Mengenang dan Meneladani Romo Ben

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Mengenang dan Meneladani Romo Ben

“Saya tidak pernah berbuat sesuatu untuk Tuhan dan saya tidak melayani Tuhan. Karena saya baru mampu berbuat untuk sesamaku manusia dan saya mengamalkan ajaran Yesus bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani” (Ben Santoso, 2016)

Kabar duka mengejutkan saya terima Senin (29/8) dini hari kemarin. Sahabat kami Romo Ben Santoso telah berpulang ke Rahmatullah, Tuhan Sang Mahadamai. Tak hanya terkejut, saya juga sangat kehilangan sosok bernama asli Benny Gunawan Sentosa ini.

Bagaimana tidak, sehari sebelumnya kami masih saling menyapa via media social, baik di facebook maupun WhatsApp (WA). Bahkan ketika membaca kabar tersebut via WA di grup yang kami miliki pada pukul 01.19 WIB, saya masih merasa itu candaan saja. Kami memang lebih banyak becandanya ketimbang seriusnya. Potret khas para pegiat lintas-agama yang tak lagi merasa tersekat oleh garis-garis primordial.

Baru ketika hari benar-benar pagi dan kabar itu terus bermumculan, saya benar-benar merasa kehilangan dan teramat sangat berduka. Petemuan sepekan sebelum lebaran lalu sungguh merupakan pertemuan terakhir kami dengan beliau. Saat itu saya menyempatkan diri berkunjung ke Jatim, Surabaya di antaranya untuk bertemu dengan teman-teman pegiat toleransi dan perdamaian.

Hari itu kami bertemu dari sore hingga dini hari pukul 02.00. Bersama teman-teman aktivis lainnya dari beragam latar agama. Ada yang dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), ada yang dari Ansor, ada yang dari Gus Durian, ada para aktivis budaya dan juga pemuda dari berbagai agama lainnya. Tak disangka, itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan beliau.

 Bagi Anda yang mungkin tak mengenal dekat dengan Romo Ben, barangkali beliau bukan siapa-siapa. Tapi bagi kami, beliau telah berbuat sesuatu yang berharga bagi kemanusiaan, khususnya dalam hal persaudaraan, kerukunan dan petdamaian di wilayah Jatim khususnya. Saya mengenang ada 3 hal penting yang patut kita teladani dari almarhum Romo Ben.

Pertama, sosok sederhana. Entah sudah sejak kapan saya mengenal beliau. Mulanya hanya melalui media social buatan Mark Zuckerberg, facebook.  Bertemu langsung pun baru sekali saat saya ke Surabaya sepekan sebelum lebaran itu.

Bagi saya, beliau  merupakan sosok sederhana. Kalau di facebook memang saya menyapanya dengan sapaan “Romo”, meski ia bukan seorang Pastor. Ia justru majelis gereja di GKI. Saya menyapanya Romo karena sudah sejak awal mengenalnya sudah memanggilnya demikian. Saat bertemu di Surabaya, beliau meminta saya untuk memanggilnya “Mas” saja. Tapi saya merasa tak enak. Sudah kadong nyaman dengan menyapanya Romo. Ya sudah, hingga sehari sebelum ia menghadap Sang Khaliq, saya tetap dengan sapaan Romo.

Kesederhaannya itu terlihat bagaimana ia mermbawa diri, bertutur kata santun dan selalu menjadi penganyom bagi orang-orang di sekitarnya. Khasnya lagi, seperti juga kami pada umumnya, selalu banyak jok dan canda yang senantiasa membuat hangat suasana.

Kedua, aktivis tak kenal lelah. Usianya memang baru 53 tahun. Masih tergolong muda untuk menghadap Sang Pencipta. Tapi begitulah garis hidup. Dia yang menentukannya. Dalam rentang usia itu nampaknya Romo Ben tak mau menyia-nyiakan waktunya begitu saja. Ia tak pernah lelah menginisiasi dan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, khususnya terkait dengan upaya-upaya kerukunan, toleransi dan perdamaian.

 Hal tersebut ia lakukan dengan menggandeng banyak kalangan dengan latar beragam provesi, etnis, agama atau keyakinan. Di Jatim ia sudah dikenal lama dalam hal ini. Jadi bukanlah sosok baru di dunia lintas-agama. Pergaulannya sangat luas. Dari mulai kalangan Kristen sendiri, juga kalangan Muslim, Katolik, Buddha, Hindu, dan Khonghucu.

Beliau juga dekat dengan kalangan pesantren, Ansor dan Gus Durian. Salah satu karib dekatnya adalah Gus Nizam (KH. Mohammad Nizam Ashshofa), pencipta Syi’ir Tanpo Wathon sekaligus pimpinan pesantren Ahlus-Shofa wal-Wafa, Sidoarjo, Jatim. Saat saya ke Surabaya sempat diajak juga berkunjung ke pesantren Gus Nizam ini.

Ketiga, penganyom bagi sesamanya. Romo Ben tak sekedar berwacana. Ia juga bertindak kongkrit bagi mereka yang tengah dirundung problematika. Teman-teman (calon) pasangan nikah beda agama kerap menjadikannya rujukan untuk sekedar berkeluh-kesah hingga memintanya mencarikan solusi bagi masalah mereka.

Rekan-rekan yang mengalami tindak intoleransi dan diskriminasi juga menjadikan Romo Ben sebagai tempat untuk megadukan permasalahannya. Tentu ia tidak bekerja sendiri. Romo Ben dengan sigap selalu menghubungkannya dengan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan penyelesaiannya.

 Salah satu karya monumentalnya adalah komunitas Roemah Bineka Tunggal Ika (RBTI) yang baru saja diinisiasi sebelum lebaran lalu dan kemudian dikukuhkan sebagai rumah bersama lintas-agama pasca lebaran berlalu itu. Ia memang bukan inisiator satu-satunya, banyak teman-teman lain yang turut berkontribusi. Tetapi, tanpa campur tangan Romo Ben rasanya RBTI tak akan sekuat dan sesolid saat ini.

 Oleh karena itu, RBTI adalah rumah warisan yang harus kita jaga bersama. Tugas kita adalah melanjutkan, mengembangkan dan membuatnya untuk lebih berkiprah bagi kemanusiaan dan perdamaian untuk Jatim khususnya dan untuk Indonesia pada umumnya.

Selamat jalan Romo Ben, kiprah panjenengan menjadi teladan yang baik bagi kami. Damailah di sisiNya..

 Ahmad Nurcholish, sahabat sesama pegiat toleransi dan perdamaian.

  • view 818