Memahami Akal dan Cinta

Ahmad Nurcholish
Karya Ahmad Nurcholish Kategori Agama
dipublikasikan 19 Juli 2016
Memahami Akal dan Cinta

Dalam bahasa Arab, kata ‘aql berarti kecerdasan, lawan kebodohan, kekuatan manusia yang membedakan dengan semua jenis hewan dan tumbuhan. Aql juga berarti mengikat. Maksudnya, akal dapat membatasi dan memikirkan masalah yang dihadapi manusia untuk mengetahui bentuk kata benda mana yang harus dikerjakan dan dijauhi. Pepatah Melayu yang tepat merujuk ini, “mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akalnya”. Jika tali dipakai untuk mengikat unta agar tak lari, manusia mengikat dengan akal agar tak lepas mengikuti hawa nafsu semata.

Kata aql  dalam Alquran tak ditemukan dalam bentuk kata benda (isim). Katanya berbentuk aktif  (fi’il): al-aqaluh (seayat), ta’qilûn (24 ayat), na’qilu (seayat), ya’qiluha (seayat), dan ya’qilun (22 ayat). Artinya, paham dan mengerti.

Sebelum Islam datang di jazirah Arab, kata akal digunakan untuk merujuk arti “kecerdasan praktis” (practical intelligene) – “kecakapan memecahkan masalah” dalam psikologi modern. Perkembangan berikutnya, maknanya berubah. Di antaranya karena pengaruh filsafat Yunani dalam perkembagan pemikiran Islam. Makna aql serupa dengan kata –dalam bahasa Yunani-- “nous”, yakni daya pikir dalam jiwa manusia.

Macam-macam ulama dan ahli merumuskan pengertian. Misalnya Ibnu Khaldun. Kata aql, akal adalah timbangan yang cermat yang hasilnya adalah pasti dan dapat dipercaya. Ibrahim Mustafah dalam al-Mu’jam al-Wasith memberikan penjelasan bahwa: “Akal ialah apa yang dengannya dapat dibedakan yang indah dari yang buruk, orang baik dari yang jahat, dan hak dari yang batil”.

Dari beberapa pengertian di atas (dalam arti bahasa), maka kita memperoleh suatu gambaran bahwa walaupun berbeda lafadznya, tapi apabila dikembalikan kepada akar katanya baik yang mengandung arti memahami, mengingat dan merenungkan, hal tersebut merupakan daya yang terdapat pada manusia sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang mewujudkan dalam bentuk kreasi.

Kita dapat menarik kesimpulan bahwa akal merupakan suatu alat utama untuk memahami dan memikirkan berbagai fenomena yang dihadapi oleh manusia, yang terdapat dalam jiwa manusia itu sendiri sebagai makhluk Allah yang tertinggi kedudukannya dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena dengan itu manusia dapat merenungi berbagai masalah yang sedang dihadapi dan akan ditemukan dalam kehidupan ini. Sebab geraknya melahirkan niat dan tujuan terkutuk. Dengan kata lain bahwa dengan akallah manusia dapat bermutu, berkarya dan berbudaya untuk memenuhi kebutuhannya dalam kehidupan ini.

Maka tak diragukan lagi bahwa perilaku manusia dalam berbagai bentuknya berkaitan dengan akal (dan perasaannya). Namun, sebagaimana pertanyaan yang dilontarkan oleh Al-Buthy, bagaimana cara akal dan perasaan itu mengendalikan manusia? Bagaimana proses terjadinya koordinasi antara keduanya dalam melahirkan hokum dan perilaku? Apakah terjadi koordinasi secara nyata antara keduanya? Jawabannya, peran akal dalam masalah ini sebatas menyingkap dan menunjukkan, seperti halnya peran lampu di bemper depan mobil. Sementara itu, perasaan berperan mendorong untuk melahirkan perilaku, seperti halnya bensin pada kendaraan kita.

Rasa takut maupun rasa hormat dan kagum serta rasa ketergantungan yang berlebih-lebihan ini akan mudah dikontrol, bahkan bisa dicegah, jika manusia mau dan mampu memanfa'atkan dua fasilitas yang hanya dikaruniakan oleh Allah sebagai ni'mat-Nya yang tertinggi kepada manusia. Oleh karena itu kedua fasilitas ini sangatlah penting artinya bagi manusia. Keduanya itu adalah akal dan rasa yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Dengan 'akal ini manusia bisa menimbang, menganalisa, memahami, dan akhirnya membuat atau menentukan pilihan yang paling baik untuknya. Sedangkan dengan fasilitas rasa, manusia akan mampu meresapkan dan/atau menciptakan keindahan, menghayati dan/atau menggubah kesenian. Dengan mengembangkan nikmat rasa, manusia akhirnya bisa menjadi pencinta kebenaran, keindahan atau kesucian, dan keadilan; bukan sekedar menjadi penuntut kebenaran (hak) dan keadilan.

