Tiga Tantangan Wujudkan Perdamaian

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 21 September 2016
Tiga Tantangan Wujudkan Perdamaian

Setiap tanggal 21 September kita memeringati Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace). Ini merpakan momen di mana setiap manusia di belahan dunia mana pun harus berupaya memperkuat terwujudnya perdamaian di muka bumi.

Perdamaian memang menjadi dambaan setiap manusia. Termasuk kita yang menghuni Tanah Air Indonesia. Sebagai bangsa yang majemuk, tantangan terhadap upaya-upaya mewujudkan perdamaian tak pernah hilang. Bahkan, dalam, beberapa decade belakangan ini, tantangan tersebut kian menguat. Paling tidak ada tiga tantangan utama yang harus kita respon bersama sehingga kelak dapat kita minimalisir.

 Pertama, menguatnya kelompok radikal-keagamaan yang bekerja secara massif. Mereka merupakan kelompk atau komunitas berbasis agama yang memahami teks-teks keagamaan secara literal-tekstual sehingga menghasilkan praktik keagamaan yang cenderung ekskluisf-radikal.

Parahnya lagi, mereka juga cenderung memahami teks-teks atau doktrin keagamaan yang sesuai dengan kepentingan “politik” mereka saja. Misalnya seputar “jihad” yang kerap dimaknai sebagai perang melawan orang-orang “kafir”. “Jihad” yang pada mulanya memiliki kemajemukan arti dipersempit hanya menjadi “perang” saja. Padahal, dalam literature Islam klasik, “perang” memiliki terma tersendiri, yakni “qital”.

Jihad menjadi landasan pokok dan utama bagi perjuangan mereka menegakkan “syariat”, mendirikan “khilafah”, dan seterusnya itu. Tentu “syariat” dan “khilafah” di sini sebatas pemahamn mereka saja dengan mengabaikan pemahaman atau tafsir di luar kelompok  mereka.

Oleh karena “jihad” dimaknai secara sempit, maka buahnya adalah perilaku radikal yang menghalakkan kekerasan. Terlebih ketika kekerasan tersebut ditunjukan kepada orang-orang atau kelompok di luar  mereka yang dianggap “kafir”. Kafir tak hanya disematkan pada orang-orang non-muslim, tapi juga orang-orang Islam yang tak sama pemahamannya dengan mereka itu.

Model keberagamaan seperti itulah yang mendorong praktik keagamaan yang cenderung radikal. Tidak hanya dalam pemikiran tapi juga implementsi di lapangan. Dengan jargon ‘amar ma’ruf nahi munkar, mereka merasa boleh untuk menyerang, melukai, bahkan membunuh siapa saja yang anggap sesat dan kafir.

 Kedua, pendidikan agama eksklusif-doktrinal. Bukan rahasia lagi bahwa model pendidikan agama yang diterapkan baik di lembaga formal maupun non-formal cenderung bersifat eksklusif-doktrinal. Artinya, hanya menekankan pada penguatan keyakinan bahwa agama yang paling benar adalah keyakinan yang dipeluknya. Sementara, dalam waktu bersamaan digelorakan bahwa keyakinan orang lain itu salah, sesat dan tak akan diterima oleh Tuhan.

 Model pendidikan keagamaan seperti ini hanya akan melahirkan generasi yang eksklusif pula. Tak hanya itu, oleh karena adanya klaim kebenaran yang hanya sepihak, eksklusifisme itu akan termanifestasi dalam tindakan mereka di tengah masyarakat dimana menmgarah pada tindakan radikal yang menghalalkan intoleransi dan kekerasan.

Maka, yang perlu dilakukan adalah bagaimana merubah paradigm eksklusif dal;am pendidikan keagamaan ke arah model pendidikan agama yang inklusif dan pluralis. Tanpa upaya ini saya kira tinggal menunggu waktu saja bahwa kelak negeri ini hanya akan diisi oleh mereka yang berpola pikir eksklusif-radikal. Dan ini sama sekali tak mendukung upaya-upaya mewujudkan pedamaian.

Ketiga, menguatnya kelompok “mayoritas diam” (silent majority).  Kian maraknya kelompok radikal sangat boleh jadi disebabkan keberadaan kelompok mayoritas yang diam saja.  Mereka hanya mengatakan “prihatin”, “mengutuk keras” dan “menyayangkan” tindakan kekerasan atau radikalisme (agama) yang kerap terjadi di tengtah masyarakat.

Rasanya tak cukup hanya pernyataan seperti itu. Kelompk radikal ini sebetulnya secara kuantitatif tak banyak jumlahnya. Masih jauh lebih banyak kelompok keagamaan yang memiliki karakter keagamaan yang lebih inklusif atau oderat. Tetapi karena kelompok moderat ini banyak diamnya, maka gerak-sepak kelompok radikallah yang kian mengemuka.

Akhirnya, kelompok-kelompok radikal ini merasa mendapatkan tempat, sebab tak banyak yang melawan mereka. Masyarakat awam akhirnya juga gamang: ini yang bener yang mana? Maka, sudah waktunya kelompok mayoritas moderat ini tak hanya kencang bersuara, tapi juga berbuat konkrit meghalau gerakan-gerakan radikal sebagaimana selama ini terjadi.

Tentu saja banyak hal lain yang harus kita perhatikan pula. Misalnya kerjasama antar lembaga/NGO/CSO yang bergerak di bidang pembangunan perdamaian untuk saling bersinergi. Tak jalan sendiri-sendiri sesuai agenda masing-masing. Langkah sinergis akan membantu kerja-kerja peacebuilding berjalan efektif. Juga bekerjasama dengan kelompok atau elemen masyarakat lain yang memiliki perhatian yang sama terhadap perdamaian.

 Mengapa harus begitu? Sebab kerja-kerja mewujudkan perdamaian harus dilakukan bersama-sama seluruh elemen bangsa. Maka, semua orang pun harus memiliki andil dalam kerja-kerja tersebut.

Ahmad Nurcholish, pengampu Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP

  • view 296