Takwa: Perjumpaan Spiritual Agama-Agama (Bagian II)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 31 Januari 2016
Takwa: Perjumpaan Spiritual Agama-Agama (Bagian II)

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Maka dari itu, jika al-Qur?an ? bahkan semua Kitab Suci ? merupakan ?pesan keagamaan,? maka al-Qur?an bagi seorang Muslim, adalah pesan-Nya yang terakhir, dan dalam kaitannya dengan pesan-pesan sebelumnya dalam Kitab-kitab Suci masa lalu, al-Qur?an itu dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., yang dalam pandangan teologi Islam sebagai ?penutup? (khatam) segala Nabi dan Rasul. Pengertian ?penutup? di sini, berkaitan dengan klaim argument Islam sebagai ?agama terakhir?. Dalam al-Qur?an kata ?khatam? secara harfiah berarti ?cincin,? yaitu cincin pengesah dokumen (seal). (QS. al-Ahzab [33]: 40)

Fungsi Nabi Muhammad Saw terhadap para Nabi dan Rasul sebelum beliau, member pengesahan kepada kebenaran Kitab-KItab Suci dan ajaran mereka. Al-Qur?an adalah pembenar (mushaddiq), penguji (muhaymin) dan pengoreksi (furqan) atas penyimpangan yang terjadi dari pada para pengikut kitab-kitab itu. (Tentang hal ini lihat, Nurcholish Madjid, ?Konsep Muhammad Saw sebagai Penutup Para Nabi: Implikasinya dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan? dalam Budhy Munawar-Rachman (ed), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, 1995: 529.

Yang perlu kita sadari adalah bahwa pernyataan ini merupakan sebuah pandangan teologis ? yang karena merupakan sebuah pandangan teologis maka di sini termuat sebuah klaim kebenaran yang khas Islam. Dan kalau kita bicara agama, maka setiap agama memiliki klaim kebenaran sejenis ini, dan karena itulah, seperti disampaikan Budhy Munawar-Rachman, setiap klaim kebenaran dalam agama apa pun, mempunyai persoalan filosofis dan teologis yang sama. Tentang abash tidaknya klaim seperti ini, telah menimbulkan perdebatan berabad-abad, yang akan mempunyai implikasi pandangan agama tersebut terhadap agama lain. Budhy sendiri, sebagai murid ideologis Cak Nur, dalam melihat persoalan ini, mengikuti pandangan yang lebih pluralis ? jadi lebih dari sekedar inklusif.

Pandangan-pandangan pluralis Budhy ini, sebagaimana diakuinya, misalnya mengikuti Farid Esack, Qur?an, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Againt Oppression (Oxford: One World, 1997), h. 146-178 (Bab ?The Qur?an & The Other: Pluralism and Justice?). Juga Charles Kimball, Striving Together, A Way Forward in Christian-Muslim Relations, (Maykoll, NY: Orbis Books, 1991: 78-80).

Dan antagonisnya adalah, pandangan-pandangan yang sering muncul dalam tafsir-tafsir klasik, yang menyatakan kedatangan al-Qur?an menghapuskan (me-naskh) keabsahan Kitab-kitab sebelumnya, adalah tidak ada dalam al-Qur?an sendiri. Itu hanyalah tafsiran dan prasangka para penafsir itu.

Harus diakui, bahwa kerap-kali umat Islam tidak tahan membaca pandangan al-Qur?an yang secara eksplisit jelas-jelas inklusif, bahkan malah pluralis, yang memberi tempat keselamatan sejajar dengan Islam sendiri. Dari segi iklusifnya, penafsiran terhadap ayat-ayat di atas yang menegaskan titik temu antar-agama menuntut, pertama, bahwa para penganut agama, dalam hal ini Yahudi dan Kristiani, harus menjalankan kebenaran yang diberikan Allah pada mereka, melalui Kitab-kitab mereka itu ? dan kalau mereka tidak melakukan hal tersebut, maka mereka adalah kafir dan zalim. (BMR, Islam Pluralis, h. 25). Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur?an, s. al-Maidah [5]: 44 dan 47:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab taurat, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, yang dengan Kitab itu nabi-nabi yang islam (pasrah kepada Allah) menetapkan hokum bagi orang-orang Yahudi, begitu juga parapendeta dan ulama mengikuti Kitab yang mereka diperintahkan untuk menjaganya, dan mereka sendiri dahulu adalah saksi atas hal itu. Oleh itu ? wahai kaum Yahudi ? janganlah kamu takut kepada manusia, melainkan takutlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menjual ajaran-ajaran-Ku dengan harga murah. Barangsiapa yang tidak menjalankan hukum dengan apa yang telah aku turunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.

Dan hendaklah para pengikut Injil menjalankan hukum (ajaran) dengan apa yang telah diurunkan oleh Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak menjalankan hukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Juga al-Qur?an, s. al-Maidah [5]: 66,

Dan kalau mereka bersungguh-sungguh menegakkan Taurat da Injil serta apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan makan ? mendapat kemakmuran ? dari atas mereka ? langit, dan dari bawah kaki mereka ? bumi. Di antara mereka ada umat yang lurus, dan banyak dari mereka buruk apa yang mereka perbuat.

Dari ayat-ayat di atas, maka, yang Kedua, al-Qur?a jelas mendukung kebenaran dasar Kitab Suci itu, tetapi al-Qur?an juga akan mengujinya dari kemungkinan penyimpangan, termasuk kepada kaum Muslim sendiri atas ajaran-ajaran keislamannya. Karena itulah bagi kaum Muslim, al-Qur?an mengajarkan kontiunitas, dan sekaligus perkembangan dari agama-agama sebelum Islam. (Ibid.)

