Dari Visi ke Aksi: Urun Rembuk untuk “Rumah Bhinneka Tunggal Ika”

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 28 Juli 2016
Dari Visi ke Aksi:  Urun Rembuk untuk “Rumah Bhinneka Tunggal Ika”

Pada tanggal 2 Agustus 2016 mendatang perhelatan penting akan digelar di Surabaya, Jawa Timur. Para penggiat (aktivis) toleransi dan perdamaian dari berbagai agama di Jatim akan mengadakan Kopdar sekaligus Halal Bihalal.

Mereka tentu tak sekedar temu darat, saling bermaaf-maafan sembari menyeruput kopi atau teh, lalu ngobrol ngalor-ngidul yang gaje (gak jelas), tapi juga ada agenda penting yang akan mereka bincangkan.

Pertemuan itu sendiri merupakan kelanjutan dari apa yang sudah mereka inisiasi selama ini. Sepekan sebelum lebaran lalu saya menyempatkan diri bertandang ke “markas” mereka di Surabaya. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan mereka dengan beragam latar. Ada yang dari Gus Durian, ada yang pegiat seni dan budaya, ada juga pendeta dan mejelis gereja, selain sejumlah aktivis lainnya yang membanggakan bagi saya.

Usai kongkow yang berlangsung mulai dari pukul 19.30 hingga 02 dini hari itu mereka langsung membuat grup di WhatsApp dengan brand Grup Bhinneka Tunggal Ika. Hingga hari ini anggota yang bergabung di grup buatan Yahudi  itu berjumlah 64 orang. Dan akan terus bertambah tentunya.

Nah, sebagai perhatian dan kecintaan saya terhadap komunitas tersebut, saya mau urun rembug dengan menyampaikan beberapa hal menjelang kopdar 2 Agustus mendatang itu. Sebagiannya sudah pernah saya sampaikan dalam grup Admin secara terbatas.

Pertama, samakan visi, perbanyak aksi. Meski belum dirumuskan secara formal, tapi saya yakin bahwa visi mereka yang bergabung dalam komunitas tersebut tidaklah berbeda. Ialah hidup bersama dalam keragaman, saling berbagi untuk kehidupan damai dan harmoni. Ini serapan saya saja mengamati dari jauh komunitas yang meski baru terbentuk tetapi orang-orang yang bergabung bukanlah “pemain” baru dalam isu-isu kebinekaan, toleransi dan perdamaian.

Karena itu, agar komunitas ini agak berbeda dengan komunitas sejenis lainnya, maka harus lebih banyak kegiatan atau program aksi di masa mendatang. Aksi jauh lebih menjawab sekaligus memberikan solusi bagi masyarakat yang membutuhkan. Terlalu banyak persoalan yang menjadi PR kita bersama. Dari mulai masih maraknya tindakan intoleransi, kekerasan atas nama agama, hingga belum terpenuhinya hak-hak sipil warga Negara, khususnya terkait dengan keyakinan mereka.

Maka, perlu aksi nyata dari berbagai pihak yang mampu mengurai persoalan-persoalan tersebut. Nah, komunitas ini harus berperan banyak dalam ranah itu. Pengkayaan wacana memang perlu. Ini bisa dilakukan kapan saja dengan beragam cara. Tapi aksi nyata harus dilakukan bersama-sama.

Kedua, inventarisir  potensi kita sebagai modal kekuatan. Setiap orang yang bergabung dalam komunitas ini tentu memiliki kapasitas, potensi diri, kemampuan dan pengalaman di bidang masing-masing. Inventariusr saja potensi-potensi tersebut. Dari situlah kita dapat gunakan sebagai modal kekuatan utama untuk beraksi.

Mereka yang memunyai pengetahuan terkait dengan kebinekaan, toleransi dan perdamaian bisa berperan untuk memperkaya persepektif kita bersama. Mereka yang punya skill memberikan advokasi hak-hak sipil warga Negara bisa menduplikasi skill tersebut kepada kita. Mereka yang punya skill di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, ini yang mungkin sangat dibutuhkan. Mereka yang memiliki jaringan luas, ayok manfaatkan untuk memperkuat kerja-kerja kita ke depan.

Semua potensi tersebut menjadi kekuatan bagi kita untuk bersinergi lalu beraksi nyata. Jadi tak perlu dicari-cari apa yang tidak kita punyai. Cukup saja sementara dengan menggali potensi yang ada, lalu kita kembangkan dan manfaatkan.

