Takwa: Perjumpaan Spiritual Agama-Agama (Bagian I)

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 31 Januari 2016
Takwa: Perjumpaan Spiritual Agama-Agama (Bagian I)

Oleh Ahmad Nurcholish

?

Sebagaimana pula agama Yahudi dan Kristen, Islam adalah ?Agama Perjanjian?. Seluruh dasar perjanjian Allah-manusia itu terutama dalam kitab suci yang merupakan wahyu Allah kepada manusia. Dalam agama Islam, seperti dipaparkan Budhy Munawar-Rachman/BMR (Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, 2001: 16-17), dasar pemahaman pemahaman mengenai wahyu itu adalah apa yang disebut ?pesan keagamaan? atau ?pesan dasar? (risalah asasiyah) Islam, yang pada pokoknya meliputi perjanjian dengan Allah (?ahd, ?aqd, mitsaq), sikap pasrah kepada-Nya (islam), dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa, rabbaniyah).

Pesan-pesan dasariah agama ini, menurut Budhy, bersifat universal dan berlaku untuk semua manusia, dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama ? justru karena memang agama-agama dengan caranya sendiri-sendiri mengajarkan soal-soal tersebut. Bahkan ?sebagai hukum dasar dari Tuhan, pesan dasar itu meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya, di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja.?

Mengenai ketiga pesan dasar tersebut, Cak Nur menjelaskan:

?Ketiga pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan social yang nyata, yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat, [dalam terjemahan ini] maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. Oleh karena itu tindaka menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa. Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama, maka ditegaskan bahwa menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia.? (Nurcholish Madjid, Beberapa dasar Pandangan Kontemporer tentang Fiqh: Sebuah Telaah tentang Polemik Hukum Islam di Zaman Modern, 1991: 19; BMR, Islam Pluralis, h. 17).

Dalam pandangan teologi umat Islam, Budhy menjelaskan, al-Qur?an itu adalah ?pesan keagamaan? yang harus selalu dirujuk dalam kehidupan keagamaan seorang Muslim. Pandangan ini mengacu kepada sebuah hadits Nabi saw., al-diinu nashihah, ?agama itu adalah nasihat? ?agama adalah sebuah pesan. Dalam al-Qur?an pun ada penegasan, bahwa pesan keagamaan ? merupakan pokok pandangan hidup Islam itu ? sama untuk para pengikut Nabi Muhammad saw., dan mereka yang menerima Kitab Suci sebelumnya, yaitu pesan untuk bertakwa kepada Allah. (Ibid.)

?Dan sungguh, telah Kami perintahkan kepada mereka, Ahli Kitab sebelum kamu, juga kepada kamu, supaya bertakwa kepada Allah?? (QS. Al-Nisa? [4]: 131).

Ayat ini menegaskan bahwa pesan keagamaan itu adalah pesan untuk bertakwa (taqwa) kepada Tuhan. Yang menarik adalah, dari segi inklusif dan pluralis, al-Qur?an itu adalah ayat ? yakni pertanda, perlambang atau simbol. Dalam hal ini Netton mengatakan, ?Al-Qur?an itu penuh dengan rujukan kepada ayat-ayat (yakni, perlambang-perlambang) Tuhan.? (Lihat, Ian Richard Netton, Allah Trancendent in the Structure and Semiotics of Islamic Philosophy, Richmond, Sureey, 1989: 321. Yang menarik dari ungkapan Netton, menurut Budhy adalah ia mengatakan bahwa dalam pengertian ini, al-Qur?an dapat digambarkan sebagai surga sebenarnya bagi para ahli semiotika. Lihat, BMR, Islam Pluralis, h. 18).

Jika pesan keagamaan yang merupakan pokok pandangan hidup Islam itu, sama untuk para pengikut Nabi Muhammad saw., dan mereka yang menerima Kitab Suci sebelumnya, sebagaimana dikatakan di atas, maka dalam akidah Islam pada dasarnya semua agama adalah ayat Tuhan, yang hendak membawa setiap pengikutnya kepada kehidupan takwa, kehidupan dalam kehadiran dengan dan dalam Tuhan.

