Haji Mabrur dan Kepekaan Sosial

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 11 September 2016
Haji Mabrur dan Kepekaan Sosial

“…tidak ada balasan bagi haji mabrur, kecuali surga.”

 

DEMIKIAN bunyi hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dengan kata lain surgalah tempat yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur. Pertanyaan menariknya adalah, mengapa haji mabrur langsung diiming-imingi surga? Mabrur yang tertuang dalam hadis inilah yang patut kita pahami dan renungkan bersama.

 

Cerita menarik bergulir di kalangan sufi tentang haji mabrur ini. Alkisah, sepasang suami-istri memiliki niat yang amat kuat untuk menunaikan ibadah haji. Dengan susah payah pasangan ini mengumpulkan bekal. Mengingat kala itu naik haji harus ditempuh melalui jalan darat, sementara jarak yang akan ditempuh mencapai ribuan kilometer, maka bekal yang mesti  isiapkan pun harus memadai.

 

Setelah bekal dirasa cukup, keduanya pun berangkat naik haji. Dalam perjalanannya mereka banyak menjumpai pengalaman- pengalaman menarik. Termasuk ketika pasutri ini memasuki sebuah kampung yang kehidupan penduduknya begitu memprihatinkan. Penduduknya sangat miskin, kelaparan pun melanda hampir seluruh penduduk yang ada. Kondisi kampung yang menyedihkan itu menyentuh hati pasangan suami-istri ini. Tegakah keduanya membiarkan penduduk penghuni kampong tersebut mati kelaparan, sedangkan di tangan mereka berdua ada bekal, meskipun itu untuk perjalanan haji yang telah lama mereka impikan?

 

Dalam suasana prihatin, trenyuh, pasangan suami-istri ini pun terpikir untuk memberikan saja bekal haji yang tengah mereka bawa. Lalu mereka pulang. Sesampainya di rumah keduanya disambut oleh seseorang yang pakaiannya putih bersih. Orang yang belum mereka kenal
ini mengucapkan selamat bahwa mereka berdua telah diberkati Allah SWT memeroleh
haji mabrur. Tak hanya heran, pasangan ini pun menyangkal karena mereka merasa tidak
menunaikan haji. Namun orang yang tak dikenal itu tetap mengucapkan selamat kepada pasutri tersebut atas kemabruran haji mereka. Setelah menyampaikan ucapan selamat, orang asing yang berpakaian serba putih itu pun menghilang.

 

Menurut sebuah cerita, orang yang tidak dikenal itu adalah malaikat yang diutus Allah. Malaikat ini memberi kabar gembira kepada pasangan suami-istri bahwa sedekah yang diberikan kepada masyarakat yang kekurangan itu berarti mereka telah memeroleh haji mabrur. (Madjid, 1997: 69).

 

Apa sejatinya haji mabrur itu? Mari kita mulai menjawabnya dari segi semantik, yaitu dengan memahami makna kata mabrur itu sendiri. Kata “mabrur” dalam bahasa Arab dari kata “barra”, berbuat baik atau patuh. Dari kata barra ini kita bisa mendapatkan kata “birru, al-birr-u” yang artinya ‘kebaikan’. Jadi al-hajj al-mabrur artinya haji yang mendapatkan birr-un, kebaikan. Dari situlah kita mengartikannya sebagai ibadah haji yang diterima Allah. Dengan kata lain, haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikan atau haji yang (pelakunya) menjadi baik.

 

Lantas, bagaimana kita memahami makna birru dan haji mabrur kaitannya dengan cerita sufistik di atas? Dimana seseorang yang memberi bekal hajinya kepada mereka yang membutuhkan  tetap mendapatkan predikat haji mabrur, meski tidak jadi menunaikan ibadah haji. Langkah kepedulian pada sesama, lebih mementingkan sisi kemanusiaan daripada sisi religiusitas personal ternyata tidak kalah pentingnya dengan ibadah haji itu sendiri. Mari kita simak Surah Ali ‘Imran [3]: 92, yang penting kita pahami berkenaan dengan al-haj-u ‘l-mabrur dan kaitannya dengan kemanusiaan itu.

 

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa, “Kamu tidak akan mendapatkan kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu mendermakan sebagian dari hartamu yang kamu cintai.” Kalau kita berhenti pada ayat ini, maka seluruh perbuatan kita yang tidak mengacu pada pengorbanan harta untuk orang lain atau orang miskin atau kepentingan sosial itu menjadi bukan
al-birr-u, bukan kebaikan.

 

Nah, dengan demikian, al-hajj-u ‘l-mabrur itu adalah haji yang menjadikan orang setelah melakukannya, atau sekembalinya ia ke kampung tempat tinggalnya, memiliki komitmen sosial yang lebih kuat. Jadi meningkatnya komitmen sosial itulah sejatinya yang menjadi indikasi dari kemabruran. Yaitu, sebagimana dijelaskan oleh Nurcholish Madjid, sepulangnya melakukan haji, ia menjadi manusia yang baik, jangkauan amal dan ibadahnya jauh ke depan dan berdimensi sosial. (Madjid, 1997: 68).

 

Di sinilah kemudian betapa pentingnya iman dan amal saleh. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Harus ada keseimbangan antara habl-un min-allah dengan habl-un min-a ‘l-nas. Menurut Rasulullah, dalam sebuah hadis sahih, ia mengatakan: “Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur.” Oleh karenanya, al-hajj-u ‘lmabrur itu, ada kaitannya dengan amal saleh, ada kaitannya pula dengan al-salam- u ‘alaykum, ucapan selamat untuk mendoakan orang lain mendapatkan keselamatan dan rahmat Allah.

 

Dengan demikian orang yang hajinya mabrur akan terlihat, selain dari peningkatan
kualitas ibadahnya, juga bisa dilihat dari peningkatan kualitas amal salehnya. Maka, menjadi keprihatinan kita bersama, jika saban tahun jamaah haji kita meningkat, tetapi tidak diiringi dengan meningkatnya kepedulian sosial mereka kepada sesama, khususnya kepada fakir
dan miskin di sekeliling kita. Sudah semestinya, jika jamaah haji selalu meningkat jumlahnya, maka jumlah fakir dan miskin menjadi turun adanya karena uluran tangan mereka, yang telah
kembali dari menunaikan ibadah haji.

 

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”

Demikian sindiran Allah SWT yang tercantum dalam Surah al-Baqarah [2]: 267, bagi orang-orang yang dalam bersedekah tidak sebanding dengan harta yang dimilikinya. Semoga kita terhindar dari orang-orang yang demikian. Wallahu a’lam bi-al-shawab.

 

Ahmad Nurcholish, Dewan Pengasuh Pesantren Nusantara, Depok – Jabar.

 

  • view 1.2 K