri, diapresiasi sehingga menjadi kekuatan bersama dan menjadi keindahan dalam harmoni.

Kedua, memahami pentingnya kaderisasi. Kerja-kerja atau ikhtiar perdamaian disadari bukan sebuah pekerjaan adhoc. Melainkan kerja panjang yang harus dilakukan terus-menerus. Oleh karena itu, dalam rangkaian Peace Camp ini panitia juga menghelat Trainning for Trainer. Tujuannya tidak lain agar penggiat toleransi dan perdamaian tak putus di tengah jalan. Selalu ada orang-orang yang siap melanjutkan untuk kerja-kerja berikutnya.

Tantangan terhadap upaya mewujudkan harmoni Indonesia memang tak berkesudahan. Banyak pihak yang justru menciderai kebinekaan dengan cara mengadu domba antar sesama anak bangsa, sengaja atau tidak. Dampaknya adalah alih-alih dapat mencegah adanya konflik dan kekerasan, mengurai dan menangani konflik yang ada kadang tak kunjung terselesaikan.

Maka, perlu adanya orang-orang atau komunitas yang tak mengenal rasa lelah untuk senantiasa memetakan, memahami, mengurai sekaligus menemukan solusi bagi adanya onflik dan kekerasan yang masih menjadi ancaman laten. Hanya dengan itulah kita tak perlu merasa khawatir terhadap kerja-kerja mewujudkan perdamaian.

Ketiga, menuju damai positif. Dalam kerangka Johan Galtung, Indonesia kita ini masih dalam posisi damai negative (negative peace), yakni tiadanya konflik dan perang. Kalau toh kadang masih meletup, paling tidak dapat segera ditangani dengan baik tanpa harus meletup berkepanjangan. Hal ini karena kita telah belajar banyak dalam menangani setiap konflik dan kekerasan di masa-masa sebelumnya.

Yang perlu kita lakuan adalah bagaimana kita dapat menuju kondisi damai positif (positive peace) di mana tidak ada lagi potensi konflik dan perang antar sesama anak bangsa. Ini tentu tidak mudah. Karena itu harus diupayakan oleh banyak orang maupun kelompok masyarakat. di sinilah maka keberadaan kegiatan-kegiatan seperi Peace Camp menjadi penting. Sebab ia telah menciptakan ruang perjumpaan bagi para penggiat pedamaian (peacemaker) sekaligus bertukar ide atau gagasan untuk kerja-kerja berkelanjutan.

Mereka inilah yang saya sebut sebagai pahlawan perdamaian, yakni siapa saja yang menghibahkan dirinya bagi ikhtiar mencegah terjadinya konflik dan kekerasan. Ini memeng bukan pekerjaan mudah. Tapi harus terus kita upayakan demi Indonesia dan dunia yang lebibh menentramkan!

Ahmad Nurcholish, pengampu Studi Agama dan Perdamaian ICRP, penulis buku “Pendidikan Perdamaian Gus Dur (Elexmedia - Kompas Gramedia, 2015).

 

 

 

  • view 388