Melihat begitu pentingnya arti takwa ini, Dawam Raharjo menjelaskannya sebagai berikut:

? Taqwa, [walaupun] menyangkut hubungan manusia dan Tuhan, tetapi implikasi taqwa bersifat kemanusiaan. Apabila orang ber-taqwa kepada Tuhan, maka implikasinya adalah bersikap adil ?terhadap sesama manusia. Sikap taqwa akan menyelamatkan seseorang dari kekerdilan jiwa?

???? Taqwa di satu pihak mencakup pengertian iman kepada Allah, hari Akhir, para malaikat, kitab-kitab dan para nabi terdahulu, di lain pihak disinonimkan denga nilai?.atau kebajikan seperti memberikan hartanya karena cinta kepada Allah, yang diwujudkan dengan kasih kepada sanak-keluarga, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dan untuk memerdekakan budak; juga diwujudkan dalam menegakkan shalat dan membayar zakat; dicerminkan dalam perilaku yang menepati janji tatkala sudah mengikat janji, dan sabar pada waktu mendapat kesulitan atau mengalami kesengsaraan di waktu perang. Orang-orang dengan sikap dan perilaku seperti itu disebut orang-orang yang lurus (shadiqun). Dan itu pula lah yang disebut orang-orang yang ber-taqwa.

???? Taqwa adalah sebuah dasar kemanusiaan. Taqwa menyatakan seluruh kemanusiaan. Hal ini hanya bias dilihat lebih jelas secara historis. Dalam sejarah umpamanya, bangsa Yahudi pernah mengklaim sebagai bangsa kinasih Tuhan. Sekarang masih ada saja bangsa-bangsa yang merasa dirinya lebih tinggi atau terunggul di atas bangsa-bangsa yang lain, hanya karena warna kulit, rasa tau keturunan. Klaim seperti ini ditiadakan oleh al-Qur?an seperti dinyatakan dalam surat al-Hujarat /49: 13. (M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur?an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, 1996: 165-167)

Jika kita mencermati pesan ketakwaan sebagaimana diuraikan di atas, maka, menurut Budhy (h. 20), pada prinsipnya sama untuk semua umat manusia. Sehingga pesan kepada takwa ini dalam pandangan Islam, bersifat universal. Di sinilah, dalam argument keuniversalan pesan keagamaan tersebut, memunculkan arti kesamaan hakikat semua pesan Tuhan. Tetapi arti ?kesamaa agama? di sini bukan kesamaan dalam arti formal dalam aturan-aturan positif yang sering diacu sebagai istilah agama Islam syari?ah, bahkan tidak juga dalam pokok-pokok keyakinan tertentu. Sebab, Islam par exellance memiliki segi-segi perbedaan dengan misalnya agama Yahudi dan Kristiani, dua agama yang paling dekat karena sama-sama berasal dari millah Ibrahim. Beberapa ayat al-Qur?an berikut menandaskan mengenai kesamaan hakikat ini, dan implikasi-implikasinya:

Dan bagi tiap-tiap umat ada arah yang ia menghadap kepadanya. Maka berpaculah kamu dalam berbagai kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 148).

Untuk setiap umat di antara kamu, Kami telah berikan aturan dan jalan. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Ia jadikan kamu umat yang tunggal. Tetapi Ia hendak menguji kamu berkenaan dengan yang telah Ia anugerahka kepada kamu. Maka berpaculah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah kembalimu semua, kemudia Ia akan jelaskan kepadamu tentang segala hal yang kamu pernah berselisih di dalamnya itu. (QS. Al-Maidah [5]: 48).

Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi, seluruhnya! Maka apakah engkau (hai Muhammad) akan memaksa manusia sehingga mereka beriman semua?! (QS. Yunus [10]: 99).

Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya jalan hidup yang benar telah jelas berbeda dari jalan hidup yang sesat. Maka barang siapa ingkar kepada tirani dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat, yang tidak akan putus. Da Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Jadi, pengertian ?kesamaan? di sini adalah kesamaan dalam hal yang di atas disebut ?pesan dasar?. Al-Qur?an menyebutnya dengan kata ?washiyah? yaitu ? seperti diistilahkan ? ?ajakan untuk menemukan dasar-dasar kepercayaan? yaitu sikap hidup yang hanif, atau lengkapnya al-hanifiyat al-samhah yang arti literalnya ?semangat kebenaran yang toleran,? sebagaimana diungkapkan hadits berikut ini,

Ibn ?Abbas menuturkan bahwa Nabi Saw., ditanya, ?Agama mana yang paling dicintai Allah?? Nabi menjawab, ?Semangat kebenaran yang toleran (al-hanifiyat al-samhah).? (HR. Imam Ahmad).

?Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, ?Hari ini pastilah kaum Yahudi tahu bahwa dalam agama kita ada kelapangan. Sesungguhnya aku ini diutus dengan semangat kebenaran yang toleran (al-hanifiyat al-samhah).? (HR. Imam Ahmad)

Lantas, bagaimanakah pengertian alhanifiyat al-samhah itu? Hadits berikut kiranya akan memberikan gambaran yang jelas,

Dari Abu Umamah, dia bercerita, ?Kami keluar bersama Rasulullah Saw., dalam salah satu ekspedisi beliau, kemudian seseorang melewati sebuah gua yang di situ ada air. Orang itu berkata pada dirinya sendiri untuk tinggal dalam gua itu dengan jaminan hidup dari air yang ada dan memakan tetumbuhan di sekitarnya kemudian melepaskan diri dari dunia. Lalu orang itu berkata, ?Kalau nanti aku bertemu Nabi Allah Saw aku akan ceritakan perkara itu kepada beliau. Kalau beliau ijinkan, aku akan lakukan, kalau tidak, tidak.? Maka datanglah ia menemui beliau (Nabi), lalu berkata, ?Wahai Nabi Allah, aku melewati sebuah gua yang di situ ada air dan tetumbuhan yang menjamin hidupku. Maka aku pun berkata kepada diriku sendiri untuk tinggal di gua itu dan melepaskan diri dari dunia. Orang itu menuturkan bahwa Nabi Saw menjawab, ?Aku tidak diutus dengan keyahudian, juga tidak dengan kekristenan. Akan tetapi aku diutus dengan kehanifan yang lapang (al-hanifiyat al-samhah). Demi Dia yang jiwa Muhammad ada di tanga-Nya, pergi pagi dan pulang petang di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya. Pastilah berdiri tegaknya seseorang di antara kamu (dalam barisan perjuangan) adalah lebih baik daripada sembahyangnya selama enampuluh tahun.? (HR. Imam Ahmad)

Sikap hidup yang demikian (hanif) ini yang dalam bahasa teologi Islam justru termuat dalam ajaran tawhid. Ajaran lain menyangkut titik persamaan tersebut ? setelah tawhid ? misalnya sebagaimaa tercantum dalam al-Qur?an surat al-An?am [6]: 151-153:

Katakanlah: Mari kubacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Janganlah mempersekutukan-Nya dengan apa pun; dan berbuatlah baik kepada ibu-bapakmu; janganlah membunuh anak-anakmu karena dalih kemiskinan. Kami member rezeki kepadamu dan kepada mereka. Janganlah lakukan perbuatan keji yang terbuka ataupun yang tersembunyi; janganlah hilangkan nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan adil dan menurut hokum. Demikian Dia memerintahkan kamu supaya kamu mengerti.

Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali untuk memperbaikinya dengan cara yang lebih baik, sampai ia mencapai usa dewasa. Penuhilah takaran dan neraca dengan adil; kami tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya; dan bila kamu berbicara berbicaralah sejujurnya, sekalipun mengenai kerabat; dan penuhilah janji dengan Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kamu supaya kamu ingat.

Pada ayat-ayat tersebut, Budhy Munawar-Rachman (Islam Pluralis, h. 22) memberikan catatan bahwa inilah alasannya mengapa firman Tuhan dalam ayat-ayat ini, tawhid, ada pada urutan pertama ? artinya merupakan sesuatu yang sangat menentukan masa depan agama itu sendiri, dihadapan ancaman mitologis; disusul berbagai ketentuan kehidupan bermoral lain. Bersambung? [ ]

Sumber gambar: pusakaindonesia.org

?Ahmad Nurcholish, Manajer Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP, Jakarta; Dewan Pengasuh Pesantren Nusantara, Depok-Jabar

?

?

  • view 479