Ketiga, manfaatkan jaringan. Apa yang tidak kita miliki? Ada Romo Bens yang tidak pernah mengenal lelah. Ada Pak Iryanto teman karib Romo Bens yang selalu setia mengantar ke mana-mana. Ada Mbak Nur dan Mas Johanes yang selalu memotivasi teman-teman lainnya. Ada Gus Nizam dengan pesantren, bisnis usahanya dan ribuan jamaahnya. Ada Gus Zen dengan anggota Gus Durian-nya. Ada Gus Cheng Ho Jadi dengan komunitas seni-budayanya. Ada Habib Michael, calon Romo yang alim dengan segudang ilmunya. Ada Gus Aan Anshori dengan segudang pengalaman advokasinya. Dan teman-teman lainnya dengan seabrek jaringannya.

Jaringan tersebut  bisa menjadi stake-holder bagi komunitas ini sehingga memudahkan kita untuk bekerja dan berkarya. Gus Nizam sudah membuka diri untuk menggunakan pesantrennya kapan saja. Gus Cheng Ho juga demikian. Café Pamelan juga menjadi tempat kongkow menyenangkan yang bisa digunakan kapan saja. Kurang apa lagi?

Keempat, mulailah dari yang kita bisa. Kabarnya, usai kopdar 2 Agustus mendatang juga akan dihelat semacam raker (rapat kerja) untuk merancang kegiatan-kegiatan lanjutan. Menurut saya tidak perlu muluk-muluk. Kita mulai saja dengan apa yang bisa kita  lakukan sesuai potensi yang ada. Jangan pernah merancang program yang sulit untuk kita realisasikan. Itu namanya nyiksa diri… hahaha…

Beberapa proposal dan gagasan yang pernah saya sampaikan bisa mulai diadopsi, diadaptasi sesuai kebutuhan di lapangan. Kalau toh belum bisa, kita mulai saja dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya dengan saling mengunjungi ke tempat atau komunitas masing-masing. Tak kenal maka tak saying, begitu katanya. Maka mengenallah lebih mendalam dengan saling mengunjungi. Siapa tahu dari situ kemudian terinspirasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan lanjutan. Begitu saja. Sederhana bukan?

Kelima, yang penting proses, bukan hasil. Banyak orang frustasi dan stress karena selalu focus pada hasil. Focus pada hasil memang penting. Tetapi melulu pada itu juga tidak baik. Apalagi dalam kerja-kerja social, bagi saya yang penting adalah proses. Usaha kita yang tidak mengenal lelah itulah yang justru akan selalu membuat kita selalu bersemangat. Soal hasil, kita nikmati saja secara mengalir. Hasilnya tercapai dengan baik ya syukur. Kalau belum, itu artinya PR kita masih banyak. Begitu saja!

Wah, koq jadi panjang bingits, ya… Sudah, cukup 5 saja, biar klop dengan sila Pancasila, dasar Negara kita yang sudah mulai dilupakan oleh sebagian dari kita…

Selamat berkarya teman-teman semuanya… semoga berkah senantiasa. GBU all..

Ahmad Nurcholish, provokator mewujudkan perdamaian.

 

  • view 559

  • Heri Setiawan
    Heri Setiawan
    1 tahun yang lalu.
    Semoga sukses ya Gus acaranya, senang sekali membaca tulisan ini, semoga tidak lebay jika saya katakan saya sangat berharap bisa melihat pelangi di dalam kemarau panjang in-toleransi di negeri ini, semoga Panjenengan dan sahabat2 di sana, bisa menjadi awan yang meneduhkan teriknya diskriminasi, menjadi hujan yang menyejukkan dahaga kebersamaan dan menjadi pelangi dalam kegelapan perbedaan. Sangatlah mungkin apabila group atau komunitas ini nanti akan diuji oleh internalnya sendiri, barisan yang berisi cerdik pandai tentu memiliki potensi argumentasi yang kuat dari sudut pandang keilmuannya masing-masing, yang rentan berbenturan manakala LEGOWO di dalam hati tidak diperankan menertibkan ilmu di dalam akal. Selamat berjuang buat dulur-dulur di rumah Bhinti..Damai di bumi, Jaya di langit.