Nikmat rasa, jika berkembang subur, juga akan menjadikan manusia mampu menghargai (appreciate) keseimbangan dan keharmonian, bahkan akan meningkatkan watak manusia yang sungguh-sungguh mengembangkannya (baca: mensyukurinya) menjadi manusia pengasih, penyayang, pencinta yang senantiasa rindu dan terikat (committed) kepada kebenaran, keseimbangan, keserasian dan keadilan. Kerinduan dan keterikatan (commitment) kepada kebenaran dan keadilan ini bisa sedemikian rupa kuatnya, sehingga ia siap berkorban, kalau perlu, untuk memperjuangkan dan mempertahankannya. Inilah pula landasan daripada iman, serta penyebab utama tumbuhnya watak khusyu' atau 'asyik (rindu) akan "Kebenaran Mutlak" (Al-Haq).

Bagi Al-Buthy, terkait dengan hubungan akal dan rasa, dalam fitrah kehidupan manusia, biasaya perasaan mengawasi keputusan akal. Oleh karena itu, takdir Ilahi menghendaki agar manusia diarahkan kepada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah, seperti menikah, mendidik anak, makan dan minum, serta menjaga hak milik dengan segenap rasa cinta sehingga tidak ada kebencian dalam melaksanakan fungsi tersebut. Dengan demikian, terjalinlah sinergi antara keinginan dan kewajiban tanpa diperlukan bimbingan atau aturan perundang-undangan, misalnya pernikahan.

Sinergi antara akal dan cinta inilah yang merupakan ‘persenggamaan’ spiritual yang menuntun manusia menghasilkan perilaku serta karya-karya terbaiknya. Energy cinta yang meluap dari dalam dirinya akan senantiasa memberikan aura positif bagi yang dicintai dan bagi yang mencitai sekaligus. Simbiose mutualisme (hubungan timbal-balik – saling memengaruhi) ini juga terjalin antara manusia dengan Sang Khaliq-nya.

Dalam hal ini Al-Hallaj menerangkan adanya hubungan timbal balik antara cinta Tuhan dengan cinta makhluk-Nya melalui term penglihatan (ru’yah) dan pendengaran (sama’). Cinta Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya bermuara pada penglihatan terhadap mereka di dalam diri-Nya sendiri, di mana mereka identik dengan diri-Nya. Dia melihat mereka melalui “perbendaharaan yang tersembunyi“ (kanzan makhfiyan), sehingga Dia ingin dikenal. Cinta makhluk terhadap Khaliq–Nya berasal dari pendengaran akan firman “jadilah” yang kemudian menjadikan mereka terwujud.

Lebih lanjut Al-Hallaj mengatakan, “Sebagaimana cinta kita kepada-Nya, asalnya adalah ‘pendengaran’ bukan ‘penglihatan’. Ia adalah firman-Nya kepada kita-sementara kita berada dalam substansi awan-“jadilah”. Dalam hal ini, awan berasal dari nafas-Nya, sementara bentuk-bentuk yang disebut kosmos berasal dari firman-Nya ”jadilah”, karenanya kita adalah firman-Nya yang tidak tertulis. Ketika kita mendengar firman-Nya, sementara kita berada dalam substansi awan, kita tidak bisa menarik diri dari eksistensi. Kita menjadi bentuk-bentuk yang berada di dalam substansi awan. Melalui pengejawantahan kita di dalam awan, Dia memberi kita wujud awan. Sesuatu yang mewujud berarti telah memperoleh wujud. Inilah asal dari cinta kita kepada ”Tuhan”.

 Karakter cinta biasanya selalu egois dan berorientasi diri, namun ini tergantung diri macam apa yang dimaksud. Jika perasaan cinta yang ada pada seseorang ditujukan untuk Tuhan, sebetulnya dia mencintai Tuhan itu adalah demi kegembiraan dan kebahagiaan yang dirasakannya sendiri. Demikian juga jika cintanya untuk seseorang, cinta tersebut adalah demi kegembiraan dan kebahagiaannya sendiri. Namun demikian, hal seperti ini bukanlah suatu kesalahan, karena cinta alamiah semacam ini sepenuhnya pembawaan manusiawi.

Dengan demikian, menjaga agar akal dan cinta senantiasa ‘bersenggama, merupakan hal yang teramat penting dalam ranah kehidupan. Al-Buthy bahkan menandaskan bahwa dari akal itu pulalah iman bermuara. Iman, menurutnya, adalah keyakinan akan secara mantap terhadap hakikat iman kepada Allah Swt., sedangkan amal saleh adalah perilaku yang lahir dari hakikat iman. Sementara peran cinta dalam kehidupan manusia itu ada kalanya mewujudkan keimanan ke dalam perilaku sehari-hari (amal saleh). Amal saleh inilah yang membedakan kita dengan manusia lainnya sebagai orang yang bertakwa, bukan karena merk agama kita. [ ]

Ilustrasi: www.ellasofa.com

Ahmad Nurcholish, penulis buku “Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama” (Elexmedia, 2015)

 

  • view 726