Dalam hal ini manarik kiranya kita menyimak pemaparan Nurcholish Madjid mengenai arti dan segi konsekuensial dari adanya kontinuitas dan perkembangan agama itu. Berikut ulasan Cak Nur:

?

Jadi, suatu agama, seperti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ? yang memang secara sadar dari semula disebut [Islam] agama sikap pasrah sempurna kepada Allah - ?.adalah tidak unik (dalam arti, tidak berdiri sendiri dan terpisah). Dia berada dalam garis kelanjutan dengan agama-agama lain. Hanya saja, seperti halnya dengan semua yang hidup dan tumbuh, agama itu pun, dalam perjalanan sejarahnya, juga berkembang dan tumbuh, sehingga kahirnya mencapai kesempurnaan dalam agama Nabi Muhammad, Rasul Allah yang penghabisan, yang tiada lagi Rasul sesudah beliau. Maka, seperti kata Ibn Rusyd dalam bagian terakhir kitabnya, Tahafut al-Tahafut, meskipun pada esensinya agama itu semua sama, namun manusia pada zaman tertentu mempunyai kewajiban moral untuk memilih tingkat perkembangannya yang paling akhir saat itu. Dan perkembangannya yang terakhir agama-agama itu, ialah agama Muhammad. Namun tetap, dalam kesadaran akan kesatuan asal agama-agama, kita diwajibkan beriman kepada semua Nabi, tanpa membeda-bedakan antara mereka, dan pasrah kepada Allah? (Nurcholish Madjid, ?Islam, Agama Manusia Sepanjang Masa,? dalam Pintu-pintu Menuju Tuhan, 1994: 3).

Aspek kebenaran yang didukung dan dilindungi al-Qur?an ini adalah kebenaran asasi yang menjadi inti semua agama Allah. Al-Qur?an member istilah al-din (ketundukan, kepatuhan, ketaatan) yang mengandung makna tidak hanya hukum agama tertentu, tetapi juga kebenaran-kebenaran spiritual asasi yang tidak berubah-ubah ? yang merupakan hakikat primordial manusia.

Tentang istilah al-din, Nurcholish Madjid menjelaskannya sebagai berikut:

?Apa itu ?din? Secara kebahasaan din artinya tunduk dan patuh?yang diomaksug ialah, tunduk dan patuh kepada Allah, Pencipta alam semesta ? yang tunduk dan patuh itu tidak lain adalah pelaksanaan perjanjian primordial. Dan jika disebut ?tunduk dan patuh? maka dalam maknanya yang luas meliputi keseluruhan tingkah laku kita dalam hidup ini, yang harus tidak lepas dari tujuan untuk mengabdi atau beribadah kepada Tuhan. Kemudian dalam wujud hariannya, ?tunduk dan patuh? kepada Tuhan yang merupakan inti agama itu, mengarahkan seluruh poekerjaan kita untuk mencapai ridla Allah. Akibatnya ialah bahwa kita harus berbuat sebaik mungkin dalam kegiatan hidup kita, sebab Allah sudah barang tentu member ridla hanya perbuatan baik saja dan tidak member ridla yang sebaliknya. Itulah amal-amal saleh, dan itu pulalah budi pekerti luhur. Karena itu, berusaha berbuat baik guna mencapai ridla Allah dan dalam rangka tunduk dan patuh kepada-Nya, adalah perbuatan primordial. Karena itu dia merupakan pelaksanaan perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia?? (Nurcholish Madjid, ?Primordial,? dalam Pintu-pintu Menuju Tuhan, h. 233)

?Kebenaran primordial? ini, demikian jelas Budhy Munawar-Rachman, adalah kebenaran yang perennial, yang seperti dikatakan Qur?an telah diajarkan kepada setiap Nabi dan Rasul, sebuah pandangan hidup untuk tunduk hanya kepada Allah. (BMR, Islam Pluralis, 27). Hal ini sebagaimana termaktub dalam al-Qur?an,

?Patutkah mereka mencari (pandangan hidup) selain tunduk kepada Allah?! Padahal kepada-Nya telah pasrah sekalian makhluk yang ada di seluruh langit dan bumi, baik dengan sukarela ataupun terpaksa, dan kepada-Nya pula semua dikembalikan. Katakanlah (wahai Muhammad): ?Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang telah diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang telah diturunkan kepada Ibrahim, Isma?il, Ishaq, Ya?qub beserta keturunannya, dan kepada apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isam, serta kepada sekalian para nabi, dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kepada Allah jualah kami berserah diri.? Barang siapa mencari selain ajaran pasrah kepada Allah (al-islam) sebagai ajaran ketundukan (din, ?agama?), maka tidak akan diterima daripadanya, dan di akhirat tergolong mereka yang menyesal.? (QS. ?Ali ?Imran [3]: 83-85)

Tetapi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, para Nabi dan Rasul itu sebenarnya tidak membawa system hukum (syir?ah, syari?ah) ataupun cara hidup (minhaj, way of life) yang sama. Perbedaan segi ini, dalam pandangan al-Qur?an, justru merupakan dasar kenyataan pluralitas agama-agama, yang menurut sudut pandang teologi Islam ini memang menjadi kehendak Allah. Seperti ayat di atas, ?Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi, seluruhnya! Maka apakah engkau (hai Muhammad) akan memaksa manusa sehingga mereka beriman semua?! (QS. Yunus [10]: 99). Selesai.

Sumber gambar: kompasiana.com

?

Ahmad Nurcholish, Manajer Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP, Jakarta; Dewan Pengasuh Pesantren Nusantara, Depok-Jabar

?

  • view 232